Meninjau Kembali Kurikulum Pendidikan Kita

Siapa yang menanam akan memetik, bukan lagi hal yang istimewa bagi telinga kita. Tetapi yang terjadi justru yang menanam bukan yang memetik, dan mereka yang menikmati hasilnya bukanlah orang yang menanam. Diantara menanam dan memetik, ada suatu proses yang disebut memelihara, menjaga agar nantinya dapat dipetik serta dinikmati hasilnya. Demikian adalah konsekuensi logis dalam kegiatan pertanian. Selain menggambarkan suatu tuntutan tanggung jawab untuk merawat apapun yang ditanam, juga menerima kenyataan bahwa tidak menanam maka tidak memetik.

Menanam jika diartikan dengan konsepsi yang lebih luas, bukan hanya menanam biji jagung. Proses pendidikan dengan segala seluk beluknya terkait dengan ungkapan di atas, bisa dianggap kegiatan menanam yang pada saatnya nanti akan menuai hasil panen. Berbagai mata pelajaran, mulai dari Matematika, Bahasa dan Sastra, Sains, Agama, PPKn, dan Kesenian, diajarkan sebagai muatan dan tuntutan kurikulum, hanya saja dengan porsi yang belum bisa dikatakan proporsional. Hal ini bukan tanpa dasar. Tanpa dibuktikan dengan penelitian ilmiah pun, jutaan penduduk Indonesia akan mengakui hari-hari sekolah mereka menerima pendidikan yang “berat sebelah”. Matematika dan Bahasa (Indonesia) mempunyai frekuensi tertinggi dalam 1 minggu (6-8 jam pelajaran), diikuti Sains, selanjutnya PPKn, Agama, dan Kesenian. Mengingat jumlah materi menurut tuntutan kurikulum, hal ini bisa saja dibenarkan, dengan Ujian Nasional yang hanya bermuatan mata pelajaran berfrekuensi tinggi tersebut yang semakin menguatkan pembagian porsi semacam itu memang harus dilaksanakan.

Keseimbangan Otak

Secara garis besar, otak manusia dapat dibagi menjadi otak kiri dan otak kanan, di mana otak kiri yang “berisi” logika matematis, dan otak kanan berkaitan dengan estetika. Kedua belahan otak tersebut tentu saja harus diperlakukan seimbang jika ingin melihat perilaku yang seimbang. Melihat kenyataan, penekanan yang dilakukan oleh pendidikan kita hanyalah pada otak kiri. Mata pelajaran Seni Rupa, Seni Musik, Ketrampilan Tangan, selain mendapatkan porsi yang demikia sedikit, juga mendapatkan reduksi menjadi satu Mata Pelajaran-Kesenian-saja. Belum melihat dari sisi Teknik Pengajaran menurut Psikologi Belajar Kogntif, Behavioristik, Kompetensi Staf Pengajar, penyediaan fasilitas pendukung, dan Jumlah siswa perkelas, sudah jelas yang terjadi masih jauh mendekati proporsi yang semestinya. Proses Pendidikan semacam ini berjalan mulus dalam jangka waktu yang lama.

Petikan Sebuah Hasil Pendidikan

Demikian lama proses menanam dan memetik silih berganti, sampai sekarang kita masih menanam sekaligus dapat merasakan hasilnya. Dalam konteks kekinian, apa yang terjadi tidak bisa lepas dari pengaruh proses pendidikan yang sebelumnya dijalani. Bermula dari semasa kanak-kanak, semenjak SD anak dibebani dengan kurikulum yang serba berlebih pada otak kanan mereka. Menilik dari sudut pandang Psikologi perkembangan, tuntutan perkembangan masa kanak-kanak adalah masa bermain yang bertujuan mengembangkan kreativitas. Dengan porsi pendidikan yang penuh angka, tak ayal berkembang prinsip barang apapun jika tidak disederhanakan dalam formula matematis (rumus), maka ia bukan ilmu pengetahuan yang berakibat runtuhnya pandangan amggapan pencipta seni sebagai orang yang memiliki kecerdasan. Bahkan pelaku seni dengan mudah merendahkan hasil karya pelaku seni lainnya, bisa jadi merupakan bagian dari ketimpangan.

Seperti yang dikatakan oleh Ludwig Wittgeinstein “bahasaku adalah batas duniaku” maka bahasa yang terbentuk melalui pembiasaan kurikulum tentu tidak jauh-jauh dari bahasa yang bersifat kuantitatif. Demonstrasi massa, tawuran pelajar, kekerasan komunal, sikap tidak jujur, membudayanya kecurangan sistemik (korupsi, kolusi, nepotisme), mudah saja terlihat dalam berita daerah dan nasional. Bukankah para pelakunya merupakan produk pendidikan yang diawali dari jenjang Sekolah Dasar? “Bahasa” yang kita kenal melalui pembiasaan dan proses pendidikan akhirnya terinternalisasi, menciptakan “dunia” dengan pertimbangan-pertimbangan logis-matematis. Mengharuskan variable-variabel yang pasti, menafikan dunia sesungguhnya adalah tempat ketidakpastian.

Satu pertanyaan Abraham Maslow yang pernah diungkapkan, “mengapa pendidikan kita mencurahkan perhatian begitu banyak pada angka-angka, nilai, kredit, dan ijazah, bukannya memusatkan perhatian pada pemahaman?” agaknya perlu ditinjau kembali.

0 komentar:

Posting Komentar