Kemerdekaan Untuk Kita..???

Kemarin seorang teman mengirim SMS. Dia bertanya, Apa beda kemerdekaan dan kebebasan? Kenapa tanggal 17-08-1945 bukan hari kebebasan Indonesia?

Tepat saat pesan SMS masuk, saya sedang membaca sebuah artikel di National Geographic Magazine. Artikel tersebut ditulis sekitar 50 tahun yang lalu, kemudian diterbitkan ulang oleh National Geographic Magazine Indonesia edisi bulan Agustus 2008. Sang wartawan, Beverly M. Bowie, menulis:

Masyarakat Indonesia sangat ramah, sangat sopan, sangat bersih---dan tidak terburu-buru. Di setiap daerah, siapapun bisa merasakan energi anak muda yang berlebih. Bertubuh lentur dengan proporsi yang baik dan berotot, mereka berjalan dengan kepala tegak, bangga, dan melangkah selincah penari---kenyataannya, sebagian besar diantara mereka dapat menari. Jarang sekali mereka meninggikan nada bicara kecuali ketika tertawa dan tampak tidak pernah marah.

Apa artinya keterkaitan kedua situasi yang secara kebetulan sedang saya alami itu? Mengapa situasinya begitu kontras dengan fakta sekarang? Kemudian, mengapa tidak ada istilah hari kebebasan?

Seketika saya membalas SMS tersebut. Begini: kemerdekaan itu berbentuk plural. Kemerdekaan identik dengan “kita”, sedangkan kebebasan identik dengan “saya”. Bentuk plural adalah sebuah klaim. Dia akan berevolusi menjadi sebuah pluralis imperialis. Yang akhirnya akan berkontras dengan dirinya sendiri.

Semisal, ketika saya mengatakan bahwa saya adalah cowok jomblo terhebat di dunia. Barangkali orang tidak akan merasa tertipu dengan pernyataan saya. Orang yang mendengar hal tersebut barangkali akan menganggap saya sebagai pembual gila. Dan tidak akan pernah menganggap saya memiliki keterkaitan dengan PJI (alias, Persatuan Jomblo Internasional) hahaha….Tapi hal tersebut lain jika dikatakan dalam konteks politik.

Kemerdekaan! Adalah sebuah klaim bagi pembenaran kekuasaan. Dia adalah klaim politik bagi sebagian orang yang sekarang disebut sebagai Founding Father. Segelintir orang dipercaya sebagai perwakilan sebuah bangsa. Sebuah kebetulan yang dirayakan sebagai peringatan kemerdekaan.

Bagi orang yang sering menggunakan akal sehatnya---dan sedikit jeli. Lenyapnya kolonialisme “bangsa lian” secara laten akan berevolusi menjadi “imperialisme” dalam bentuk yang baru. Perampokan gaya baru ini semakin mendapat legalitas serta jalannya nyaris mulus. Karena hampir belum pernah ditentang sekalipun.

Zaman sekarang, imperialisme dapat dilakukan dengan tiga cara. Yang pertama melalui kekerasan/perang, yang kedua melalui penguasaan penuh terhadap sistem moneter, Ketiga melalui strategi budaya.

Dalam sistem moneter, uang logam dirubah menjadi uang kertas. Surat hutang digunakan untuk biaya operasional politik/pemilu, pajak dikorupsi secara terang-terangan. Media massa memberi penjelasan panjang lebar tentang manfaat bonds—sekarang punya varian dengan nama sukuk! Pertanyaannya, dengan apa pemerintah membayar itu semua di masa depan? Yang jelas dengan uang dari individu-invidu yang bekerja keras!

Dalam bidang kebudayaan, Sejarah digunakan sebagai pembenaran bagi rezim penguasa. Dan kebenaran diplintir sedemikian rupa melalui ruang-ruang kelas yang disebut sebagai sistem pendidikan nasional.

Jalan imperialisme baru tersebut nyaris mulus. Karena sang imperium (pemerintah) telah berhasil menciptakan sebuah artificial enemy. Mereka sering menyebutnya "Barat", "Kapitalis" "Kafir Bejat" uppss..keceplosan…, "Kontra revolusioner", "Anti pembangunan", "Anti Reformasi", "Fundamentalis Pasar", "Pengacau Keamanan", "Pemberontak", "Pengganggu Stabilisator", "Pembangkang", "Anti Pancasila", dan "Anarkis"

0 komentar:

Posting Komentar