Bandung, 15 November 2012. Sebuah pabrik tahu di pinggiran
Awalnya eksperimen merubah tahu menjadi daging ini merupakan suatu usaha mulia untuk mengatasi masalah krisis pangan dan mahalnya harga hewan ternak, namun sebuah kesalahan fatal pun terjadi. Bioteknologi yang dikembangkan di laboratorium Berkah Jaya ternyata berkembang di luar kemampuan dan pengetahuan para ilmuwan, sehingga pada tanggal 2 Desember 2012, terjadi sebuah kecelakaan yang menyebabkan lepasnya Virus T (T dari kata Tahu) dari dalam laboratorium ke lingkungan bebas.
Pada tanggal 6 Desember 2012, tercatat 300 kasus di Rumah Sakit Borromeus dan Hasan Sadikin tentang orang-orang yang terjangkit Virus T ini. Dilaporkan bahwa pasien yang terkena virus ini mula-mula akan kehilangan kesadaran mereka, lalu seluruh daging di tubuh mereka akan berubah menjadi tahu, lalu membusuk dan menimbulkan penampilan yang menyeramkan. Pada stadium lanjut, pasien akan menjadi sangat agresif dan mulai menjadi makhluk karnivora buas yang kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya.
12 Desember 2012, para ilmuwan dari seluruh
20 Desember 2012, pemerintah Republik
Chapter 1:
The Day The Earth Poop Still
“Ibu! Ibu! Kita harus segera keluar dari
“Biarlah Bobi, kau saja yang menyelamatkan diri. Ibu akan tetap berada di sini, Nak,” ucap Ibu Bobi dengan tenang.
“Tapi Bu, kalau Ibu tidak keluar sekarang, Ibu tak akan bisa keluar selamanya! Dan Ibu mungkin akan menjadi santapan zombi-zombi tetangga kita!” ucap Bobi berusaha meyakinkan.
“Ibu… Ibu tak bisa pergi dari tempat ini….”
“Tapi kenapa? Bukankah Ibu belum terjangkit virus itu? Lagipula kita tak punya siapa-siapa lagi di sini!”
“Tidak, Bobi. Ibu tak bisa pergi, sebab Blacky tak mau pergi. Ia sudah terbiasa untuk pup di kamar mandi rumah ini, kalau kita membawa Blacky keluar dari sini, ia tak akan bisa pup lagi untuk selamanya…,” Ny. Silvia menagis tersedu-sedu.
Melihat ibunya satu-satunya menangis, Bobi ikut terharu. Ia menyadari perasaan ibunya itu, dan ia ikut menitikan air mata. Kemudian ia menggenggam tangan ibunya—dan tangan anjingnya.
“Baiklah, kalau itu memang sudah keputusan Ibu, aku akan pergi. Tapi aku berjanji, suatu saat nanti aku akan kembali lagi ke sini,” kemudian Bobi menatap Blacky, “tolong jaga Ibuku baik-baik ya.”
“Guk!” Blacky menggongong.
Kemudian mereka bertiga berpelukan dengan sangat erat selama beberapa saat, “Terima kasih, Anakku. Ibu berjanji, saat kau kembali lagi ke sini nanti, Ibu pasti sudah selesai melatih Blacky agar dia bisa pup dimana saja, dan pada saat itu kita bertiga bisa keluar dari kota ini,” ucap Ny. Silvia.
Untuk terakhir kalinya, Bobi menatap wajah ibunya dan anjingnya, lalu ia keluar dari rumah. Ia menaiki bus Damri yang berjurusan Leuwi Panjang-Gerbang Karantina. Selama di perjalanan, Bobi menelepon pamannya di
Setiap orang yang bermaksud untuk keluar dari dinding karantina saat ini harus diperiksa dulu apakah sudah terjangkit virus T atau belum. Cara memeriksanya mudah, karena berdasarkan penelitian bahwa orang yang sudah terinfeksi virus T akan menunjukkan ciri-ciri sebagai karnivora dan tak akan bisa menolak untuk memakan daging, maka setiap orang akan diperlihatkan sepotong daging steak yang tampak lezat, apabila orang tersebut bisa bertahan untuk tidak memakannya, berarti ia bersih dari virus T. Apabila ia gagal dan dinyatakan positif memiliki virus T di dalam tubuhnya, meskipun virus itu masih dalam tahap inkubasi, ia tetap tak diperbolehkan melewati gerbang dan diperintahkan untuk kembali ke rumahnya. Apabila pengidap virus T tersebut masih memaksa atau memohon untuk keluar dari perbatasan, para anggota TNI akan menembaknya sebagai bagian dari prosedur keamanan tingkat tinggi yang telah disetujui pemerintah.
Ketika Bobi tiba di dekat gerbang, keadaan sudah begitu kacau. Banyak orang yang memaksa keluar tanpa melalui pemeriksaan, dan oleh karena itu mereka langsung ditembak oleh sniper yang berjaga-jaga di gerbang perbatasan. Jalanan penuh genangan darah, mayat-mayat bergelimpangan setelah tertembak di hadapan Bobi, entah mereka sudah terjangkit atau belum. Bobi merinding melihatnya, dalam hati ia berpikir, apa yang akan dilakukannya kalau ternyata ia sudah terjangki virus T di dalam dirinya? Apakah ia akan memaksa keluar dan ditembak mati, atau kembali pulang ke rumahnya, pasrah sampai seluruh
Pembantaian… peeembantaian….
Pembantaian… peeembantaian….
Banyak yang ‘tlah dibantaiii….
Tapi orang semakin ramai…
Bingung, bingung, kumemikirnya….
Syalala… syalala…
(Dinyanyikan dengan irama lagu ‘Perdamaian’, diiringi suara rebana, dilengkapi dengan teks karaoke. Seluruh penyanyi memakai kerudung dan baju berwarna pink mencolok—dan kalung atau gelang dari emas.)
Ketika giliran Bobi untuk diuji, ia sempat tergoda ingin mencicipi daging itu, apalagi yang menjadi pengujinya adalah Pak Bondan, pembawa acara kuliner yang terkenal di tivi.
“Dik, daging ini lezat sekali lho… Dibuat dari daging sapi pilihan, dimasak dengan pas dan sempurna, diberi bumbu dan saus dari tujuh jenis bumbu yang nendang banget! Selain itu ya, dagingnya begitu empuk dan renyah, gurih dan nikmat…. Pokoknya… maknyusss deh! Cobain deh!”
Bobi sudah mulai mengendus-endus steak itu, baunya benar-benar harum dan menggoda, Pak Bondan memang tak berbohong soal hal itu. Ketika Bobi semakin mendekat dan mengambil garpu, Pak Bondan tersenyum lebar sambil memandangi Bobi, sementara tentara di sampingnya sudah bersiap-siap mengisi peluru. Bobi mengambil potongan steak dengan garpu, lalu ia dekatkan ke arah mulutnya, Pak Bondan tersenyum semakin lebar dan tentara di sebelahnya sudah mulai membidik. Tiba-tiba Bobi ingat. Ia berhenti dan meletakkan kembali potongan daging itu di atas piring. Pak Bondan tampak kecewa, ia mengambil sendiri garpu yang sudah diletakkan Bobby dan menyuapkan daging steak ke dalam mulutnya.
“Aduuh, sayang sekali, padahal ini benar-benar enak lho, Dik,” ia mengunyah daging itu dan tampak menikmatinya, “Mmmm…. Maknyuuu---“
DOR!
Pak Bondan roboh di hadapan Bobi, lalu dua orang tim medis segera membawanya dengan tandu dan meletakan mayatnya di dekat dinding perbatasan. Bobi terkejut bukan main, ia mengelus-ngelus dadanya dan mengucap syukur. Bobi pun dinyatakan bersih dari virus T, dan ia diminta mengisi
Beberapa menit kemudian, Bobi dipersilakan untuk melewati gerbang dan keluar dari wilayah karantina Kota Bandung. Bobi merasa lega, tapi juga sekaligus sedih, sebab itu artinya ia harus meninggalkan ibunya di dalam sana, dan entah kapan ia bisa kembali. Di luar gerbang, sudah banyak tukang ojek, supir angkot, atau supir taksi yang bergantian menawarkan jasa untuk pergi sejauh-jauhnya dari daerah berbahaya itu (selain beberapa penjual arbei, mochi, dan sale pisang). Bobi pun segera menerima tawaran supir taksi dan memberikan alamat pamannya di Jakarta. Ia membayar satu juta rupiah untuk taksi yang tidak memakai argo itu.
21 Desember 2012, hari yang bertepatan dengan ramalan suku Maya mengenai akhir peradaban, proses migrasi selesai, Kota Bandung dinyatakan tertutup untuk semua orang sampai waktu yang tidak terbatas. Tak ada yang boleh keluar dari sana, dan tak ada yang boleh masuk. Sepanjang dinding karantina, pihak militer membangun pos penjagaan dan akan menembak mati siapa saja yang berusaha keluar, atau masuk tanpa izin. Angkatan Udara juga selalu siap sedia di sekitar dinding untuk berjaga-jaga apabila ada intervensi dari pihak asing. Semenjak saat itu, Kota Bandung dikenal sebagai “Zona Z”, sebuah kota yang dipenuhi Zombi—setelah sebelumnya dikenal sebagai Zona F (F untuk Factory Outlet).






0 komentar:
Posting Komentar