Pengantar Sosiologi IV : Struktur Sosial

Bab IV
Struktur Sosial

Struktur sosial merupakan “tatanan” atau “jalinan” pokok yang membentuk suatu masyarakat. Dalam ranah sosiologi, terdapat dua bentuk struktur sosial, atau, dengan kata lain terdapat dua hal yang turut andil dalam proses pembentukan suatu masyarakat yakni diferensiasi sosial dan stratifikasi sosial. Hal tersebut akan dibahas lebih jauh dalam pemaparan berikut.

Diferensiasi Sosial
Diferensiasi sosial merupakan pembedaan masyarakat secara horizontal. Istilah “horizontal” sebagaimana dimaksudkan di sini adalah “secara merata”, dan “bukannya berjenjang” (atas-bawah). Hal tersebut dapat dimisalkan dengan suku, ras dan agama (SARA) berikut mata pencaharian. Diferensiasi sosial sebagai pembedaan masyarakat secara horizontal, lebih menekankan aspek premis (argumen) universal bahwa setiap individu memiliki harkat dan martabat serta kedudukan yang sama antara satu sama lain. Argumen tersebut secara tidak langsung menyiratkan perihal persamaan derajat manusia di hadapan Tuhan. Bentuk-bentuk diferensiasi sosial dapat dimisalkan dengan beberapa contoh berikut :


* Si A beragama Islam, Si B beragama Kristen, Si C Katolik, Si D Hindhu dan Si E beragama Budha.
* Si A bekerja sebagai dosen, Si B bekerja sebagai guru dan Si C bekerja sebagai sopir.

Dalam ranah diferensiasi sosial, berbagai hal di atas dilihat secara merata, tak ada jenjang yang membedakannya satu sama lain.
 
Stratifikasi Sosial
Berkebalikan dengan diferensiasi sosial, stratifikasi sosial adalah pembedaan masyarakat secara vertikal. Istilah “vertikal” yang dimaksudkan di sini adalah “berjenjang”, “hierarkis” atau “bersusun atas-bawah”. Hal tersebut dapat dimisalkan dengan “status” dan “peran” yang ada pada tiap-tiap individu dalam masyarakat. Status adalah “sesuatu yang melekat pada diri individu”, secara sederhana kerap diistilahkan dengan “jabatan” atau “kedudukan”. Sedang, peran dapat didefinisikan sebagai “sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh individu sebagai konsekuensi atas status yang melekat padanya”, secara sederhana, peran dapat dikatakan sebagai “fungsi” dari individu dengan melihat status sosial yang dimilikinya. Stratifikasi sosial sebagai pembedaan masyarakat secara berjenjang dapat dicontohkan melalui beberapa ilustrasi berikut :

* Ditemuinya jabatan Ketua RT dan RW dalam masyarakat.
* Konsep penggolongan jabatan dalam Pegawai Negeri Sipil (PNS).
* Sistem kepangkatan dalam militer yang membedakan antara kopral, sersan dengan jenderal.

Dapatlah dilihat bahwa berbagai contoh stratifikasi sosial di atas tersusun berdasarkan jenjang-jenjang hierarkis tertentu.
Ide-ide Menarik
Emile Durkheim mengatakan bahwa status dan peran yang melekat pada individu bersifat ajeg, ketat dan mengikat (baca: saklek). Pada perkembangannya kemudian, pemikiran tersebut direvisi oleh Peter M. Blau di mana menurutnya status yang melekat pada individu tidaklah saklek, melainkan “fleksibel”, artinya berubah-ubah menyesuaikan dimana individu tersebut berada. Sebagai misal, orang kepercayaan Adolf Hitler bernama Himmler, bagi orang Yahudi, Himmler adalah sosok yang bengis dan kejam, namun bagi keluarga dan anak-anaknya, Himmler adalah sosok yang pengasih dan penyayang. Hal tersebut membuktikan bagaimana status dan peran individu berubah-ubah menyesuaikan situasi dan kondisi dimana ia berada.

Terbentuknya Diferensiasi dan Stratifikasi Sosial
Baik diferensiasi maupun stratifikasi sosial terbentuk oleh dua faktor, yakni faktor yang disengaja maupun tak disengaja. Faktor disengaja terkait erat dengan kondisi atau konsep pembangunan berikut bentuk pemerintahan yang dipilih oleh penguasa, dengan demikian hal tersebut berupa konstruksi atau bentukan pemerintah itu sendiri. Di satu sisi, faktor yang disengaja diakibatkan pula oleh individu terkait, semisal motivasi untuk maju, need of achievement (kebutuhan akan penghargaan), semangat berprestasi dan lain sebagainya. Sedang, faktor tak disengaja lebih diakibatkan oleh kodrat atau ketentuan sebagaimana adanya. Berbagai hal di atas akan dijabarkan lebih lanjut berikut.

Faktor Disengaja
Diferensiasi sosial akibat faktor yang disengaja dapat dicontohkan dengan suatu negara yang lebih memilih konsep pembangunan negara-negara maju sehingga sebagian besar penduduknya bekerja di sektor perindustrian dan hanya sebagian kecil saja yang bekerja di sektor agraris. Hal tersebut akan berbeda halnya apabila negara terkait lebih memilih konsep pembangunan agraris di mana nantinya sebagian besar penduduk bermata pencaharian pada sektor pertanian, sedangkan sebagian kecil lainnya bekerja di sektor perindustrian. Dalam hal ini, perbedaan mata pencaharian yang terjadi pada masing-masing masyarakat tersebut merupakan diferensiasi sosial. Namun demikian, diferensiasi sosial dapat pula diakibatkan oleh individu terkait. Hal tersebut dapat dicontohkan dengan Si A yang lebih memilih menjadi seorang wirausahawan ketimbang menjadi pegawai di sebuah perusahaan.

Pada ranah yang berlainan, stratifikasi sosial akibat faktor yang disengaja dapat dimisalkan dengan pilihan bentuk pemerintahan suatu negara. Sebagai misal, dalam bentuk pemerintahan agamis para pemuka agamalah yang memiliki kekuasaan tertinggi. Bentuk pemerintahan tersebut dapat ditemui di Iran serta negara-negara Eropa pada abad pertengahan. Hal tersebut akan berbeda halnya jika pemerintahan suatu negara berbentuk diktatorial, maka militer menduduki kekuasaan tertinggi di dalamnya. Berbagai bentuk pemerintahan tersebut memiliki pengaruh signifikan dalam masyarakat di mana tingkat penghargaan dan penghormatan yang diberikan tertuju pada bentuk-bentuk stratifikasi sosial tertentu, sebagai misal di atas, penghormatan pada pemuka agama ataukah militer.

Di satu sisi, stratifikasi sosial dapat pula disebabkan oleh individu itu sendiri seperti kuatnya motivasi untuk berprestasi sehingga berimplikasi pada status sosialnya dalam masyarakat. Dalam hal ini, dibedakan adanya dua bentuk status sosial antara lain,

1. Achieved Status
Status sosial yang diperoleh akibat usaha keras dan pencapaian individu. Contoh: seorang mahasiswa yang belajar giat dan akhirnya memperoleh gelar sarjana.

2. Assigned Status
Status sosial yang diperoleh melalui pelabelan masyarakat akibat aktivitas keseharian yang dilakukannya sehingga menjadi identitas yang melekat pada dirinya kemudian. Contoh: ulama, juru kunci, dukun, dll.

Faktor Tak Disengaja
Faktor tak disengaja dari diferensiasi sosial lebih bersifat kodrati atau “demikian adanya”. Hal tersebut dapat dimisalkan dengan berbagai ras dan suku bangsa yang terdapat dalam masyarakat. Seseorang yang terlahir sebagai kulit hitam akan tetap menjadi kulit hitam hingga akhir hayatnya, begitu pula sebaliknya dengan seorang kulit putih. Dengan demikian, hal tersebut lebih bersifat given ‘pemberian’ Tuhan. Terkait hal tersebut, Peter Berger menyebut manusia sebagai makhluk sui generic atau taken for granted yang berarti, “manusia sebagai makhluk apa adanya”, seseorang tak meminta terlahir sebagai kulit hitam atau kulit putih.

Di sisi lain, stratifikasi sosial akibat faktor yang tak disengaja dapat dimisalkan dengan gelar kebangsawanan yang tersematkan pada seseorang. Seorang anak raja secara otomatis akan memiliki gelar bangsawan sebagaimana orang tuanya (Raden, Raden Ayu, dsb). Status sosial tersebut diistilahkan dengan ascribed status, yakni status yang diperoleh tanpa usaha, upaya dan kerja keras, diperoleh begitu saja secara apa adanya.

Transformasi Diferensiasi Sosial kepada Stratifikasi Sosial
Diferensiasi dan stratifikasi sosial dalam masyarakat tak selamanya ajeg dan berdiri sendiri satu sama lain. Ada kalanya, dengan sebab-sebab tertentu diferensiasi sosial dapat bertransformasi (berubah) menjadi stratifikasi sosial. Umumnya, hal tersebut disebabkan oleh ditemuinya beberapa kelompok ras dalam suatu masyarakat atau negara di mana salah satu ras minoritas lebih dominan secara ekonomi ketimbang ras lainnya. Hal tersebut dapat menjadi alasan kuat mencuatnya rasialisme (sentimen antiras) dalam masyarakat. Dalam hal ini, dapatlah dilihat bagaimana karakteristik diferensiasi sosial berupa ras yang harusnya bersifat horizontal berubah ke dalam jenjang-jenjang yang bersifat vertikal. Berikut beberapa contohnya :

* Pada masa pemerintahan Nazi-Hitler di Jerman, orang-orang Yahudi mendapat perlakuan yang begitu diskriminatif karena dianggap menghancurkan kehidupan ekonomi penduduk pribumi.

* Idi Amin di Uganda mengeluarkan kebijakan deportasi bagi etnis China karena mendominasi perekonomian di negara tersebut.

Di sisi lain, munculnya berbagai hal di atas dapat pula disebabkan oleh ideologi yang dianut oleh suatu kelompok ras yang dominan secara kuantitas (jumlah) dalam masyarakat. Sebagai misal, diskriminasi yang dilakukan orang kulit putih terhadap orang kulit hitam di Amerika Serikat pada dekade 60-an.
Ide-ide Pokok
* Struktur sosial dibentuk oleh diferensiasi dan stratifikasi sosial.
* Diferensiasi sosial adalah bentuk pengelompokan masyarakat secara horizontal atau merata.
* Stratifikasi sosial adalah bentuk pengelompokan masyarakat secara vertikal atau berjenjang.
* Diferensiasi dan stratifikasi sosial terbentuk melalui faktor yang disengaja maupun yang tak disengaja.
* Pada kondisi-kondisi tertentu diferensiasi sosial dapat berubah bentuk menjadi stratifikasi sosial.

Pengantar Sosiologi III : Perubahan Sosial

Bab III
Perubahan Sosial

Pengertian Perubahan Sosial
Perubahan sosial adalah perubahan dalam segi struktur sosial masyarakat yang mana menyangkut hubungan-hubungan sosial yang terjadi di dalamnya. Struktur sosial sendiri merupakan “tatanan” atau “jalinan” pokok yang membentuk suatu masyarakat. Perubahan sosial berbeda dengan perubahan kebudayaan mengingat dalam perubahan kebudayaan, nilai, norma dan terknologilah yang mengalami transformasi, bukannya struktur sosial.


Perubahan sosial dapat dicontohkan dengan tumbangnya suatu rezim dan segera digantikannya dengan rezim baru yang mana merombak seluruh struktur kemasyarakatan. Sebagai misal,
- Dahulu orang-orang Belanda menduduki tempat tertinggi dalam struktur sosial masyarakat Indonesia, namun setelah kemerdekaan berhasil diraih, hal tersebut tak berlaku lagi setelahnya.
- Di era abad pertengahan, institusi gereja memiliki otoritas tertinggi di Eropa, namun setelah peristiwa renaissance ‘pencerahan’ abad 15-18 terjadi, institusi tersebut memiliki kekuasaan yang sangat terbatas.
- Sebelumnya, kaum borjuis menempati posisi tertinggi dalam struktur sosial kemasyarakatan Rusia, namun segera tergantikan oleh kaum proletar setelah terjadinya Revolusi Komunis tahun 1917.

Selain berbagai misal di atas, perubahan sosial dapat pula berbentuk perubahan demografi yakni menyangkut pertumbuhan maupun penyusutan angka kelahiran serta kematian penduduk.

Sebab-sebab Terjadinya Perubahan Sosial
Terjadinya perubahan sosial disebabkan oleh berbagai faktor, apabila hendak disederhanakan, maka setidaknya terdapat dua faktor yang mengakibatkan terjadinya perubahan sosial yakni faktor yang “disengaja” (direncanakan) maupun “tak disengaja” (tak direncanakan). Berbagai faktor yang disengaja seperti masuknya ide-ide baru serta kesadaran akan perlunya perubahan pada kondisi yang lebih baik. Di satu sisi, perubahan sosial yang disebabkan oleh faktor yang tak disengaja seperti terjadinya bencana alam, pandemi yang meluas dan lain sebagainya. Berikut diuraikan lebih lanjut.

Faktor yang Disengaja (Direncanakan)
Masuknya ide-ide baru dalam suatu masyarakat hingga mendorong terjadinya perubahan struktur sosial kemasyarakatan merupakan perubahan sosial yang disengaja atau direncanakan. Hal tersebut dapat dimisalkan dengan bagaimana ide-ide mengenai kesetaraan derajat antarmanusia yang dibawa Islam melalui Muhammad mampu merombak struktur sosial masyarakat Mekkah yang jahilliyah. Begitu pula yang terjadi dalam gerakan antirasialisme kulit hitam Amerika Serikat pada dekade 1960-an yang digawangi oleh Martin Luther King.

Di satu sisi, kesadaran akan perlunya perubahan pada kondisi yang lebih baik juga terklasifikasi ke dalam faktor yang direncanakan dalam perubahan sosial. Hal tersebut dapat dimisalkan dengan terjadinya Revolusi Perancis tahun 1789 yang timbul akibat penindasan berlarut-larut kaum bangsawan terhadap rakyat jelata. Begitu pula dengan Revolusi Komunis Soviet tahun 1917, atau terjadinya gerakan Reformasi tahun 1998 di Indonesia akibat kesulitan ekonomi berkepanjangan yang melanda rakyat secara luas.

Namun demikian, satu hal yang perlu dicatat adalah, baik perubahan sosial akibat munculnya ide-ide baru atau kesadaran akan perlunya perubahan pada kondisi yang lebih baik pada umumnya tak terjadi secara bersamaan. Umumnya, salah satu mendahului yang lain, atau terjadi secara langsung dan searah begitu saja seperti munculnya ide-ide baru yang seketika menginspirasi terjadinya perubahan sosial. Berikut dua bentuk skema perubahan sosial yang direncanakan,

- Situasi ketertindasan → Ide-ide baru → Perubahan sosial
- Ide-ide baru → Perubahan sosial
Faktor yang Tak Disengaja (Tak Direncanakan)
Faktor perubahan sosial akibat perihal yang tak disengaja atau tak direncanakan dapat dimisalkan dengan terjadinya bencana alam atau pandemi virus yang meluas sehingga mempengaruhi angka kelahiran dan kematian penduduk (pertumbuhan penduduk/demografi) suatu masyarakat. Terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh dapat menjadi contoh konkret perubahan sosial yang tak disengaja, begitu pula dengan menyebarnya virus flu babi yang telah menelan banyak korban jiwa di Indonesia.
Ide-ide Menarik
Tahukah Anda bahwa ide Revolusi Perancis 1789 dilatarbelakangi oleh tiga kata saja, “Kebebasan, persamaan dan persaudaraan”. Di sisi lain, Revolusi Rusia 1917 sekedar diinspirasi oleh seuntai kalimat, “Beri kami tanah dan roti!”.
Teori-teori Perubahan Sosial
Terdapat berbagai teori mengenai perubahan sosial dalam sosiologi, antara lain teori evolusi sosial, teori struktural fungsional dan teori konflik. Berbagai teori tersebut tak hanya berupaya menjelaskan dan mendeskripsikan terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat, tetapi juga berupaya memprediksi bentuk perubahan sosial masyarakat di masa mendatang.

Teori Evolusi Sosial
Teori evolusi sosial meyakini bahwa masyarakat bergerak dari kondisi sederhana menuju pada kondisi yang lebih kompleks. Ide lain yang dibawa pemahaman ini adalah, masyarakat selalu bergerak menuju pada kondisi yang lebih baik. Perubahan yang terjadi guna menuju pada kondisi yang lebih baik tersebut terjadi secara perlahan-lahan, tidak tiba-tiba dan mendasar layaknya revolusi. Berikut berbagai tokoh beserta pemikirannya yang berada di balik pemahaman teori evolusi sosial.

* Auguste Comte
Masyarakat primitif → Masyarakat metafisika → Masyarakat positif
(Supranatural) → (Supranatural & Ilmiah) → (Ilmiah)

* Emile Durkheim
Masyarakat primitif (tradisional) → Masyarakat modern (kapitalis)
(Solidaritas mekanik) → (Solidaritas organik)

* Herbert Spencer
Survival of the fittest: manusia-manusia lemah, miskin dan tak berdaya dalam masyarakat akan mengalami “seleksi alam” dan tergantikan oleh mereka yang kuat, kaya dan berdaya.

* Karl Marx
Masyarakat primitif → Masyarakat feodal → Masyarakat kapitalis → Masyarakat Sosialis (Masyarakat komunis)

* W.W Rostow
Masyarakat tradisional → Masyarakat pra-Lepas landas → Masyarakat lepas landas → Masyarakat pematangan → Masyarakat konsumsi berlebih

Teori Struktural Fungsional
Teori struktural fungsional meyakini bahwa perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat merupakan upaya masyarakat guna mencapai keseimbangan atau kestabilan baru. Layaknya Durkheim, teori ini memandang masyarakat sebagai suatu organisme yang saling membutuhkan satu sama lain. Dalam berbagai kondisi, masyarakat berupaya beradaptasi dan menyusun kembali dirinya hingga menemukan keseimbangan baru yang lebih mantap (lihat kembali teori AGIL). Beberapa sosiolog yang mengusung pemahaman ini antara lain Talcott Parson, Robert K. Merton, Kingsley Davis dan Marion J. Levy. Konsep perubahan sosial dalam teori struktural fungsional dapat diilustrasikan sebagai berikut.
* Perang Dunia I → (Stabil) → Perang Dunia II → (Stabil)
* Krisis ekonomi 1930-an → (Stabil) → Krisis ekonomi 1950-an → (Stabil) → Krisis ekonomi 1970-an → (Stabil) → Krisis ekonomi 1990-an→ (Stabil) → dan seterusnya.

Dengan kata lain, konsep perubahan sosial dalam teori struktural fungsional dapat diibaratkan dengan seorang anak kecil yang tengah bermain mandi bola, dan ketika ia selesai bermain, maka bola-bola tersebut kembali rapi seperti sedia kala. Begitu pula, dapat dicontohkan dengan gelas berisi air yang dimasukkan kerikil ke dalamnya, seketika air dalam gelas tersebut akan beriak, namun kemudian kembali tenang seperti sebelumnya. Jarak antara bola yang sedang kacau dengan bola yang kembali rapi atau air yang tengah beriak dan kembali tenang adalah “perubahan”, pada akhirnya, dengan serta-merta kesemuanya kembali pada titik tenang atau stabil.

Teori Konflik
Teori konflik menganggap bahwa masyarakat merupakan suatu wadah di mana pertentangan dan persaingan guna memperebutkan kekuasaan terjadi. Perubahan sosial merupakan proses saling “jegal” dan menjatuhkan yang berlangsung tanpa henti di dalamnya. Teori ini terinspirasi oleh argumentasi Marx mengenai konflik kelas sosial dan sejarah umat manusia sebagai sejarah pertumpahan darah. Dengan demikian, teori ini memandang masyarakat dalam kaca mata konflik, tidak dalam persepsi harmonis sebagaimana dikemukakan teori struktural fungsional. Beberapa tokoh terkemuka dalam teori konflik antara lain Ralf Dahrendorf, C. Wright Mills dan Lewis Coser. Berikut beberapa ilustrasi mengenai teori konflik.

* Persaingan memperebutkan kursi kepala desa di suatu daerah.
* Pertentangan antara buruh pabrik dengan pemilik pabrik terkait upah kerja.
* Persaingan berbagai partai politik yang ada untuk memperoleh kekuasaan dalam pemerintahan.
Kehidupan Tokoh: C. Wright Mills


C. Wright Mills merupakan sosiolog asal Universitas Kolombia, Amerika Serikat. Di samping terkenal sebagai tokoh teori konflik, ternyata hidupnya dipenuhi pula oleh konflik. Ia berkonflik dengan siapa saja yang ditemuinya. Hal tersebut menyebabkannya terasing dan terkucil dari pergaulan teman-teman akademisinya yang lain. Namun demikian, hal tersebut tak begitu mengganggunya, ia tetap produktif menghasilkan karya-karya ilmiah serta konsisten pada sikapnya hingga akhir hayat.
Ide-ide Pokok
* Perubahan sosial adalah perubahan dalam segi struktur sosial kemasyarakatan.
* Perubahan sosial berbeda dengan perubahan kebudayaan.
* Perubahan sosial disebabkan oleh faktor yang direncanakan maupun tidak direncanakan.
* Berbagai teori sosiologi yang menjelaskan terjadinya perubahan sosial antara lain teori evolusi sosial, teori struktural fungsional dan teori konflik.