Spongebob SquarePants Bentuk Kritik 'Degradasi Cara Makan'

"Pada saat saya sedang pergi ke sebuah daerah terpencil, saya sangat terkejut karena di daerah saya melihat seorang gadis kecil sedang menggunakan tas bergambar spongebob squarepants" --- ya itulah  sebuah ungkapan yang keluar dari seorang Stephen Hillenburg, kartunis di balik terciptanya kartun spongebob squarepants, patrick star, Mr. Krab, Squiward tenpoles (maksudnya tentacles), dan teman teman lainnya. 




Memang saat ini siapa yang tidak kenal dengan kartun spongebob squarepants? Sebuah kartun dengan tokoh utama sebuah 'spon kuning' yang dapat berbicara ini telah menjadi salah satu tayangan favorit bagi semua orang, dari anak-anak sampai orang dewasa (termasuk saya). Cerita yang dibawakan cukup ringan dengan tingkah-tingkah konyol dan lugu yang ditunjukkan membuat banyak orang yang melihatnya cukup terkesan. Siapa yang menyangka bahwa kartun unik yang satu ini telah diterjemahkan ke dalam dua puluh lima bahasa serta menjadi acara televisi anak nomor satu di Jerman dan Cina sejak pertama kali ditayangkan pada tahun 1999. Bahkan, Presiden Barack Obama pun menyatakan bahwa Spongebob merupakan salah satu karakter televisi favoritnya. 

Akan tetapi, dibalik keluguan dan kelucuan tingkah laku kocak berwarna kuning ini, tersimpan sebuah muatan filosofis di dalamnya, terutama mengenai adanya 'degradasi cara makan'. Istilah 'degradasi cara makan' pertama kali diperkenalkan oleh George Ritzer dalam bukunya yang berjudul The Globalization of Nothing. Pada bukunya tersebut ia mengkritik fenomena konsumerisme masyarakat modern terhadap 'makanan cepat saji'. Menurutnya, cara-cara penyajian yang dilakukan untuk membuat makanan ini untuk para pelanggannnya tidak berbeda dengan cara peternak memberi makan hewan ternaknya. Kondisi tersebut dikarenakan dominannya prosedur teknis dalam proses penyajian makanan, segala sesuatu telah diukur secara pasti; racikan bumbu, lama penggorengan hingga bentuk penyajian dari makanan. Seakan, segala sesuatu yang berkenaan dengannya hanyalah prosedur teknis semata, tak ada yang lain. 

Yap terkait dengan hal tersebut, spongebob dengan cara memasaknya yang khas di Krusty Krab nampaknya berupaya meminimalisir potensi-potensi terjadinya 'degradasi cara makan' pada pelanggannya. Seperti yang sering kita lihat, banyak scene kartun tersebut yang menunjukkan betapa spongebop memasak dengan 'hati' (re: perasaan). Dirinya menyadari sepenuhnya filosofi dari memasak, bahwa apa yang dibuatnya adalah untuk manusia, dan melalui apa yang disajikannya terbersit pula harapan darinya untuk membahagiakan orang lain (re: pelanggan -- bukan sekedar menempatkan mereka dalam sebuah hitungan untung/rugi, ataupun objek yang dapat dieksploitasi sekenanya. Dengan demikan, dapat diselidiki disini bahwa aspek 'hati' (re: perasaan) lebih bermain daripada aspek 'teknis-prosedural'. Hal inilah yang kiranya mampu menempatkan tayangan Spongebob Squarepants sebagai salah satu bentuk kritik terhadap degradasi cara makan di era modern.

Flash Mob : Masihkah Menjadi Ekspresi Kekuatan Sosial?

Ya, bukan menjadi sebuah rahasia saat ini bahwa flash mob sudah menjadi salah satu cara seseorang untuk mengekspresikan diri mereka. Secara harfiah flash mob di definisikan sebagai sekumpulan orang yang berada di tempat umum, lalu secara tiba-tiba melakukan hal-hal unik serta tidak biasa dan segera membubarkan diri dengan cepat. 

Nih video buat yang mau liat flash mob. It's look awesome...




Namun secara sederhana flash mob bisa diartikan sebagai sebuah bentuk aktivitas sosial yang melibatkan sekumpulan orang untuk melakukan suatu kegiatan tertentu secara terorganisir dan terencana sebelumnya dalam ruang publik. Kegiatan yang dilakukan macam-macam jenisnya, seperti yang ada di video mereka melakukan tarian bersama-sama, ada pula yang berupa tepuk tangan secara serempak, teriakan, melakukan akting seperti meniru gerakan robot. 

Flash mob pertama kali diperkenalkan oleh seorang editor dari majalah Harper's yaitu Bill Wasik pada tahun 2003. Dirinya merencanakan aksi tersebut di sebuah pusat perbelanjaan di kota Manhattan. Namun, pada percobaan pertama kalinya ia gagal melakukan flash mob karena kebocoran informasi, pihak pusat perbelanjaan pun bergegas mengantisipasi rencana Wasik segera setelah mengetahuinya. 

Pada dasarnya secara lebih jauh, flash mob tidak berorientasi pada aksi politik, protes maupun pertunjukan jalanan komersial. Para pelaku flash mob melakukannya dengan cuma-cuma alias tanpa bayaran. Pengorganisiran mereka pun dilakukan melalui media jejaring sosial dunia maya seperti facebook, twitter, email berantai hingga komunitas blog. Secara eksplisit, hal tersebut menunjukkan betapa flash mob menjadi salah satu bentuk kekuatan sosial di masyarakat. Di negara-negara Barat contohnya, dimana masyarakatnya dikenal sebagai seseorang yang memiliki individulisme tinggi, komunitas flash mob ini seakan menjadi sebuah angin segar. Para flash mobber berhasil membuktikan bahwa sekalipun masyarakat mereka sangat individualistik, namun masih ada kekuatan sosial yang terdapat didalamnya. 

Namun demikian, suatu hal yang kiranya patut disayangkan dari perkembangan flash mob dewasa ini adalah adanya pergeseran pada bentuk aktivitas sosial kini menjadi komersial. Para flash mobber tidak lagi melakukan aksinya dengan sukarela, melainkan dibayar guna memasarkan beragam produk konsumtif, baik secara langsung di berbagai ruang publik masyarakat maupun dalam iklan-iklan layar kaca sebagaimana yang sering kita lihat akhir-akhir ini. Tegas dan jelasnya, saat ini flash mob telah termonetisasi (diperjualbelikan) sedemikian rupa. Ya, sesuai dengan judul dari tulisan ini pertanyaan yang muncul adalah masihkan flash mob menjadi salah satu bentuk ekspresi kekuatan sosial di masyarakat ?

Salah Arah Para 'Glory Hunters'

Berbagai liga-liga di Eropa saat ini sudah mulai memasuki musim baru setelah kurang lebih sekitar 2 bulan lamanya kompetisi diliburkan. Saling sindir, saling hina, twit war menjadi salah satu ritual akhir pekan yang tidak dapat dihindarkan oleh para ribuan fans sepakbola. Persaingan sengit tidak hanya dirasakan oleh tim-tim klub sepakbola tapi juga para pendukungnya. Baik yang berada di Eropa sana maupun para pendukung yang tinggal ribuan mil dari klub kesayangannya. 


Suatu fenomena yang cukup menggemaskan adalah ketika para penikmat sepakbola ini mulai melabeli satu sama lainnya antar pendukung dengan sebutan glory hunters. Menjadi suatu hal yang dianggap lumrah bagi para pendukung Liverpool yang klubnya terakhir juara ketika George Bush Senior masih menjadi Presiden Amerika Serikat, untuk melabeli para fans Manchester United sebagai glory hunters. 

Para pencinta Manchester United juga ga akan mau kalah dan mensematkan para fans Chelsea dan Manchester City sebagai seorang glory hunters. Sedangkan bagi fans Arsenal, yang hingga kini sudah 7 tahun tanpa mampu memenangi apa-apa, merasa bangga karena diri mereka bukanlah seorang glory hunters dan menyematkan label itu pada fans United. Fans Arsenal tak bisa menuding fans Liverpool, mereka sudah lama-lama tidak mendapatkan gelar juara liga. Namun, saat ini sepertinya para penggemar klub-klub di Eropa khususnya Liga Inggris mungkin setuju bahwa label glory hunter saat ini paling pantas di sandang untuk para pendukung Manchester City. Well, semuanya merasa dirinya sebagai seorang suporter sejati. 

Munculnya Para 'Glory Hunters'
Istilah glory hunters mulai dikenal pada sekitar medio tahun 90-an beriringan dengan mendunianya kompetisi liga inggris atau biasa di kenal sebagai Barclays Premier League. Secara harfiah Glory Hunter diterjemahkan sebagai pemburu kejayaan. Kejayaan identik dengan trofi untuk sebuah kompetisi sepakbola. Maka Glory Hunter bisa juga disebut pemburu trofi. Ini makna dasarnya yang dapat kita sepakati. Nah sekarang apakah semua klub sepakbola mesti menjadi Glory Hunter? Tentu semuanya berambisi untuk menjadi juara, mendapatkan trofi. Namun dari 20 klub yang berlaga di EPL setiap musim, hanya ada satu yang bisa menjadi juara EPL. Dan sejak Premier League bergulir di pertengahan 90-an, hanya 5 klub yang pernah menjadi juara (MU, Blackburn Rovers, Arsenal, Chelsea dan Manchester City). Lima belas dan lebih klub lainnya (termasuk yang terdegradasi) hanya bisa berambisi tanpa pernah merealisasikan ambisinya. Ekspektasi pun diturunkan, masing-masing klub akan memiliki ekspektasi internal. Mulai dari asal bertahan di EPL, lebih baik posisinya di klasemen daripada musim sebelumnya, mengincar papan tengah, mengincar posisi 4 besar, sampai yang benar-benar mengincar trofi juara.


Sorotan media yang sangat besar dengan kuantitas tayangan langsung keseluruh dunia yang semakin banyak membuat liga ini menjadi salah satu kompetisi terbaik di Eropa, bahkan salah satu yang terbaik di dunia. Beriringan dengan meningkatnya citra dan jangkauan yang semakin meluas, maka muncullah banyak penggemar baru klub sepakbola Eropa di negara lainnya, termasuk wilayah Asia. Berlainan dengan asal muasal suporter tradisional yang mendukung suatu tim karena faktor geografis atau demografis, fans-fans baru yang bermunculan ini mendukung tim tergantung siapa yang mereka lihat di televisi. Lazimnya manusia yang selalu ingin diasosiasikan dengan yang terbaik, maka lumrah bagi fans sepak bola jenis ini untuk mendukung tim yang mereka anggap bermain baik. Tidak ada kelekatan sejarah atau primordia karena memang terpaut jarak antara domisili mereka dengan klub-klub itu di tanah asalnya.

Standar yang menentukan untuk memilih tim sebenarnya cukup mudah, orang yang baru menonton sepakbola dan memutuskan untuk menyukainya akan dengan mudah dan cepat tertarik pada tim yang sedang berjaya ataupun menjadi juara pada musim tersebut. Well, tentu saja hal ini merupakan suatu hal yang wajar karena tidak ada faktor kedekatan apa-apa antara fans sepak bola kasual yang menyaksikan beribu-ribu kilometer jauhnya dari stadion lewat televisi dengan kota tempat klub tersebut berasal.

Nah, istilah glory hunters sendiri digunakan untuk mendeskripsikan fans sepak bola musiman yang tim kesayangannya berganti-ganti tergantung siapa yang sedang berjaya. Contohnya, pada akhir tahun 90-an, mendukung Manchester United, pertengahan medio 2000-an mendukung Chelsea, dan sekarang menjadi fans Barcelona. Ini adalah kasus ekstrim dan walaupun terdengar tak mungkin, saya kenal beberapa orang seperti ini. Fenomena glory hunters ini tidak terelakkan ketika modernisasi sepak bola terjadi dan olahraga ini merambah masuk ke budaya populer. Lapisan suporter tradisional mendapat kawan baru dengan masuknya penggemar-penggemar sepak bola kelas sofa yang meskipun berbagi keriaan, belum tentu berbagi sentimen emosional.

Glory Hunters kerap diasosiasikan dengan penonton sepak bola Eropa dari Asia karena memang di sinilah basis penggemar sepak bola jenis baru yang muncul setelah globalisasi sepak bola. Sepak bola Inggris, contohnya, adalah isu lokal bagi orang Inggris sampai ketika Premiership dan Sky Sports muncul menjadikannya isu global lewat siaran televisi. Maka wajar bagi anak-anak yang tumbuh besar di medio 90-an seperti saya untuk menggandrungi Manchester United. Demikian juga dengan mereka yang beranjak besar pada tahun 2000-an dan saat mereka menyalakan TV, mereka mendapati Chelsea sedang di puncak.

Tak sedikit juga orang yang memutuskan menjadi fans Arsenal pada musim 1997/1998 atau ketika era The Invincibles tahun 2004. Suporter Liverpool yang berusia dewasa, bukankah banyak dari mereka yang mulai menggemari pada dekade 1980-an, saat klub Merseyside tersebut sedang berjaya. Kita semua ingin diasosiasikan dengan kejayaan, atau setidaknya romantisme di saat dulu kita pertama kali melekatkan diri pada kejayaan.

Maka dari itu karena fans sepakbola tidak bisa mengupayakan glory tapi bisa menikmati glory, maka glory hunter adalah fans sepakbola yang berupaya untuk terus dapat menikmati glory setiap musimnya. Bagaimana caranya? Tidak lain adalah dengan cara berpindah klub yang didukung setiap musimnya. Dukung klub yang pada musim ini kira-kira kans juaranya paling besar dan bisa memberikan glory untuk fans. Jadi fans glory hunter ini bisa berganti klub setiap musim. Konyol bukan? Namun fans seperti ini benar-benar ada. Musim kemarin dukung United, musim ini dukung City karena Man City disinyalir lebih berpeluang juara. Dulu dukung Barca, sekarang dukung Madrid. Fans seperti inilah yang disebut glory hunter.

Makna Dari Sebuah Kemenangan (Glory)
Namun pada realitanya masing-masing pemain bola memiliki ekspektasi internal yang berbeda-beda sesuai kemampuan dan tempat bermainnya. Ada yang asal dapat kontrak yang lebih baik daripada sebelumnya, ada yang asal bisa bermain di EPL, ada yang ingin masuk timnas, dan tentu ada yang ingin menjadi juara. Mereka semuanya glory hunter, tapi glory di sini tidak selalu identik dengan trofi. Glory bisa juga berupa pemujaan dari fans karena mereka adalah pemain terbaik di klubnya, walaupun klubnya konsisten pengisi papan bawah klasemen. Glory bisa juga berarti kontrak baru yang mencapai nilai jutaan poundsterling per tahun, yang menempatkan mereka sebagai salah satu orang terkaya di daerahnya. Dalam setiap pertandingan tentu semua pemain ingin menang. Namun kekalahan bukanlah akhir kehidupan. Menang dan kalah tidak ditentukan sendiri, ada 22 pemain sepakbola di lapangan dan kontak antara 22 pemain tersebut dengan 1 bola itu yang menentukan hasil pertandingan.
Nah bagaimana dengan fans sepakbola? Fans sepakbola, walaupun sering disebut sebagai pemain ke-12 dalam satu pertandingan pada nyatanya sangat minim kontribusinya dalam hasil akhir sebuah pertandingan. Fans sepakbola bisa berteriak sampai suaranya habis dan timnya tetap kalah. Fans sepakbola tidak ikut bertanding, pada nyatanya ia hanya menonton pertandingan. Ia mendukung agar pemain-pemain klubnya bisa extra semangatnya. Namun apabila kemampuannya memang di bawah kemampuan lawan yang kondisinya prima, kekalahan tidak terelakkan. Fans sepakbola tidak memiliki keterlibatan aktif dalam menentukan hasil akhir pertandingan. Seorang wasit bahkan lebih “aktif” daripada fans sepakbola dalam hal ini (terutama wasit di liga yang diatur hasilnya), walaupun ia cukup meniup peluitnya tanpa harus berteriak.
Fans sepakbola tentu ingin klubnya mencapai hasil maksimal, yaitu juara. Namun ekspektasi fans juga berbeda-beda. Fans Blackburn yang pernah juara EPL misalnya, sekarang hanya akan berharap klubnya bisa sesegera mungkin promosi ke EPL. Fans Wigan akan berharap klubnya tidak terdegradasi tahun depan. Fans Liverpool yang mendominasi Liga Inggris tahun 80-an sekarang hanya berharap klubnya bisa masuk 4 besar. Fans City tentu berharap akan tetap jadi juara setelah 44 tahun lebih tidak pernah juara.
Ekspektasi yang berbeda-beda ini terjadi karena fans sepakbola yang sejati dapat menyatukan keinginan dengan realita. Namun, untuk fans sepakbola ini, mereka akan terus mendukung timnya, walaupun tidak menjadi juara. Fans sepakbola yang waras memahami bahwa bisa tidaknya timnya menjadi juara tergantung pada kualitas dan kinerja manajer dan pemain sepakbola dan dibandingkan dengan tim lawan. Fans hanya bisa mendukung secara finansial (beli merchandise, tiket pertandingan) dan secara moral (teriakan di lapangan, doa buat yang nonton di tv). Fans juga bisa menuntut untuk mengganti pelatih yang tidak berhasil, atau menjual pemain yang jelek atau membeli pemain yang bagus. Walaupun keputusan final tetap ada di tangan manajemen klub.
Fans sepakbola sejati ekspektasinya tidak melulu soal trofi juara, mereka melihat kondisi tim dari tahun ke tahun. Fans sepakbola yang waras ini bukan Glory Hunter. Maka jangan heran masih ada yang menjadi fans Liverpool misalnya, walaupun sudah 20 tahun lebih tidak pernah juara liga Inggris.


Dari penjelasan diatas, silahkan ambil kesimpulan sendiri. Apakah anda seorang glory hunter atau seorang pendukung sepakbola sejati?

Aku Bukanlah Seekor Burung

Aku bukanlah seekor burung
Dengan kedua sayapku
Aku bisa langsung melesat ke angkasa luas
Tanpa aku merasa takut akan terjatuh

Aku bukanlah seekor burung
Yang bisa terbang melintasi dunia
Sejauh yang aku inginkan
Kemanapun aku pergi

Aku bukanlah seekor burung
Yang bebas bertengger dimana saja
Dan pergi kapan saja
Sesuka hatiku

Aku bukanlah seekor burung
Yang punya suara indah
Yang bisa bernyanyi merdu
Atau pun punyai bulu bulu cantik warna warni

Namun…
Aku tak perlu menjadi seekor burung
Untuk aku bisa mencapai langit yang tinggi
Bahkan ‘tuk sekedar memetik bintang bintang yang menghiasinya

Aku tak perlu menjadi seekor burung
Untuk ku bisa menjelajah dunia ini
Karena aku punya dunia sendiri
Yang setiap saat bisa aku arungi dengan mudahnya

Aku juga tak perlu menjadi seekor burung
Yang harus bisa bernyanyi dengan indah
Dan berhiaskan bulu bulu cantik
Karena aku sendiri merasa begitu sempurna tanpa itu semua

Aku hanya perlu menjadi diriku sendiri
Karena yang aku miliki adalah sebuah dunia, dan menjadi duniaku
Karena yang aku miliki adalah sebuah kelebihan dan menjadi kelebihanku
Karena yang aku miliki adalah sebuah kecantikan, dan menjadi kecantikanku
Karena yang aku miliki adalah sebuah rahasia, dan menjadi rahasiaku
Karena yang aku miliki adalah sebuah surga, dan menjadi surgaku
Dan aku bisa apa saja dengan semua yang kumiliki

Hanya amanah untuk dijaga
Karena pasti semua akan kembali pada Sang Maha Memiliki...

Euforia Ramadhan : Sebuah Trend dan Ironi Keimanan

Yap...Akhirnya kali ini sempat menulis lagi di blog ini.

Kalimat pertama buat membuka tulisan saat ini, 

"Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban Ya Syahr ash-Shiam" 

Itulah senandung Ramahdan yang dinyanyikan oleh Hadad Alwi bersama para penyanyi ciliknya dengan riang gembira. Rasa gembira ini tentunya bukan hanya milik mereka seorang, namun juga seluruh umat Islam di seluruh dunia yang juga merasa gembira dengan kehadiran bulan Ramadhan; bulan puasa; bulan yang meletupkan sebuah euforia bagi umat Islam meskipun hanya sementara. 

Masjid juga kembali terisi penuh dengan ritual tarawih di malam hari, sms ucapan selamat datang Ramadhan mulai di kirimkan. Para Ustadz juga sudah mulai sibuk dengan padatnya acara ceramah. Mulai dari kuliah subuh, kultum berbuka puasa, hingga menjadi imam tarawih dan mempimpin i'tikaf. Mereka menyambut umat yang selama Ramadhan menjadi luar biasa dahaga dengan tawjih serta taushiyah para ustadz.

Ya kesenangan itu bukan hanya milik ustadz semata, tapi juga para pedagang, pemilik pusat-pusat perbelanjaan, dan hampir semua pengusaha juga bergairah dengan kehadiran Ramadhan. Seolah menyambut janji Nabi Muhammad SAW, bahwa bulan Ramadhan adalah 'bulan yang ditambahkan rezeki' oleh Allah. Para pengusaha sudah hafal betul, pada bulan Ramadhan pengeluaran rumah tangga masyarakat juga meningkat. Berapapun harga barang ditawarkan , akan dibeli. Hal itu berarti tambahan keuntungan bagi mereka.

Pemerintah juga ikut-ikutan sigap menyambut Ramadhan, menyerukan supaya tempat-tempat hiburan di tutup, merazia dan memusnahkan miras, narkoba dan juga petasan.Tidak lupa juga mereka menyerukan kepada para alim ulama untuk melakukan tarawih keliling atau buka bersama masyarakat. Ya seolah menunjukkan sikap bahwa mereka juga gemar beribadah dan bisa dekat dengan masyarakat kecil.

Pada penghujung Ramadhan, menjelang Idul Fitri, umat pun bersemangat untuk pulang kampung. Ya istilahnya kalau biasa di bilang itu MUDIK. Itu salah satu ritual tahunan umat Islam, khususnya di Indonesia, bertemu orang tua, sanak saudara, bermaaf-maafan. Kadang pula tetesan air mata menyertai meskipun lebih sering tertutup dengan berlimpah ruahnya hidangan makanan (dari snack biasa sampai makanan 'berat') dan gemerlapnya pakaian baru. Ramadhan sepertinya merupakan sebuah keajaiban, bulan ini mampu merubah suasana sekular yang tidak tertata menjadi sebuah atmosfer keimanan. Namun, sayangnya keindahan ini serba sesaat

YANG SAKRAL DAN PROFAN
Sakral dan profan tidak bisa terlepas dari diri manusia. Karena  manusia adalah makhluk sosial yang serba berubah dan suka mencoba sesuatu hal yang belum diketahuinya yang biasa juga disebut dengan trial and error atau mencoba-coba sesuatu. Rasa ingin tahu manusia sampai kepada sesuatu hal yang sakral atau yang dia anggap sakral. Ketika sesuatu itu di luar kemampuannya dan mereka tidak sanggup menembusnya, lalu mereka anggap suci, maka mereka anggaplah itu sesuatu yang  sakral, namun apabila masih dapat dijangkaunya, dia menganggap sesuatu itu biasa-biasa saja. Sikap sakral dan profan ini terus menjalar dalam kehidupan manusia, sehingga pemahaman tentang sesuatu yang disakralkan itu menyimpang dari ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw. Hal ini terjadi disebabkan mereka yang beragama ardhi (bumi) masuk ke dalam agama Islam, namun ajaran-ajaran atai ritual-ritual yang ada di dalam agama mereka terikut dalam praktek ibadah mereka sehari-hari, ditambah lagi dengan pengetahuan umat Islam yang kurang tentang pemahaman akidah sehingga praktek-praketk adat yang salah yang berlaku dikalangan mereka, mereka masukkan dalam praktek ibadah mereka. 

Saat ini sepertinya umat Islam memang masih berkubang di dasar jurang sekularisme. Di dalamnya agama tidak di'bunuh', namun hanya menjadi asesoris kehidupan. Sebagai sebuah asesoris agama dapat disandingkan dengan apa saja, siapa saja dan kapan saja. Berislam nyaris penuh dengan kepura-puraan dan kepalsuan. Bahkan agama-pun dapat dikomersialisasikan dalam aneka tayangan televisi di bulan Ramadhan. 

Selama bulan Ramadhan ini, pemilik stasiun televisi merasa sah saja menyandingkan keilmuan ustadz dengan para selebritis dalam aneka acara selama Ramadhan. Para Ustadznya pun tidak merasa luntur kada 'iffah dan muru'ahnya. Sebagian Ustadz mengungkapkan bahwa berdakwah adalah untuk siapa saja dan dimana saja. Namun, yang terjadi, para Ustadz ini justru sudah menjadi tontonan ketimbang tuntunan bagi umat,menjadi bagian dari entertainment komersial dalam sebuah industri pertelevisian yang besifat kapitalistik. 

Demi keuntungan pula, para pemilik stasiun televisi memunculkan para seleb bahkan band kesehariannya jauh dari kesalihan sebagai ikon dari acara Ramadhan. Inikah bentuk memuliakan bulan agung dan penuh barakah ? Semua sepertinya hanya semata mereguk keuntungan sebesar-besarnya di bulan Ramadhan. 


Banyak orang yang menempatkan Ramadhan hanya sebagai kegiatan ibadah yang terpisah dari kehidupan. Nafsu makan dan minum mungkin dikekang. Namun berbagai larangan Allah SWT mungkin pula tetap dilaksanakan. Ada sebagian orang yang tetap merasa malu makan ataupun minum di siang hari selama Ramadhan. Mereka berusaha istiqamah menahan lapar dan dahaga hingga waktu berbuka. Namun, kaum prianya tidak menahan diri dari memandang aurat wanita, serta wanitanya juga tidak menahan diri dengan menutup aurat mereka menggunakan busana Muslimah.


Di mimbar-mimbar taklim pada bulan Ramadhan sering disampaikan bahwa rasa lapar dan haus yang dirasakan mereka yang berpuasa adalah sebagai bentuk kesetiakawanan sosial. Seruan ini tidak lagi sanggup menghentikan mental konsumtif dan hedonis umat pada hari ini. Si lemah tetap kelaparan dan 'telanjang' pada bulan Ramadhan. Si kaya yang telah terasuki hedonisme tetap bergaya hidup boros. Makanan berlimpah-ruah di rumah-rumah mereka dan tempat makan di berbagai mall tetap ramai, meski menawarkan menu dengan tarif yang aduhai, yang mungkin cukup untuk makan si fakir selama 2-3 hari. 


Saat hari-hari menjelang lebaran tiba kembali mall dan pasar-pasar dibanjiri para pengunjung. Alih-alih mengencangkan ikat pinggang, menjauhi keluarga dan beritikaf, umat lebih berkonsentrasi memburu tiket mudik, pakaian untuk berlebaran dan asesoris rumah tangga. Hal justru cukup membingungkan saat lebaran tiba, justru kawasan wisata juga ramai diserbu warga. Pantai, tempat hiburan hingga kebun binatang didatangi warga. Duhai, tidak ada lagikah saudara-saudara ataupun tetangga yang layak untuk dikunjungi serta dimintai maafnya sehingga merasa lebih baik mengunjungi aneka satwa di kebun binatang ?!.

Puasa Bagi Para Elite Penguasa
Yap, bagi para elit penguasa,, Ramadhan sepertinya menjadi sebuah wahana mempertahankan eksistensi dan menaikkan popularitas dengan mendekatkan diri kepada Rakyat (Mungkin mereka berfikir karena 'Tuhan' mereka rakyat. Soalnya yang memilih mereka buat duduk di kursi legislatif itu kan rakyat..hehe). Aneka kegiatan pun mereka gelar, buka puasa bersama, tarawih keliling, shalat subuh keliling sampai pembagian zakat dan Shalat Idul Fitri bersama para konstituen mereka. 

Namun semua yang terjadi itu nyaris bersifat profan (duniawi). Para penguasa dari pusat sampai daerah lupa bahwa membahagiakan masyarakat bukanlah dengan sekedar shalat berjamaah atau buka puasa bersama dengan mereka, namun melakukan pengaturan  urusan rakyat sepenuh hati dan sekuat tenaga. Apalah arti buka puasa bila pada hari berikutnya rakyat dibiarkan kelaparan ??!

Pemerintah boleh sesumbar bahwa stok beras nasional cukup untuk beberapa bulan ke depan. Namun, pernahkah terpikir semua rakyat dapat makan nasi setiap hari? Bukankah realitanya mereka harus membelinya dengan harga yang terus-menerus naik setiap harinya, apalagi menjelang lebaran?!

Begitu pula stok sembako yang berlimpah tidak ada artinya apabila hanya segelintir orang yang sanggup membelinya. Di sisi lain, para penguasanya sudah merasa puas dengan membagi zakat kepada warga. Itu pun warga harus berebut dan terinjak-injak hanya untuk mendapatkan zakat yang jumlahnya tidak seberapa. Pola pikir inilah yang justru mengajarkan pentingnya produksi dan bukan distribusi. Yang terpenting adalah stok tersedia, persoalan kemampuan membeli diserahkan kepada hukum pasar tanpa perlu campur tangan penguasa.

Setiap lebaran tiba rakyat juga dibiarkan berdesakan dalam transportasi massal yang harga tiketnya jadi berlipat tetapi pelayanannya tidak manusiawi, jauh dari rasa aman dan nyaman. Di kereta ekonomi orang duduk dan berdiri berdesakan hingga di lorong gerbong, bahkan di dalam toilet kereta. 

Setelah lebaran, kembali kota-kota besar khususnya Ibukota negara ini akan dibanjiri para pendatang baru. Mereka adalah warga pedesaan yang ingin mengadu nasib setelah hidup mereka menjadi kian susah di daerah asalnya. Hal ini berarti tambahan persoalan di berbagai kota seperti kepadatan penduduk, kemacetan lalu lintas, pengangguran dan kriminalitas.

Terjadinya urbanisasi rutin setiap tahun pasca lebaran adalah gambaran kegagalan dan ketidakseriusan penguasa meningkatkan taraf hidup masyarakat di perkampungan. Banyak daerah yang tetap terbelakang bak sarana maupun prasarananya. Di beberapa daerah dekat perkotaan seperti di sekitar Kabupaten Bogor saja masih banyak warga yang buta huruf. Mengutip data Kemendiknas tahun 2010, masih terdapat 11,7 juta anak usia sekolah yang belum tersentuh pendidikan, dan diperkirakan 4,7 juta jiwa siswa SD dan SMP yang tergolong miskin terancam putus sekolah (Republika, 26/7). 

Pada Ramadhan ini kita juga masih melihat sejumlah penguasa kaum Muslim yang terus membantai rakyatnya sendiri. Rezim Suriah, Libya, Mesir, Pakistan dan Afghanistan masih menjalankan operasi militer untuk menankapi dan membunuh rakyat mereka  sendiri.

Puasa adalah bagian dai serangkaian ketundukkan total kepada Allah SWT, bukan sesuatu yang terpisah dari rangkaian ketaatan yang lain. Memisahkan puasa dari hukum-hukum Allah SWT yang lain adalah sebuah perbuatan tercela. Mereka yang berpuasa dengan sepenuh hati dan berusaha menaati Allah secara harfiah pasti akan merintih menyaksikan umat hari ini masih terbelenggu dengan hawa nafsu, di dekap oleh sekularisme dan demokrasi, tetapi mereka merasa sudah menunaikan kewajiban Allah dengan sebaik-baiknya.


SEKIAN

Anthony Giddens : The Last Modernist (Sebuah Biografi Singkat)

Sebuah Pengantar

Menarik sebuah benang merah dari inti teori Struktur Anthony Giddens ke arah konsep pemikir-pemikir sebelumnya seputar teori tersebut bukanlah sebuah pekerjaan yang singkat. Gagasan yang plural tentang beberapa subjek, serta rentangan kurun waktu sejarah sampai pada zaman Comte misalnya -yang merupakan rentangan waktu yang cukup panjang- yang telah memuat daftar ratusan gagasan para sosiolog dan teoritisi lainnya, turut menambah rumit proses perunutan tersebut. Namun, untuk bisa memahami dengan jelas siapa Giddens dan bagaimana teori strukturnya, maka proses perunutan merupakan hal yang wajib dilakukan. Untunglah, peta perkembangan pemikiran teori Sosiologi yang dibuat Ritzer bisa membantu pekerjaan itu.

Tulisan ini berisi biografi singkat Anthony Giddens, teori struktur dan agennya, serta pembahasan singkat peta perkembangan pemikiran dari Auguste Comte sampai Giddens, ditambah dengan teori terpadu George Ritzer, sebagai perkembangan teori selanjutnya. Tulisan ini sengaja hanya difokuskan pada teori struktur dan agen dengan maksud agar bisa diperoleh gambaran lebih mendalam seputar teori tersebut.

I. Biografi
Anthony Giddens adalah seorang teoritisi sosial Inggris. Ia lahir pada 18 Januari 1938. Karya awalnya bersifat empiris dan memusatkan perhatian pada masalah bunuh diri. Dalam karya-karyanya, Giddens membangun perspektifnya sendiri, yang terkenal sebagai teori strukturasi.

II. Teori Struktur dan Agen



Giddens mengemukakan teori strukturasi. Kunci pendekatan Giddens adalah bahwa ia melihat agen dan struktur sebagai dualitas, artinya keduanya dapat dipisahkan satu sama lain. Agen terlibat dalam struktur dan struktur melibatkan agen. Menurutnya, seluruh tindakan sosial memerlukan sturktur dan seluruh struktur memerlukan tindakan sosial. Giddens menolak untuk melihat struktur semata sebagai pemaksa terhadap agen (misalnya seperti Durkheim), tetapi melihat struktur baik sebagai pemaksa maupun penyedia peluang.


Inti konseptual teori strukturasi terletak pada pemikiran tentang struktur, sistem dan dwi rangkap struktur. Struktur didefinisikan sebagai “properti-properti yang berstruktur (aturan dan sumber daya), yang memungkinkan praktek sosial serupa yang dapat dijelaskan untuk eksis di sepanjang ruang dan waktu dan yang membuatnya menjadi bentuk sistemik. Struktur hanya akan terwujud Karena adanya aturan dan sumber daya. Struktur itu sendiri tidak berada dalam ruang dan waktu. Fenomena sosial mempunyai kapasitas yang cukup untuk menjadi struktur. Giddens berpendapat bahwa struktur hanya ada di dalam dan melalui aktivitas agen manusia. Jadi Giddens mengemukakan definisi struktur yang tak lazim, yang tak mengikuti pola Durkheimian dalam memandang struktur sebagai suatu yang berada di luar dan memaksa aktor. Menurutnya, struktur adalah apa yang membentuk dan menentukan terhadap kehidupan sosial, tetapi bukan struktur itu sendiri yang membentuk dan menentukan terhadap kehidupan sosial.

Giddens melihat modernitas sekarang sebagai “juggernaut” (panser raksasa) yang lepas kontrol.
“kehidupan kolektif modern ibarat panser raksasa yang tengah melaju hingga taraf tertentu bisa dikemudikan, tetapi juga terancam akan lepas kendali hingga menyebabkan dirinya hancur-lebur. Panser raksasa ini akan menghancurkan orang yang menentangnya dan meski kadang-kadang menempuh jalur yang teratur, namun ia juga sewaktu-waktu dapat berbelok ke arah yang tak terbayangkan sebelumnya. Perjalanannya bukannya sama sekali tak menyenangkan atau tidak bermanfaat; adakalanya memang menyenangkan dan berubah sesuai dengan yang diharapkan. Tetapi, sepanjang institusi modernitas ini terus berfungsi, kita takkan pernah mampu mengendalikan sepenuhnya baik arah maupun kecepatan perjalanannya. Kita pun takkan pernah merasa aman sama sekali karena kawasan yang dijelajahinya penuh dengan bahaya. (Giddens, 1990:139)"

Istilah “juggernaut” (panser raksasa) digunakan Giddens untuk menggambarkan kehidupan modern sebagai sebuah “dunia yang tak terkendali” (runaway world). Citra panser raksasa dimaksudkan Giddens untuk menerangkan bahwa mekanisme modern jauh lebih besar kekuasaannya ketimbang agen yang mengemudikannya.

Giddens mendefinisikan modernitas dilihat dari sudut empat intitusi mendasar. Pertama, kapitalisme yang ditandai oleh produksi komoditi, pemilikan pribadi atas modal, tenaga kerja tanpa property, dan sistem kelas yang berasal dari ciri-ciri tersebut. Kedua adalah industrialisme yang melibatkan penggunaan sumber daya alam dan mesin untuk memproduksi barang. Industrialisme tak terbatas pada tempat bekerja saja dan industrialisme mempengaruhi sederetan lingkungan lain, seperti transportasi, komunikasi, bahkan kehidupan rumah tangga. Ciri yang ketiga adalah kemampuan mengawasi. Hal ini mengacu pada pengawasan atas aktivitas warga Negara individual (terutama) dalam bidang politik. Dimensi institusional keempat dari modernitas adalah kekuatan militer atau pengendalian atas alat-alat kekerasaan, termasuk industrialisasi peralatan perang.

Modernitas menurut Giddens erat kaitannya dengan ruang dan waktu. Dengan datangnya modernitas, ruang makin lama makin dilepaskan dari tempat. Berhubungan dengan orang yang berjauhan jarak fisik makin lama makin besar peluangnya. Menurut Giddens, tempat semakin menjadi “phantasmagoric”, artinya “tempat terjadi peristiwa sepenuhnya ditembus dan ditentukan oleh pengaruh sosial yang jauh jaraknya dari tempat peristiwa itu.

Menurut Giddens, modernitas adalah kultur berisiko. Ini bukan berarti bahwa kehidupan sosial kini lebih berbahaya daripada dahulu. Konsep risiko menjadi masalah mendasar baik dalam cara menempatkan aktor biasa maupun aktor yang berkemampuan spesialis-teknis dalam organisasi kehidupan sosial. Modernitas mengurangi risiko menyeluruh bidang dan gaya hidup tertentu, tetapi pada waktu yang bersamaan memperkenalkan parameter risiko baru yang sebagian bersar atau seluruhnya tidak dikenal di era sebelumnya.

Mengapa kita menderita akibat negatif di dalam panser raksasa modernitas? Giddens mengemukakan beberapa alasan: pertama, karena kesalahan rencana dalam dunia modern; orang yang merencanakan unsur-unsur dunia modern membuat kesalahan. Kedua, kegagalan operatornya; masalahnya bukan berasal dari perencana, tetapi dari mereka yang menjalankan dunia modern.

III. Kritik Teori
Giddens mengemukakan definisi struktur yang tak lazim, yang tak mengikuti pola Durkheimian dalam memandang struktur sebagai suatu yang berada di luar dan memaksa aktor. Menurutnya, struktur adalah apa yang membentuk dan menentukan terhadap kehidupan sosial, tetapi bukan struktur itu sendiri yang membentuk dan menentukan terhadap kehidupan sosial.

Giddens menolak pendapat pakar yang menyatakan bahwa kita telah memasuki era post-modern, meski ia menyatakan kemungkinan munculnya tipe post-modernisme di masa datang. Namun demikian, menurutnya kita masih masih hidup di era modern.

Giddens menolak sebagian besar pendirian yang biasanya dikaitkan dengan post-modernisme. Sebagai contoh, bagian pemikiran post-modernisme yang menyatakan tak mungkinnya menciptakan pengetahuan sistematis. Menurut Giddens, pandangan seperti itu membawa kita kepada penolakan aktivitas intelektual sama sekali.

IV. Peta Pemikiran (Dari Comte – Giddens)
Auguste Comte (1798) berpendapat bahwa keteraturan sosial tergantung pada pembagian pekerjaan dan kerjasama ekonomi. Individu-individu menjalankan kegiatan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi begitu pembagian kerja muncul, partisipasi individu dalam kegiatan ekonomi menghasilkan kerjasama, kesadaran akan ketergantungan juga bertambah.

Pendapat Comte ini dimentahkan oleh Karl Marx (1818-1883), terutama ketika dia menganalisis bahwa potensi konflik akan lebih besar ketika ada perbedaan pekerjaan, karena perbedaan ini kemudian akan mengakibatkan munculnya perbedaan kelas dalam masyarakat. Menurut Marx, masyarakat terbentuk atas struktur dalam bentuk pembagian kelas masyarakat, yang terdiri dari kelompok kapitalis dan kelompok buruh/ pekerja. Ada dua macam kelas yang ditemukan Marx ketika menganalisis kapitalisme, yakni borjuis dan proletar. Kelas borjuis merupakan nama khusus untuk para kapitalis dalam ekonomi modern. Mereka memiliki alat-alat produksi dan mempekerjakan pekerja upahan. Struktur dalam masyarakat terbentuk karena ada perbedaan penguasaan aset-aset ekonomi. Dimana kelompok kapitalis menguasai berbagai komoditas, alat-alat produksi, dan bahkan waktu kerja para pekerja karena mereka membeli para pekerja tersebut dengan gaji, sedangkan para pekerja hanya memiliki sedikit hak milik dan mereka harus memproduksi komoditas-komoditas demi keuntungan sejumlah kecil kapitalis. Dari sini dapat dilihat bahwa orang dalam masyarkat kapitalis dilihat juga sebagai penghasil berbagai produk dan komoditas. Marx berpendapat bahwa kekuasaan-kekuasaan politis telah diubah menjadi relasi-relasi ekonomi. Di samping itu, struktur ekonomi kapitalisme turut menentukan pemikiran dan tindakan individu.

Marx berpikir bahwa eksistensi kelas-kelas dalam masyarakat berpotensi menimbulkan konflik. Konflik ini terjadi manakala muncul konfik kepentingan antara orang yang memberi upah para buruh dan para buruh yang bekerja. Misalnya: orang yang memberi upah berharap memberikan upah sekecil-kecilnya, sedangkan para buruh menghendaki yang sebaliknya.

Marx berpikir bahwa perbedaan kelas dan konflik yang menyertainya hanya bisa diatasi dengan menciptakan dunia sosialis, dimana tidak ada penguasaan aset-aset produksi oleh salah satu pihak. Jadi aset-aset produksi harus dimiliki bersama.

Dari sini Marx kemudian mendambakan sebuah masyarkat komunis dalam mana terjadi revolusi ekonomi besar-besaran. Sementara gerakan massa kaum buruh yang tidak puas dengan perlakuan yang mereka terima dari kaum kapitalis merupakan kekuatan revolusioner yang sewaktu-waktu bisa bangkit dan meruntuhkan kekuatan kapitalisme.

Namun, teori Marx ini disanggah oleh Vilfredo Pareto (1848-1923). Pareto justru berpikir bahwa tidak realistis berharap akan tercapainya perubahan sosial yang dramatis melalui revolusi ekonomi. Menurut Pareto, masyarakat akan didominasi oleh sejumlah kecil elite yang memerintah berdasarkan kepentingan diri sendiri. Elite kecil ini memerintah massa rakyat yang didominasi oleh faktor non-rasional. Menurut Pareto, karena kapasitas rasional terbatas, maka mereka bukanlah kekuatan revolusioner. Pareto berpikir bahwa perubahan sosial terjadi manakalah elite mulai mengalami kemerosotan moral dan digantikan oleh elite baru yang berasal dari elite yang tak memerintah atau unsur yang lebih tinggi dari massa. Segera setelah elite baru berkuasa, proses yang baru pun terjadi. Jadi, Pareto menyodorkan teori perubahan sosial melingkar, sedangkan Marx menyodorkan teori perubahan sosial linear.

Pareto membayangkan masyarakat sebagai sebuah sistem yang berada dalam keseimbangan, sebagai kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling tergantung. Perubahan satu bagian dipandang menyebabkan perubahan bagian lain dalam sistem. Dari sini dapat dilihat Pareto menganut teori sistem dalam pemikirannya tentang masyarakat. Dalam mana setiap sub-sistem dalam kesatuan sistemnya akan dipengaruhi dan turut mempengaruhi sub-sistem lainnya.

Berbeda dengan Pareto yang menekankan masyarakat yang terikat dalam sistem, George Simmel (1858-1918) meninjau masyarakat lebih dari sudut interaksi sosial yang tercipta di dalamnya. Ia berpendapat bahwa masyarakat merupakan serangkaian interaksi. Menurutnya, struktur yang terbentuk dalam masyarakat, seperti: Negara, marga, keluarga, kota atau serikat pekerja, merupakan kristalisasi dari interaksi tersebut.

Dalam kaitan dengan kelompok yang muncul dalam masyarakat, Simmel mengungkapkan pemikirannya tentang dyad (kelompok yang terdiri dari dua orang) dan triad (kelompok yang terdiri dari tiga orang). Dyad tidak memperoleh makna di luar individu yang terlibat di dalamnya, dan masing-masing anggota dyad akan mempertahankan tingginya level individualis. Sebaliknya, triad -yang memiliki kemungkinan besar memperoleh makna di luar individu yang terlibat- berpotensi melairkan struktur kelompok. Hal inilah yang menjadi ancaman bagi individualitas anggotanya.

Lain halnya dengan pandangan Max Webber (1864-1920) seputar struktur sosial. Berbeda dari Karl Marx yang melihat stratifikasi yang tercipta dalam masyarakat diakibatkan semata karena faktor ekonomi, Weber menilai bahwa stratifikasi tersebut terbentuk karena hal-hal yang bersifat multidimensional, yakni basis ekonomi, status dan kekuasaan. Implikasinya adalah orang dapat menempati peringkat yang tinggi di satu atau dua dimensi stratifikasi tersebut sementara berada pada posisi yang lebih rendah di dimensi lainnya. Teori Weber ini merupakan kritik teori Marx sekaligus merupakan perkembangan teori yang melihat bahwa faktor ekonomi bukanlah faktor tunggal penentu struktur sosial masyarakat.

Eksistensi George Lukacs sebagai seorang teoritisi yang menganut paham Marxisme-Hegelian tak dapat diabaikan dalam perkembangan teori sturktur. Lukacs mengkritik teori Marx yang mengungkapkan bahwa orang dalam masyarakat kapitalis merupakan penghasil produk atau komoditas, sehingga nilai dilihat sebagai sesuatu yang dihasilkan pasar dan bukan oleh aktor itu sendiri. Menurut Lukacs, oranglah yang menghasilkan komoditas dan sekaligus memberi nilai kepadanya.
Perbedaan kelas dalam masyarakat yang menurut Marx disebabkan karena dampak dari distribusi faktor ekonomi yang tidak merata dinilai berbeda oleh Lucaks. Justru menurutnya, manusia dalam masyarakat kapitalis berhadapan dengan realitas yang diciptakannya sendiri (sebagai kelas) yang baginya tampak sebagai fenomena alamiah yang asing bagi dirinya sendiri. Dengan demikian, kaum proletar bukan teralienasi karena sistem, tapi karena diri mereka sendiri yang menganggap demikian. Hal tersebut karena mereka tunduk pada hukum-hukum yang mereka buat sendiri.

Konsep Lukacs inilah yang dikemudian dikenal dengan konsepnya mengenai kelas dan kesadaran palsu. Kesadaran kelas ini merujuk pada sistem kepercayaan yang dimiliki bersama oleh mereka yang menempati posisi kelas yang sama dalam masyarakat. Jadi, pada umumnya, masyarakat kapitalisme tidak memiliki pengertian yang jelas tentang kesadaran kelas mereka sebenarnya. Kesadaran kelas mereka berarti ketidaksadaran atas kondisi ekonomi dan sosio-historis seseorang yang dikondisikan kelasnya oleh kelas kepalsuan.

Jika menurut Marx, perbedaan kelas dalam masyarakat menyebabkan rusaknya harmoni masyarakat, para penganut teori fungsionalisme struktural justru berpikir sebaliknya. Para penganut teori ini beranggapan bahwa perbedaan aktifitas dalam masyarakat merupakan hal yang harus diperlihara untuk mempertahankan kehidupan masyarakat. Perbedaan posisi dan aktifitas berarti juga perbedaan fungsi. Fungsi-fungsi yang berbeda dalam sistem ini, jika dipelihara dengan baik sangat produktif untuk mencapai tujuan masyarakat. Gugusan aktivitas justru harus diciptakan sesuai dengan kebutuhan sistem. Talcot Parson, salah seorang tokoh fungsionalisme struktural mengemukakan sistem yang disebut AGIL, yakni adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan latensi (pemeliharaan pola). Sistem inilah yang harus dijalankan agar masyarakat bisa harmonis.

Menurut para fungsionalis, masyarakat adalah statis atau masyarakat selalu berada dalam keadaan berubah secara seimbang. Masyarakat hidup dalam suatu sistem yang teratur, karena mereka secara formal diikat oleh norma, nilai dan moral. Setiap elemen masyarakat berperan dalam menjaga stabilitas.

Robert Merton (1910-2003), salah seorang teoritisi fungsionalisme-sturktural agak berbeda pendapat dengan pendahulunya. Menurutnya, tidak setiap struktur, adat-istiadat, gagasan, keyakinan dan lain sebagainya memiliki fungsi positif. Menurutnya, suatu fakta sosial dapat mengandung konsekuensi negatif bagi fakta sosial lain. Untuk itulah maka Merton mengembangkan teorinya mengenai disfungsi. Ketika struktur atau institusi dapat memberikan kontribusi pada terpeliharanya bagian lain sistem sosial, mereka pun dapat mengantung konsekuensi negatif bagi bagian-bagian lain tersebut.
Dalam kaitan dengan disfungsi di atas, Merton mengembangkan konsep fungsi manifest dan fungsi laten. Dimana fungsi manifest adalah fungsi yang dikehendaki, sedangkan fungsi laten adalah fungsi yang tidak dikehendaki.

Dalam perkembangannya, teori struktur-fungsional diperhadapkan dengan kritik yang muncul dari teoritisi lainnya. Konsep Herbert Blumer (1900-1987) tentang interaksionisme simbolik merupakan salah satu bentuk kritik terhadap teori fungsionalisme struktural. Menurut Blumer, teori fungsionalisme struktural cenderung memusatkan perhatiannya kepada beberapa faktor, misalnya norma, yang menyebabkan perilaku manusia. Menurutnya, teori ini mengabaikan proses krusial ketika para aktor menopang kekuatan yang bertindak padanya dan pada perilaku mereka sendiri dengan makna.

Blumer juga menolak teori fungsionalisme struktural yang mengemukakan bahwa perilaku individu ditentukan oleh kekuatan-kekuatan eksternal. Ia menolak anggapan bahwa perilaku aktor ditentukan oleh faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh aktor itu sendiri. Karena yang terpenting menurut Blumer adalah proses pendefinisian ketika aktor melakukan perbuatannya.

Kritik terhadap teori Struktur-fungsional datang juga dari Ralf Dahrendorf (1929) dengan teori konfliknya. Ia menolak pandangan para fungsionalis yang menganggap bahwa masyarakat adalah statis, atau kalaupun berubah maka perubahan tersebut secara seimbang. Menurutnya, masyarakat setiap saat tunduk pada proses perubahan. Jika para fungsionalis menekankan keteraturan masyarakat, para teoritisi konfliki melihat apa pun tatanan yang ada di tengah masyarakat tumbuh dari tekanan yang dilancarkan segelintir anggota yang berada di puncak. Kalau para fungsionalis memusatkan perhatiannya pada kohesi yang diciptakan oleh nilai masyarakat yang dimiliki bersama, para teoritisi konflik menitikberatkan pada peran kekuasaan dalam memelihara tatanan di tengah-tengah masyarakat.

Dahrendorf mengemukakan gagasannya bahwa masyarakat memiliki dua wajah, yakni konflik dan konsensus. Teori konsensus merupakan teori yang membahas tentang integrasi nilai di tengah-tengah masyarakat, sedangkan teori konflik membahas tentang konflik kepentingan dan hal-hal yang menyatukan masyarakat di bawah tekanan-tekanan tersebut. Menurut Dahrendorf, masyarakat tak mungkin ada tanpa konflik dan konsensus. Pendapat Dahrendorf ini semakin memperjelas perbedaan antara dirinya dengan para penganut teori fungsional-struktural.

Dalam kaitan dengan struktur yang terbentuk dalam masyarakat, menurut Dahrendorf, kelompok mana yang berada di atas dan mana yang berada di bawah ditentukan oleh kepentingan bersama. Dalam setiap asosiasi, kelompok yang berada di atas berusaha mempertahankan posisi mereka, sementara kelompok yang berada dibawah akan berusaha melakukan perubahan. Dalam hal inilah kemudian konflik terjadi. Sehingga konflik dalam kelompok-kelompok tersebut akan berlangsung sepanjang waktu.

V. Perkembangan Teori Setelah Giddens (Teori Terpadu Ritzer)
Dalam kaitan dengan perdebatan yang panjang antara para teoritisi dengan kekuatan teori-teori masing-masing, yang mengkritik dan kritik, seputar struktur yang terbentuk dalam masyarakat, George Ritzer mencoba mengemukakan sebuah paradigma terpadu. Paradigma terpadu Ritzer ini merupakan salah satu bentuk kritik terhadap tiga paradigma lainnya. Yakni kritik terhadap paradigma fakta sosial yang hanya memusatkan perhatian pada struktur dan institusi skala besar; kritik terhadap paradigma definisi sosial yang memusatkan perhatian pada situasi sosial dan pengaruhnya tindakan dan interaksi; kritik terhadap paradigma perilaku sosial yang memusatkan perhatian pada imbalan yang mendorong perilaku yang diharapkan dan hukuma yang mengekang perilaku yang tidak dikehendaki.

Ide kunci Ritzer ialah “tingkatan realitas sosial”. Ini bukan berarti bahwa realitas sosial benar-benar terbagi dalam beberapa tingkat. Namun, menurut Ritzer, realitas sosial paling tepat dipandang sebagai kesatuan sosial yang berskala luas yang mengalami perubahan secara terus-menerus. Untuk itu dia mengungkapkan gagasan perlu adanya perpaduan antara hal-hal yang mikroskopis dan makroskopis, serta dimensi objektif dan subjektif.

Dalam kaitan dengan perpaduan mikro-makro, Ritzer memahami bahwa dunia sosial dibangun atas serangkaian entitas yang berskala kecil sampai yang berskala besar, karena itu merupakan hal yang lazim. Sementara dalam pemahamannya seputar dimensi subjektif-objektif, menurut Ritzer pada level mikro atau individu, terdapat proses mental subjektif aktor dan pola objektif tindakan dan interaksi yang ia ikuti.

Untuk pembahasan lebih lanjut bisa download buku yang ditulis oleh S. Mestrovic dengan judul Anthony Giddens: The Last Modernist berikut ini. Download


Rujukan : warugakita.com