Berbagai liga-liga di Eropa saat ini sudah mulai memasuki musim baru setelah kurang lebih sekitar 2 bulan lamanya kompetisi diliburkan. Saling sindir, saling hina, twit war menjadi salah satu ritual akhir pekan yang tidak dapat dihindarkan oleh para ribuan fans sepakbola. Persaingan sengit tidak hanya dirasakan oleh tim-tim klub sepakbola tapi juga para pendukungnya. Baik yang berada di Eropa sana maupun para pendukung yang tinggal ribuan mil dari klub kesayangannya.
Suatu fenomena yang cukup menggemaskan adalah ketika para penikmat sepakbola ini mulai melabeli satu sama lainnya antar pendukung dengan sebutan glory hunters. Menjadi suatu hal yang dianggap lumrah bagi para pendukung Liverpool yang klubnya terakhir juara ketika George Bush Senior masih menjadi Presiden Amerika Serikat, untuk melabeli para fans Manchester United sebagai glory hunters.
Para pencinta Manchester United juga ga akan mau kalah dan mensematkan para fans Chelsea dan Manchester City sebagai seorang glory hunters. Sedangkan bagi fans Arsenal, yang hingga kini sudah 7 tahun tanpa mampu memenangi apa-apa, merasa bangga karena diri mereka bukanlah seorang glory hunters dan menyematkan label itu pada fans United. Fans Arsenal tak bisa menuding fans Liverpool, mereka sudah lama-lama tidak mendapatkan gelar juara liga. Namun, saat ini sepertinya para penggemar klub-klub di Eropa khususnya Liga Inggris mungkin setuju bahwa label glory hunter saat ini paling pantas di sandang untuk para pendukung Manchester City. Well, semuanya merasa dirinya sebagai seorang suporter sejati.
Munculnya Para 'Glory Hunters'
Istilah glory hunters mulai dikenal pada sekitar medio tahun 90-an beriringan dengan mendunianya kompetisi liga inggris atau biasa di kenal sebagai Barclays Premier League. Secara harfiah Glory Hunter diterjemahkan sebagai pemburu kejayaan. Kejayaan identik dengan trofi untuk sebuah kompetisi sepakbola. Maka Glory Hunter bisa juga disebut pemburu trofi. Ini makna dasarnya yang dapat kita sepakati. Nah sekarang apakah semua klub sepakbola mesti menjadi Glory Hunter? Tentu semuanya berambisi untuk menjadi juara, mendapatkan trofi. Namun dari 20 klub yang berlaga di EPL setiap musim, hanya ada satu yang bisa menjadi juara EPL. Dan sejak Premier League bergulir di pertengahan 90-an, hanya 5 klub yang pernah menjadi juara (MU, Blackburn Rovers, Arsenal, Chelsea dan Manchester City). Lima belas dan lebih klub lainnya (termasuk yang terdegradasi) hanya bisa berambisi tanpa pernah merealisasikan ambisinya. Ekspektasi pun diturunkan, masing-masing klub akan memiliki ekspektasi internal. Mulai dari asal bertahan di EPL, lebih baik posisinya di klasemen daripada musim sebelumnya, mengincar papan tengah, mengincar posisi 4 besar, sampai yang benar-benar mengincar trofi juara.

Sorotan media yang sangat besar dengan kuantitas tayangan langsung keseluruh dunia yang semakin banyak membuat liga ini menjadi salah satu kompetisi terbaik di Eropa, bahkan salah satu yang terbaik di dunia. Beriringan dengan meningkatnya citra dan jangkauan yang semakin meluas, maka muncullah banyak penggemar baru klub sepakbola Eropa di negara lainnya, termasuk wilayah Asia. Berlainan dengan asal muasal suporter tradisional yang mendukung suatu tim karena faktor geografis atau demografis, fans-fans baru yang bermunculan ini mendukung tim tergantung siapa yang mereka lihat di televisi. Lazimnya manusia yang selalu ingin diasosiasikan dengan yang terbaik, maka lumrah bagi fans sepak bola jenis ini untuk mendukung tim yang mereka anggap bermain baik. Tidak ada kelekatan sejarah atau primordia karena memang terpaut jarak antara domisili mereka dengan klub-klub itu di tanah asalnya.
Standar yang menentukan untuk memilih tim sebenarnya cukup mudah, orang yang baru menonton sepakbola dan memutuskan untuk menyukainya akan dengan mudah dan cepat tertarik pada tim yang sedang berjaya ataupun menjadi juara pada musim tersebut. Well, tentu saja hal ini merupakan suatu hal yang wajar karena tidak ada faktor kedekatan apa-apa antara fans sepak bola kasual yang menyaksikan beribu-ribu kilometer jauhnya dari stadion lewat televisi dengan kota tempat klub tersebut berasal.
Nah, istilah glory hunters sendiri digunakan untuk mendeskripsikan fans sepak bola musiman yang tim kesayangannya berganti-ganti tergantung siapa yang sedang berjaya. Contohnya, pada akhir tahun 90-an, mendukung Manchester United, pertengahan medio 2000-an mendukung Chelsea, dan sekarang menjadi fans Barcelona. Ini adalah kasus ekstrim dan walaupun terdengar tak mungkin, saya kenal beberapa orang seperti ini. Fenomena glory hunters ini tidak terelakkan ketika modernisasi sepak bola terjadi dan olahraga ini merambah masuk ke budaya populer. Lapisan suporter tradisional mendapat kawan baru dengan masuknya penggemar-penggemar sepak bola kelas sofa yang meskipun berbagi keriaan, belum tentu berbagi sentimen emosional.
Glory Hunters kerap diasosiasikan dengan penonton sepak bola Eropa dari Asia karena memang di sinilah basis penggemar sepak bola jenis baru yang muncul setelah globalisasi sepak bola. Sepak bola Inggris, contohnya, adalah isu lokal bagi orang Inggris sampai ketika Premiership dan Sky Sports muncul menjadikannya isu global lewat siaran televisi. Maka wajar bagi anak-anak yang tumbuh besar di medio 90-an seperti saya untuk menggandrungi Manchester United. Demikian juga dengan mereka yang beranjak besar pada tahun 2000-an dan saat mereka menyalakan TV, mereka mendapati Chelsea sedang di puncak.
Tak sedikit juga orang yang memutuskan menjadi fans Arsenal pada musim 1997/1998 atau ketika era The Invincibles tahun 2004. Suporter Liverpool yang berusia dewasa, bukankah banyak dari mereka yang mulai menggemari pada dekade 1980-an, saat klub Merseyside tersebut sedang berjaya. Kita semua ingin diasosiasikan dengan kejayaan, atau setidaknya romantisme di saat dulu kita pertama kali melekatkan diri pada kejayaan.
Maka dari itu karena fans sepakbola tidak bisa mengupayakan glory tapi bisa menikmati glory, maka glory hunter adalah fans sepakbola yang berupaya untuk terus dapat menikmati glory setiap musimnya. Bagaimana caranya? Tidak lain adalah dengan cara berpindah klub yang didukung setiap musimnya. Dukung klub yang pada musim ini kira-kira kans juaranya paling besar dan bisa memberikan glory untuk fans. Jadi fans glory hunter ini bisa berganti klub setiap musim. Konyol bukan? Namun fans seperti ini benar-benar ada. Musim kemarin dukung United, musim ini dukung City karena Man City disinyalir lebih berpeluang juara. Dulu dukung Barca, sekarang dukung Madrid. Fans seperti inilah yang disebut glory hunter.
Makna Dari Sebuah Kemenangan (Glory)
Namun pada realitanya masing-masing pemain bola memiliki ekspektasi internal yang berbeda-beda sesuai kemampuan dan tempat bermainnya. Ada yang asal dapat kontrak yang lebih baik daripada sebelumnya, ada yang asal bisa bermain di EPL, ada yang ingin masuk timnas, dan tentu ada yang ingin menjadi juara. Mereka semuanya glory hunter, tapi glory di sini tidak selalu identik dengan trofi. Glory bisa juga berupa pemujaan dari fans karena mereka adalah pemain terbaik di klubnya, walaupun klubnya konsisten pengisi papan bawah klasemen. Glory bisa juga berarti kontrak baru yang mencapai nilai jutaan poundsterling per tahun, yang menempatkan mereka sebagai salah satu orang terkaya di daerahnya. Dalam setiap pertandingan tentu semua pemain ingin menang. Namun kekalahan bukanlah akhir kehidupan. Menang dan kalah tidak ditentukan sendiri, ada 22 pemain sepakbola di lapangan dan kontak antara 22 pemain tersebut dengan 1 bola itu yang menentukan hasil pertandingan.
Nah bagaimana dengan fans sepakbola? Fans sepakbola, walaupun sering disebut sebagai pemain ke-12 dalam satu pertandingan pada nyatanya sangat minim kontribusinya dalam hasil akhir sebuah pertandingan. Fans sepakbola bisa berteriak sampai suaranya habis dan timnya tetap kalah. Fans sepakbola tidak ikut bertanding, pada nyatanya ia hanya menonton pertandingan. Ia mendukung agar pemain-pemain klubnya bisa extra semangatnya. Namun apabila kemampuannya memang di bawah kemampuan lawan yang kondisinya prima, kekalahan tidak terelakkan. Fans sepakbola tidak memiliki keterlibatan aktif dalam menentukan hasil akhir pertandingan. Seorang wasit bahkan lebih “aktif” daripada fans sepakbola dalam hal ini (terutama wasit di liga yang diatur hasilnya), walaupun ia cukup meniup peluitnya tanpa harus berteriak.
Fans sepakbola tentu ingin klubnya mencapai hasil maksimal, yaitu juara. Namun ekspektasi fans juga berbeda-beda. Fans Blackburn yang pernah juara EPL misalnya, sekarang hanya akan berharap klubnya bisa sesegera mungkin promosi ke EPL. Fans Wigan akan berharap klubnya tidak terdegradasi tahun depan. Fans Liverpool yang mendominasi Liga Inggris tahun 80-an sekarang hanya berharap klubnya bisa masuk 4 besar. Fans City tentu berharap akan tetap jadi juara setelah 44 tahun lebih tidak pernah juara.
Ekspektasi yang berbeda-beda ini terjadi karena fans sepakbola yang sejati dapat menyatukan keinginan dengan realita. Namun, untuk fans sepakbola ini, mereka akan terus mendukung timnya, walaupun tidak menjadi juara. Fans sepakbola yang waras memahami bahwa bisa tidaknya timnya menjadi juara tergantung pada kualitas dan kinerja manajer dan pemain sepakbola dan dibandingkan dengan tim lawan. Fans hanya bisa mendukung secara finansial (beli merchandise, tiket pertandingan) dan secara moral (teriakan di lapangan, doa buat yang nonton di tv). Fans juga bisa menuntut untuk mengganti pelatih yang tidak berhasil, atau menjual pemain yang jelek atau membeli pemain yang bagus. Walaupun keputusan final tetap ada di tangan manajemen klub.
Fans sepakbola sejati ekspektasinya tidak melulu soal trofi juara, mereka melihat kondisi tim dari tahun ke tahun. Fans sepakbola yang waras ini bukan Glory Hunter. Maka jangan heran masih ada yang menjadi fans Liverpool misalnya, walaupun sudah 20 tahun lebih tidak pernah juara liga Inggris.
Dari penjelasan diatas, silahkan ambil kesimpulan sendiri. Apakah anda seorang glory hunter atau seorang pendukung sepakbola sejati?