Perkembangan Sosiologi setelah Perang Dunia ke II

Perkembangan sosiologi setelah Perang Dunia II banyak dipengaruhi perkembangan sosiologi di dalam dunia kampus perguruan tinggi. Mata kuliah sosiologi untuk pertama kali diajarkan dalam bahasa Indonesia oleh Soenario Kolopaking pada Akademi Ilmu Politik di Yogyakarta yang kini dilebur ke dalam Universitas Gadjah Mada dan menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Selain itu dibukanya kesempatan bagi mahasiswa Indonesia untuk memperdalam ilmu sosiologi di luar negeri menjadi pendorong berkembangnya sosiologi di Indonesia.
Selain itu perkembangan sosiologi di Indonesia didukung oleh munculnya buku-buku sosiologi karangan orang Indonesia dengan menggunakan Bahasa Indonesia dan hadirnya buku-buku sosiologi dari luar negeri dalam bahasa terjemahan. Djody Gondokusumo (Sosiologi Indonesia) merupakan buku yang mulai diterbitkan setelah pecahnya revolusi fisik dan memuat beberapa pengertian dasar dari sosiologi yang teoritis dan bersifat sebagai filsafat. Hassan Shadily (Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia) merupakan buku pelajaran pertama berbahasa Indonesia yang memuat bahan-bahan sosiologi yang modern dan dijadikan bahan ajar bagi para mahasiswa yang mulai belajar sosiologi sebagai ilmu pembantu. Mayor Polak (Sosiologi Suatu Pengatar Ringkas, dan buku yang berjudul Pengantar Sosiologi Pengetahuan, Hukum dan Politik).
Selo Soemardjan juga menulis buku yang merupakan desartasinaya untuk memperoleh gelar doctor di Cornell University, AS yang berjudul Social Change in Yogyakarta. Selaian itu, Selo Soemardjan melalui bukunya yang ditulis bersama Soelaiman Soemardi dengan judul Setangkai Bunga Sosiologi dipakai sebagai bahan wajib pada beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta. Untuk selanjutnya, atas jasa-jasa Selo Soemardjan dalam mengembangkan sosiologi di Indonesia, beliau sering dianggap sebagai Bapak Sosiologi Indonesia.

Sifat Hakekat Sosiologi

Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi dalam (Soekanto, 1982:20-23) mengungkapkan mengenai beberapa sifat hakikat sosiologi sebagai berikut:
  1. Sosiologi adalah suatu ilmu social dan bukan merupakan ilmu pengetahuan alam ataupun ilmu pengetahuan kerohanian.
  2. Sosiologi bukan merupakan disiplin yang normative, akan tetapi merupakan disiplin yang kategoris. Artinya sosiologi membatasi pada apa yang terjadi dewasa ini, bukan mengenai apa yang terjadi dan seharusnya terjadi.
  3. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan murni (Pure Science) dan bukan merupakan ilmu pengetahuan terapan yang terpakai (Applied Science)
  4. Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang abstrak dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang konkret. Artinya, bahwa yang diperhatikan adalah bentuk dan pola-pola peristiwa dalam masyarakat tetapi bukan wujudnya yang konkret.
  5. Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umum. Artinya, sosiologi meneliti dan mencari apa yang menjadi prinsip atau hukum-hukum umum dari interaksi antar umat manusia dan juga perihal sifat, hakikat, bentuk, isi, dan struktur masyarakat manusia.
  6. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan rasional. Artinya, bahwa hal ini berkaitan denngansoal metode sosiologi yang digunakan.
  7. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang umum dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang khusus. Artinya, sosiologi mempelajari gejala umum yang ada dalam setiap interaksi antar manusia.

Pengertian Sosiologi

Soekanto (1982:57) mengungkapkan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial, termasuk di dalamnya perubahan-perubahan social. Lebih lanjut dijelaskan bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan kemasyarakatan yang kategoris, murni, abstrak, berusaha memberi pengertian-pengertian umum, rasional, empiris dan bersifat umum.
Masih dalam sumber yang sama dipaparkan mengenai beberapa definisi sosiologi dari beberapa ahli sebagai berikut:
  1. Pitirim Sorokin, mengatakan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka gejala social, gejala social dengan gejala non social, dan ciri-ciri umum semua jenis gejala social.
  2. Roucek dan Warren, mengatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang hubungan anatara manusia dalam kelompok-kelompok.
  3. William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff, berpendapat bahwa sosiologi adalah penelitian seara ilmiah terhadap interaksi social dan hasilnya yaitu organisasi social.
  4. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi menyatakan bahwa sosiologi atau ilmu masyarakat adalah adalah ilmu yang mempelajari struktur social dan proses-proses social, termasuk perubahan social. (Soekanto, 1982:19)

Ciri-Ciri Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan

Johnsons, 1967 (dalam Soekanto,1982:14-15) mengemukakan ciri-ciri sosiologi sebagai Ilmu pengetahuan. Adapun ciri-ciri utamanya adalah sebagai berikut:
  1. Sosiologi bersifat empiris. Artinya sosiologi didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif.
  2. Sosiologi besifat teoritis. Artinya sosiologi selalu berusaha menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi.
  3. Sosiologi bersifat kumulatif. Artinya bahwa teori sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas atau memperhalus teori-teori lama.
  4. Sosiologi bersifat non-etis. Artinya permasalahan yang dipersoalkan bukanlah buruk atau baiknya fakta tertentu, akan tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis.

Introduction

Hello, let’s join with radhitisme online in sociology education. In this part we’ll discuss about why did the sociology was studied as one of the lesson at the school? Why did the sociology become a lesson at the tertiary educational institutions? Why many people did consider that sociology identic with any criminal action, poverty, dirty of settlement, vagrant, prostitutions, demonstration and any bad image other? Why there were parts of the people consider that sociology as producer of trouble maker society? Why sociology did ever be considered as a dangerous ideology?

Some questions above is not true with sociology image now. Now, sociology be interest knowledge for many people in the world. Sociology present so had become a medium strategic to social problem solving. Only to develop the word about sociology, take attention the social behavior on the one of isolated ethnic. Do they know the mean of sociology? Do they understand that they are became as object for knowledge of sociology? Had they aware that specialist of sociology has study their behavior with any research method and theoretical sociology? Can the isolated ethnic make a analysis to behavior them self in the sociological perspective? In the fact, what’s sociology? Why do we need learn it’s?

The problems context above is main lesson that must answer after learn this chapter. It’s doesn’t only read the material in my website radhitisme, it’s more important if you cab be able to understand what our behavior and our community in beside us on the sociological perspective. Lets study next with me in radhitisme online and remain to save your spirit....

Antara Angin dan Dia

aku terbaring menatap langit-langit kamar dan aku ingat sesuatu
tak sekedar ingat, tapi cukup bergaung di kepala penjelasan pak hamdani
personifikasi yang membuat kematian menjadi hidup
baru saja deras hujan yang tertiup angin membuatku membayangkan masa lalu
ku beranjak, ku kenakan sebuah baju tebal kesayangan pemberiannya
karena aku khawatir bila membuatnya khawatir kalau sampai angin merasuk tubuh ku

angin pernah membantu ahmad dhani ketika jatuh cinta
dia meminta angin untuk menyampaikan pesan cintanya, lalu angin bersenandung
apa aku jatuh cinta? angin membuat ku jatuh cinta?
ku tanyakan berulang hal itu di kepala ku, apa aku jatuh cinta?
ku buka memori lalu ketika ku ingat personifikasi, itu masa smp ku
yaa, kini ku ingat aku pernah berkeluh kesah pada angin tentang cinta ku

lalu ku mulai menulis hal indah tentangnya yang masih ku ingat
ah, tentu ku ingat karena ku fikir saat mencintai dengan tulus, setiap momen pasti terkenang
alm. pak ginting pernah berkata 'berfikirlah 1x lebih banyak dari orang biasa'
aku mencintai dia, sejak dulu, kini dan mungkin nanti karena aku tulus
kini ku minta angin menyimpan rasa ini, bawalah kemana kau mau wahai angin
ku mau kau menjaga dia, menjaga rasa itu agar tetap ada meski tak ada bagi nya.

sekarang ku duduk di teras bagai craig david yang sedang insomnia
menatap langit gelap tertutup awan mendung dan hujan
hanya kamu wahai angin, membelai ku dan menarik baju tebal ku
aku tahu kamu ingin mengajak ku bergerak menata esok
aku tahu pula kamu mengerti hidup ku harus tetap berjalan seperti mu
untuk mu wahai angin, simpanlah rahasia bahwa sejak lama aku mencintainya



Menciptakan Lingkungan Perumahan Perkotaan yang Berkualitas


-->
Kualitas suatu lingkungan merupakan salah satu persoalan utama di dalam perancangan kota dan selalu menjadi perdebatan. Perdebatan tersebut tidak terlepas dari dinamika pendekatan masalah perancangan kota itu sendiri sebagai bagian dari sebuah proses pembangunan kota yang bersifat multidimensi. Orientasi perancangan kota yang ada pada ada pada awalnya cenderung melihat persoalan kualitas lingkungan kota secara fisik (sosial) juga mulai bergeser pada isu-isu yang lebih berkelanjutan. Akan tetapi, permasalahan tidak berhenti sampai disitu saja karena konsep dasar keberlanjutan itu sendiri mencakup beberapa dimensi di dalamnya yaitu dimensi sosial, lingkungan (ekologis), maupun ekonomi. Dengan demikian ukuran kualitas lingkungan kota menjadi suatu hal yang tidak sederhana seperti yang dipikirkan.
Prinsip perancangan kota karenanya harus menawarkan harapan akan pertumbuhan ekonomi serta mendorong peningkatan kualitas hidup dan menjadikan kota mejadi lebih berkelanjutan (Moghtin, 1996). Berbagai pendekatan muncul dan salah satu yang banyak digunakan untuk meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan yang berkelanjutan adalah dimensi ekologi. Pendekatan ini merupakan respon atas berbagai kenyataan yang memperlihatkan besarnya skala dampak yang ditimbulkan akibat dari kerusakan lingkungan. Kualitas lingkungan perkotaan karenanya tidak cukup hanya dikaitkan dengan aspek fisik yang terkait visual dan spasial. Kualitas lingkungan perkotaan juga harus dilihat dari kemampuannya menjadi tempat tinggal dan bekerja yang menyenangkan serta mampu mendorong keragaman hayati, integritas ekologi serta menjaga sumberdaya alamiah.
Kriteria kualitas lingkungan tersebut tampaknya perlu menjadi perhatian terutama dalam pengembangan perumahan di perkotaan. Sebagai bagian dari sistem perkotaan, pengembangan perumahan mempunyai pengaruh sangat penting terhadap kualitas lingkungan perkotaan. Pengembangan perumahan mampu mendorong kapasitas pertumbuhan dan peningkatan kualitas lingkungan perkotaan baik secara sosial maupun fisik. Namun banyaknya kebutuhan lahan untuk pengembangan perumahan berdampak pada berkurangnya kemampuan lingkungan alam. Untuk itu pengembangan perumahan perkotaan harus dapat mengefisienkan dan mengefektifkan penggunaan sumberdayanya yang sangat terbatas khususnya tanah perkotaan.
Saat ini dalam memenuhi kebutuhan perumahan, pemerintah terus mendorong pemilikan rumah melalui pengembangan perumahan menengah ke bawah. Upaya tersebut tidak lepas dari banyaknya manfaat pemilikan rumah baik secara sosial, ekonomi maupun lingkungan. Pemilikan rumah diyakini dapat membantu menstabilkan lingkungan ketetanggaan (neighborhood) dan memperkuat komunitas. Strategi ini juga menciptakan insentif bagi lingkungan dan individual yang penting untuk memelihara dan memperbaiki properti pribadi dan ruang publik. Semua itu merupakan syarat untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang berkualitas. Namun pemilikan rumah oleh keluarga menengah ke bawah ternyata tidak otomatis menghadirkan manfaat secara optimal.
Orientasi pengembangan yang lebih terfokus pada kuantitas daripada kualitas telah mempengaruhi buruknya kualitas lingkungan perkotaan seperti diindikasikan dengan fenomena rumah kosong pada perumahan menengah ke bawah. Kondisi tersebut menyebabkan lingkungan perumahan mengalami penurunan kualitas akibat rumah-rumah dibiarkan kosong. Hal yang tampak menjelaskan bahwa faktor prasarana dasar mempunyai pengaruh menentukan kualitas lingkungan perumahan. Pentingnya peranan faktor ini dapat menjadi dasar strategi untuk meningkatkan kualitas lingkungan perumahan di perkotaan.
Tuntutan tersebut tentunya sulit untuk realisasikan apabila diterjemahkan secara sempit oleh para pengembang perumahan. Untuk menaggulangi persoalan kualitas prasarana dasar tersebut pemerintah seharusnya dapat mengambil alih peran penyediaan yang selama ini dibebankan kepada para pengembang. Dengan demikian tidak ada upaya penurunan kualitas oleh pengembang sehingga pengembangan perumahan menjadikan lingkungan perkotaan yang lebih berkualitas yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi serta sosial dan mendorong peningkatan kualitas hidup dan menjadikan kota lebih berkelanjutan.

Lagu-lagu masa kecil kita ternyata menyesatkan

Ternyata lagu anak-anak yang populer banyak mengandung kesalahan, mengajarkan kerancuan, dan menurunkan motivasi. Berikut buktinya:

1. “Balonku ada 5… rupa-rupa warnanya… merah, kuning, kelabu.. merah muda dan biru… meletus balon hijau, dorrrr!!!” Perhatikan warna-warna kelima balon tsb., kenapa tiba2 muncul warna hijau ? Jadi jumlah balon sebenarnya ada 6, bukan 5!

2. “Aku seorang kapiten… mempunyai pedang panjang… kalo berjalan prok..prok.. prok… aku seorang kapiten!” Perhatikan di bait pertama dia cerita tentang pedangnya, tapi di bait kedua dia cerita tentang sepatunya (inkonsistensi) . Harusnya dia tetap konsisten, misal jika ingin cerita tentang sepatunya seharusnya dia bernyanyi : “mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang)… kalo berjalan prok..prok.. prok..” nah, itu baru klop! jika ingin cerita tentang pedangnya, harusnya dia bernyanyi : “mempunyai pedang panjang… kalo berjalan ndul..gondal. .gandul.. atau srek.. srek.. srek..” itu baru sesuai dg kondisi pedang panjangnya!

3. “Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku..” Perhatikan setelah habis mandi langsung membersihkan tempat tidur. Lagu ini membuat anak-anak tidak bisa terprogram secara baik dalam menyelesaikan tugasnya dan selalu terburu-buru. Sehabis mandi seharusnya si anak pakai baju dulu dan tidak langsung membersihkan tempat tidur dalam kondisi basah dan telanjang!

4. “Naik-naik ke puncak gunung.. tinggi.. tinggi sekali.. kiri kanan kulihat saja.. banyak pohon cemara.. 2X” Lagu ini dapat membuat anak kecil kehilangan konsentrasi, semangat dan motivasi! Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang tinggi tetapi kemudian ternyata setelah melihat jalanan yg tajam mendaki lalu jadi bingung dan gak tau mau ngapain, bisanya cuma noleh ke kiri ke kanan aja, gak maju2!

5. “Naik kereta api tut..tut..tut. . siapa hendak turut ke Bandung .. Surabaya .. bolehlah naik dengan naik percuma.. ayo kawanku lekas naik.. keretaku tak berhenti lama” Nah, yg begini ini yg parah! mengajarkan anak-anak kalo sudah dewasa maunya gratis melulu. Pantesan PJKA rugi terus! terutama jalur Jakarta- Bandung dan Jakarta-Surabaya!

6. “Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul2 sepanjang hari dg tak jemu2.. mengangguk2 sambil bernyanyi tri li li..li..li.. li..li..” Ini juga menyesatkan dan tidak mengajarkan kepada anak2 akan realita yg sebenarnya. Burung kutilang itu kalo nyanyi bunyinya cuit..cuit.. cuit..! kalo tri li li li li itu bunyi kalo yang nyanyi orang, bukan burung!

7. “Pok ame ame.. belalang kupu2.. siang makan nasi, kalo malam minum susu..”
Ini jelas lagu dewasa dan untuk konsumsi anak2! karena yg disebutkan di atas itu adalah kegiatan orang dewasa, bukan anak kecil. Kalo anak kecil, karena belom boleh maem nasi, jadi gak pagi gak malem ya minum susu!

8. “nina bobo oh nina bobo kalau tidak bobo digigit nyamuk”
Anak2 indonesia diajak tidur dgn lagu yg “mengancam”

9. “Bintang kecil dilangit yg biru…”
Bintang khan adanya malem, lah kalo malem bukannya langit item?

10. “Ibu kita Kartini…harum namanya.”
Namanya Kartini atau Harum?

11. “Pada hari minggu ku turut ayah ke kota. naik delman istimewa kududuk di muka.”
Nah,gak sopan khan..

12. “Cangkul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung dikebun kita…”
kalo mau nanam jagung, ngapain nyangkul dalam-dalam

Membaca Jaman dari Sajak di Sebuah Buku

Sebuah jaman adalah sebuah buku. Meski belum tentu menarik, ia selalu bersedia untuk dibaca. Tanggal-tanggal yang telah lampau menjelma menjadi nomor-nomor halaman. Apa yang dilakukan pemimpin, mungkin menjadi judul dari tiap-tiap bab. Dan tentang rakyat, terkadang ia menjelma sekedar sebagai catatan kaki. Ia sebuah buku, dengan daftar isi kemerdekaan atau kolonialisasi. Ia sebuah buku, dengan prolog preambule konstitusi, dengan epilog yang tak pernah pasti.
Dan pada suatu hari yang telah lampau, seorang pemuda dari Tapanuli menyadari hal ini. Ia mengumpulkan rekaman jaman, membuatnya sebagai sebuah buku, lalu memberinya pengantar. Bahwa sebuah pekerjaan untuk memaparkan geliat manusia dan ragam tingkahnya, serta memahami perubahan keadaan, telah diambilnya. Sementara itu sejarah berjalan.. Demikian kepada para pembaca ia mencoba mengantar.
Pemuda itu adalah seorang guru di Palembang, yang kemudian memimpin Pandji Pustaka. Namanya Sutan Takdir Alisjahbana. Dan buku itu adalah kumpulan Puisi Baru. Terbit sembilan bulan setelah kemerdekaan Republik. Tercetak angka 1946, bersampul tipis berwarna kuning hitam.
Dan begitulah sebuah jaman yang dibukukan. Lalu kita dibawa untuk membaca keadaan. Ada cinta, desa, perjuangan, impian kemerdekaan.
Lihatlah sekelumit kecil petikan bait-baitnya:
Dalam Masjarakat (Abdoel Hadi, 1914)
--
Hatiku gemas bertjampur sedih,
Mikirkan nasib kami melarat.
Ideaal benderang melambai djiwa
Badan diikat rantai masjarakat
--
Fantasi
--
Bendera perdjuangan berkibar lagi,
Gembira bertepuk atas kepalaku
Darahku melantjar gembira pula
Debar-berdebur dalam dadaku
--
Marhaen (Sanoesi Pane, 1905)
--
Dewata lupa kepada kami,
Kaum marhaen anak sengsara,
Kami bekerdja setengah mati,
Orang bersenang tertawa-tawa
--
Menjiangi Padi (A.Rivai, 1876)
--
Tengah naik gerang matahari
Anak dara menjiangi padi,
Rumput dikais sambil berdendang,
Berpantun bersadjak menundjukkan sajang
--
Sajak itu telah berhasil merekam wajah jaman. Sebuah kebijaksanaan telah menyatukan dalam sebuah 'kumpulan tulisan para penyair' agar sebuah masa tetap terjaga keutuhannya. Kemudian lebih dari setengah abad sesudahnya, kita bisa mengamini sambil bergeleng kepala: bahwa menyiangi padi tak mungkin lagi menjadi inspirasi, bahwa bendera tak jauh dari sekedar upacara, dan kemelaratan tetap ada.
Lebih dari setengah abad kemudian, seorang Taufiq Ismail masih menuliskan dalam '12 Mei '98':
/
Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu
Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom
abad duapuluh satu
Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi
kalian tertinggi di Trisakti bahkan di seluruh negeri, karena
kalian berani mengukir
alfabet pertama dari kata reformasi-damai
dengan darah
arteri sendiri,
Tapi sebuah jaman adalah sebuah buku. Meski belum tentu menarik, ia selalu bersedia untuk dibaca. Tentang keadaan yang nyatanya tidak berubah, Amir Hamzah dalam Padamu Djua telah lama berseru
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu.

Cinta Si Semut Kecil


"Aku mencintaimu."
Sejenak ia terdiam mendengar ucapan makhluk hitam mungil itu. Menatapnya tak bergerak. Lalu sejenak jadi dua jenak, lalu tiga jenak, empat jenak dan pada jenak kelima, meledaklah tawanya.
Semut kecil itu merengut kesal mendengar tawa si macan betina. Padahal ia sudah sungguh-sungguh mengerahkan seluruh keberaniannya dan menyatakan cintanya pada macan cantik pujaan hatinya.
"Aku serius lho!" ujarnya lagi.
Si macan menghentikan tawanya, lalu berbatuk-batuk yang dibuat-buat. "Ehem. Ehem. Ehem." Lalu ia menatap si semut kecil. Ia berusaha untuk serius, tapi tak bisa menahan rasa gelinya sehingga bibirnya terus menerus tersenyum lebar seakan mengejek. "Semut, maaf ya. Kamu itu tidak sepadan buatku. Kita ini bagaikan langit dan bumi. Bulan dan matahari. Siang dan malam. Lautan dan daratan. Surga dan..."
"Cukup cukup cukup!" potong semut sambil menutupi kedua antenanya dengan kaki depannya. "Aku mengerti maksudmu, macanku. Aku sadar kita memang berbeda. Tapi apa cinta peduli dengan semua itu?"
Macan menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Aneh sekali kamu ini, semut. Bukannya kamu ini diciptakan untuk mencintai ratumu, tapi kenapa kamu malah mencintai aku? Apa kau tidak tahu bahwa aku ini pemakan daging?" Macan betina itu memamerkan taringnya yang tajam.

Semut tertawa melihat kelakuan macan. "Macanku, alih-alih membuatku takut, kamu malah membuatku semakin terpesona padamu. Lagipula kau tidak suka daging semut kan?"
Macan pun tertawa. "Tentu saja. Aku harus memakan ribuan makhluk seukuranmu untuk mengenyangkanku. Yang benar saja!" Lalu macan betina itu berkata dengan hati-hati pada si semut karena kini entah kenapa ia yakin si semut tidak bercanda. "Tapi maaf ya, semut. Bagaimana pun juga, seekor betina sepertiku tentunya mencari jantan yang bisa melindungiku. Bagaimana mungkin kau bisa melakukannya dengan tubuh sekecil itu? Apa kau ingat? Bukankah malah aku yang melindungimu waktu itu."
Semut pun terdiam mendengar kata-kata macan. Memang seminggu yang lalu, dirinya hampir mati tenggelam karena jatuh dari pohon tempat tinggalnya. Untunglah ia terjatuh tepat di atas daun yang mengambang di atas permukaan sungai, tapi celakanya kaki-kaki mungilnya hanya difungsikan untuk mencari makan, bukan mendayung. Jadilah si semut terancam akan mati kelaparan bila saja tidak ada si macan betina yang kebetulan lewat menyelamatkannya dari sungai itu. Itulah perjumpaan pertama mereka.
"Tapi aku yakin. Aku bisa melindungimu, macanku."
Macan betina hanya mengangkat bahu. "Kuharap begitu, semut. Jika memang begitu adanya, aku bersedia menjadi kekasihmu."
Semut pun girang mendengarnya. Di hari-hari selanjutnya, ia selalu mengawasi kemana pun si macan betina pergi. Dengan penuh tekad, akan melindungi macan. Macan pergi ke kiri, semut ikut ke kiri. Macan ke kanan, semut ikut ke kanan dan begitu seterusnya.
Hingga suatu hari, macan kesal dengan tingkah si semut. "Berhentilah mengikutiku! Kau membuatku kesal! Lagipula sudah ada macan jantan yang menyukaiku, kau bisa membuat semuanya jadi berantakan!"
Semut sangat terpukul mendengarnya. Dengan penuh rasa kepedihan di hati, ia memenuhi permintaan si macan. Bila memang pujaan hatinya bahagia tanpa dirinya, maka ia tidak akan keberatan bila harus menderita.
Hari demi hari berlalu. Namun semut tidak dapat melupakan cintanya pada macan betina yang cantik itu. Kerinduannya yang sudah menumpuk hampir meledak di dadanya, hingga akhirnya tak tertahan itu yang mendorongnya untuk keluar dari sarangnya dan pergi ke pinggir sungai, tempat macan itu biasa berada. Tidak usahlah ia menyapa. Cukup baginya untuk hanya melihat pujaan hatinya dari jauh. Karena itu betapa girang hatinya begitu melihat si macan betina sedang duduk di tempat biasa mereka berbincang dulu.
Tetapi selanjutnya, semut tercengang begitu menyadari bukan hanya mereka berdua saja yang ada di tempat itu. Sosok raksasa ribuan lipat kali besarnya dari dirinya membuat tubuhnya terasa dingin. Raksasa itu mirip dengan monyet, tetapi lebih besar dan lebih kejam. Ia tahu dari ratunya, bahwa raksasa itu bernama manusia. Dan manusia selalu membawa benda seperti batang kayu panjang yang bisa meneriakkan maut pada penghuni hutan yang dibidiknya.
Sekarang manusia itu sedang mengarahkan batang kayu itu pada macan betina yang sedang duduk-duduk di pinggir sungai. Macan tidak menyadari akan adanya ancaman maut di dekatnya.
Tanpa pikir panjang, semut berlari sekencang mungkin menghampiri kaki putih berbulu manusia itu dan menggigit sekencang-kencangnya. Ia hanyalah semut pekerja dan tidak memiliki gigi setajam semut petarung, tapi rupanya cukup untuk membuat si manusia berteriak kesakitan.
Semut pun lega karena teriakan sekencang itu pasti akan menyadarkan macan akan keberadaan si manusia. Namun malang menimpanya, sebuah tepukan menyakitkan mendarat di tubuhnya. "Semut sialan!" umpat manusia.
Kemudian manusia itu menoleh untuk melihat macan buruannya. Betapa kagetnya ia begitu melihat ternyata macan buruannya itu sudah berada di dekatnya dan dengan ganas menerkamnya. Manusia berteriak ketakutan. Dengan sedikit pergumulan, ia pun berhasil membebaskan diri dari cengkeraman si macan dan mengambil langkah seribu membawa serta batang kayunya.
Sesudah itu, macan menemukan semut yang mencintainya sedang terbaring di atas dedaunan kering dalam keadaan mengenaskan. Kakinya hanya tinggal dua, antenanya patah dan tubuhnya nyaris remuk. Namun rupanya Tuhan masih memberikan kesempatan baginya untuk mengucapkan salam perpisahan bagi pujaan hatinya.
"Jangan.. menangis, macanku. Kau lihat? Aku.. bisa melindungimu dengan tubuh kecilku." Kemudian lepaslah nyawanya.
Macan betina itu meraung penuh kesedihan dan penyesalan. Ia sendiri merindukan hari-hari bersama si semut kecil. Hari-hari yang jauh lebih berharga, dibandingkan hari-hari yang dihabiskannya belakangan ini bersama seekor macan jantan kuat namun membosankan.
Bila saja bisa memutar waktu, ia tidak akan pernah meragukan kesungguhan hati si semut. Mengapa ia bisa dibutakan oleh keadaan fisik? Tapi semuanya sudah terlambat, yang tersisa hanyalah penyesalan.

Jika Mencintaimu adalah...

Jika mencintaimu adalah mendengarkan semua nasihat darimu dengan penuh khidmat sembari meminum dinginnya air di terik siang, maka akan kulumat semua nasehatmu tanpa bisa kumuntahkan kembali.
Jika mencintaimu adalah mengajarkanku menelusuri peta-peta kota Jakarta dengan baik tanpa didampingi lagi olehmu, maka akan kukatakan pada diriku sendiri bahwa kau sedang mengajariku mandiri.
Jika mencintaimu adalah melaksanakan kata menunggu kala tengah malam bahkan sampai aku tertidur lalu bangun kembali di depan layar monitor hanya untuk berkata syukurlah kau sudah pulang dengan selamat, maka kata menunggu tak lagi membosankan untukku tapi kini menjadi sebuah kenikmatan yang sulit aku lukiskan.
Jika mencintaimu adalah tentang bagaimana menerima sisi buruk dan baik seorang manusia dengan mengambil hikmah dari apa yang telah Tuhan ciptakan tentang baik dan buruk, maka sebuah keburukan maupun kebaikan kini memiliki kata seimbang bagiku.
Jika mencintaimu adalah memperlajari seorang pria yang tidak suka minum kopi dan akhirnya terpaksa meminumnya dengan alasan ditraktir, maka aku belajar bagaimana menghargai pemberian yang tidak kita suka dari orang lain.
Jika mencintaimu adalah mengajarkanku bagaimana bersosialisasi dengan baik, maka perlahan kucari celah darimu lalu kupinta kau mengelurkanku dari alam maya yang penuh kamuflase ini.
Jika mencintaimu adalah mencari dan memperhatikan tiap detail apa yang kamu lakukan dari hari ke hari, maka diam-diam aku selalu berdoa untukmu agar setiap detail yang kamu lakukan akan menjadikanmu lebih baik dari hari kemarin. Berdoa agar kau selalu diberi perlindungan dari bahaya apapun karena hanya dengan doa aku mencintaimu.
Jika mencintaimu adalah tentang bagaimana mengendalikan kata cinta itu sendiri atas nama tahu diri, maka aku akan melakukannya asal tidak berjauhan denganmu, asal kau tidak pergi.
Jika mencintaimu adalah sebuah harapan dilema, maka aku akan mencari hikmah kenapa aku harus mencintaimu.
Jika mencintaimu adalah suatu pembenaran bahwa cinta ini bukan aku yang mau dan cinta ini bukan tercipta dari keinginan semata, maka aku akan menutup telingaku rapat-rapat atas perkataan orang-orang yang cenderung menyalahkanku mencintaimu. Kupikir tidak ada yang salah dan dosa dari cinta.
Jika mencintaimu adalah mengeja tiap butir air mata yang jatuh karena kerinduan, maka aku belajar bagaimana mengatasi bias rindu tanpa obat.
Jika mencintaimu adalah menikmati tiap detak jantung dan menghitung kecepatan debarannya ketika aku tanpa sengaja menyebut namanu, maka diam-diam aku sedang bejalar matematika kehidupan.
Jika mencintaimu adalah merasakan kehangatan untuk pertama kalinyan di antara tusukan-tusukan air hujan, maka kini aku tahu betapa nyamannya jika ada seorang pria yang memberikan kita kehangatan di tengah terpaan dingin air hujan.
Jika mencintaimu adalah menjadikanku lebih dewasa, maka aku akan menempuhnya sebagai manusia yang lapang dada.
Jika mencintaimu adalah membuatku belajar tentang keikhlasan memberi, maka akan kuselimuti hatiku dengan kata tulus tanpa beban.
Jika mencintaimu adalah belajar melepaskan, maka aku akan melepas tanpa rasa sakit.
Jika mencintamu adalah mengubah cinta menjadi sebuah kasih sayang, maka aku akan berusaha sekeras mungkin untuk mengubahnya dan berdoa kepada Tuhan semoga akan datang yang lebih baik jika kamu bukan untukku.
Jika mencintaimu adalah belajar melupakan, maka aku akan bilang padamu bahwa aku ini ada dan tak ingin dilupakan atau melupakan.
Dan aku memilih mencintaimu dengan pasrah

Course

The Burning Season : Sebuah Perjuangan dari Cachoeira

Kepercayaan mengenai adanya Cirupira yang akan marah apabila hutan dirusak dan akan menyuruh jaguar untuk melawan perusakan hutan, menyebabkan masyarakat mulai berani untuk perlawanan terhadap perusakan hutan. Hal inilah yang coba dijelaskan dalam karya yang berjudul The Burning Season. Film ini merupakan cerita rakyat tepian dari hutan Amazone, Brazil. Di suatu daerah yang bernama Cachoeira, demikian sebagian masyarakat menyebut daerah yang berpusat pemerintahan di Xapuri, Brazil. Sebagian besar penduduk di darah ini memiliki pekerjaan sebagai penyadap karet dihutan. Penduduk ini merupakan sebuah masyarakat tepian serta para perambah hutan. Kelangsungan hidup mereka sehari-hari sangat bergantung kepada hutan Amazone. Salah satu dari keluarga yang bekerja sebagai penyadap karet tersebut adalah keluarga Mendes.

Keluarga Mendes merupakan salah satu dari banyaknya keluarga di daerah Cachoeira yang menggantungkan hidupnya sehari-hari dengan menyadap karet dari dalam hutan Amazone. Pada suatu hari Mendes kecil mengikuti setiap langkah sang ayah untuk menyadap karet di hutan. Hasil yang di dapatkan Mendes kecil dan ayahnya cukup banyak, sehingga mereka optimis dapat memperoleh uang yang banyak. Dengan menaiki kano yang sudah cukup berumur, pasangan ayah dan anak ini pergi ke pusat kota untuk menjual hasil panen mereka hari itu. Setelah tiba di pusat kota, mereka berdua bergegas menuju sebuah toko yang dimiliki seorang juragan kaya di kota. Hasil panen mereka pun ditimbang oleh sang juragan. Juragan tersebut berkata bahwa angka tersebut menunjukan angka 40 kg. Akan tetapi hal ini memunculkan pertentangan.

Musibah atau Ketidakwarasan (Insanity)

Membaca judul diatas sepertinya kita harus mengetahui terlebih apa itu ketidakwarasan. Dalam menjawab hal ini saya mengutip pendapat dari seseorang yang terkenal dengan ke jeniusannya, yaitu Albert Einsten. Misalkan anda adalah seorang psikiater serta tidak menyetujui tentang pendapat Einstein, silahkan anda memperdebatkan hal tersebut dengan dia. Einstein berpendapat bahwa “ketidakwarasan adalah melakukan hal yang sama secara berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda”. Dalam bahasa inggrisnya yaitu “insanity is doing the same thing over and over and expecting different results”.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki sumber daya manusia terbesar di dunia. Akan tetapi hal ini justru terkadang menjadikan sebuah ‘musibah’ yang menyebabkan bangsa ini terjebak dalam belenggu kemiskinan. Saya menggunakan tanda petik, karena hal inilah yang ingin dibahas dan selanjutnya ingin memperlihatkan atau menjatuhkan vonis bahwa manusia Indonesia, sebagian besar sudah tidak waras. Mereka harus melakukan terapi yang ditujukan untuk meluruskan cara berfikir masing-masing orang dalam aktivitasnya sehari-hari.

Sejak zaman dahulu kala, nenek moyang kita hidup secara berpindah-pindah. Pada awalnya, mereka menempati suatu daerah dan hidup disana. Membangun tempat tinggal dan menetap disana. Akan tetapi mereka tidak selamanya tinggal ditempat tersebut. Ketika daya dukung daerah tersebut sudah berkurang dan hilang, maka mereka pindah ketempat lainnya. Keputusan yang waras, karena mengapa harus tinggal di tempat yang tidak nyaman serta tidak menjanjikan?

Perpindahan ini tidak hanya terjadi pada generasi pemburu serta pengumpul makanan, tetapi juga generasi yang lebih maju, seperti petani dan pedagang. Kita dapat lihat betapa banyaknya kota-kota yang hilang, serta ditinggalkan oleh penduduknya seperti Angkor Wat, Machu Picchu, Chichen Itza, Luxor, Akhetaten, Memphis, Leptis Magna, Carthage Angkor Wat, dan Ayutthaya. Penduduk kota-kota ini bukanlah pemburu dan pengumpul-makanan. Pertanian dan kemampuan rekayasa (engineering) mereka sudah tinggi dan dibuktikan oleh bangunan-bangunan yang mereka tinggalkan.

Sebuah pertanyaan muncul bagaimana dengan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, Bekasi) yang notabenya merupakan daerah yang memiliki pertumbuhan cukup tinggi. Jabotabek saya jadikan kasus, tetapi hal ini berlaku juga untuk daerah-daerah lainnya. Saya memiliki teman yang tinggal dengan keluarganya di Kampung Melayu yang setiap 4 tahun sekali harus ganti tv dan peralatan elektroniknya. Itu 8 tahun lalu. Mungkin sekarang dia harus lebih sering menggantinya. Pasalnya dulu setiap 4 tahun sekali rumahnya kena banjir. Saya pernah menganjurkan dia untuk memiliki perahu, sehingga kalau banjir, barang-barang elektroniknya bisa diselamatkan. Bahkan saya meminta agar ia membuat sebuah tempat tidur yang bisa diubah menjadi perahu ketika banjir. Dia tidak pernah menggubris anjuran saya. Dia berharap apa yang dilakukannya selama ini (itu-itu saja dan tidak berubah), akan menghasilkan perbedaan. Akan menyelesaikan masalahnya. Itu terjadi dari 8 tahun lalu sampai sekarang. Berdasarkan kriteria Einstein dia, dan juga orang-orang di sekitar tempat tinggalnya, sudah tidak waras. Kalau mereka waras maka mereka sudah berbuat sesuatu yang lain, seandainya tidak mau pindah seperti yang dilakukan moyangnya dulu.

Orang Tidak Waras, Tidak Bisa Belajar
Kampung Melayu merupakan wakil dari beberapa tempat yang secara rutin terkena banjir. Masih banyak lagi tempat-tempat di Jakarta yang sering terkena banjir. Jalan-jalan di Pluit, Sunter, Kelapa Gading – tempat tinggalnya orang kaya, selalu kena banjir ketika musim hujan tiba. Aspalnya rusak, jalan berlubang yang membuat mobil cepat rusak. Untuk daerah Pluit lebih parah lagi karena airnya sangat keruh dan cukup korosif (cenderung membuat karat).

Apa yang orang-orang ini lakukan? Memilih gubernur Jakarta untuk menyelesaikan masalahnya. Yang dimaksud adalah masa setelah orde reformasi, sebelum itu mereka memilih presiden untuk memilih gubernur yang akan menyelesaikan masalah itu. (Komentar: Mungkin mereka pikir lebih baik memilih orang yang langsung menangani banjir dari pada presiden yang tidak mau turun tangan langsung).

Awalnya Sutiyoso. Katanya dia akan mengatasi banjir Jakarta. Setelah 5 tahun lewat, dia (Sutiyoso) berjanji lagi kalau dia terpilih lagi maka banjir Jakarta akan ditanggulangi. Tetapi janji tinggal janji, mejelang pemilihan gubernur berikutnya (diakhir masa jabatannya yang ke II), Sutiyoso mengatakan bahwa banjir Jakarta sulit ditanggulangi. Hal ini dikatakannya karena dia sudah tidak boleh lagi mencalonkan diri lagi. Dia sudah tidak punya insentif dan keuntungan lagi untuk membuat janji-janji.

Kemudian setelah Sutiyoso, siapa yang mereka pilih? (Paling tidak 36% dari pemilih) Fauzi Bowo yang sudah lamaaaaaaaa sekali kerja di DKI – kantor pemerintahan Jakarta. Mengherankan, kenapa yang terpilih adalah orang yang sudah terbukti tidak mampu mengatasi banjir di Jakarta selama belasan tahun (mungkin juga puluhan tahun) untuk mengatasi banjir Jakarta? Bukankah Fauzi Bowo yang dulunya kerja di pemerintahan DKI yang sudah menangai masalah banjir Jakarta?Memang benar, secara de facto, kursi kosong mengungguli Fauzi Bowo dan pembaca situs ekonomi orang waras (EOWI) lebih suka bahwa Jakarta tidak ada gubernur.

Orang Tangerang dan Banten mungkin berpikir sama. Dulunya mereka pikir gubernur Jawa Barat jauh di Bandung. Maka mereka minta pemekaran daerah. Dan diadakanlah gubernur Banten. Apa yang terjadi, ‘musibah’ Situ Gintung dan parahnya lagi, sang tante gubernur merasa hal ini bukan menjadi wewenangnya... Hallloooo......, tante gubernur..., bangun. Tugas anda adalah memperhatikan kesejahteraan rakyat Benten termasuk Tangerang. Tugas anda termasuk berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk membuat orang-orang di daerah Banten selamat. Jangan katakan bahwa urusan bendungan dan situ adalah urusan PU. Itu namanya dalih. Bisakah anda membedakan antara alasan dan dalih?

Lain lagi dengan Timor Timur. Mereka pikir jika sudah merdeka dari Indonesia maka mereka lebih makmur. Haalllloooo, itu ladang minyak Bayu-Udan sudah berproduksi, kenapa anda – Timor Timur masih belum makmur? Kasus lain lagi, yaitu Aceh dan GAM nya. Mereka pikir kalau sudah ada otonomi daerah dan GAM berkuasa, maka Aceh akan makmur. Haallloooo, apa anda sudah makmur?

Kali Code Yogya Dan Kampung Melayu Jakarta
Pertengahan tahun 80an Kali Code Yogya, katanya daerah yang kumuh dan mau digusur. Kemudian datanglah romo Magun (yang sekarang sudah meninggal). Dia bersama-sama dengan rakyat setempat menata dan membangun rumah di daerah Kali Code sehingga baik dan asri.

Kali Code Yogya dan Kampung Melayu (atau Pluit atau Kelapa Gading) Jakarta mengambil jalur yang berbeda. Masyarakat Kali Code tidak minta gubernurnya untuk memperbaiki lingkungannya. Mereka kerja (gotong royong) membangun lingkungannya, sehingga asri. Sebenarnya mereka juga tidak perlu romo Mangun. Apalah artinya sumbangan 1 orang dibandingkan tenaga 1000 orang? Para LSM sajalah yang membesarkan peran romo Mangun dalam pembangunan lingkungan Kali Code sehingga dia yang memperoleh nama besar.

Demikian kalau nanti pemukiman Kali Code terkena banjir bandang, jangan salahkan romo Mangun. Paling enak memang menyalahkan romo Mangun. Sebab sebenarnya yang salah adalah penduduk di Kali Code itu sendiri. Kenapa membangun rumah yang menjorok ke daerah aliran sungai? Masalah itu disimpan dulu sampai nanti, kalau hal ini sudah terjadi.

Kembali pada masalah Jakarta dan Kampung Melayu. Ada dua alternatif untuk mengatasi masalah banjirnya bagi penduduk di Kampung Melayu. Dan memilih gubernur tidak termasuk di antaranya. Kedua pilihan itu adalah, pergi dari daerah itu (Kampung Melayu) sehingga mereka tidak kena banjir atau bergotong royong membuat pemukiman yang baik di Kampung Melayu.

Untuk daerah Pluit, Kelapa Gading dan tempat-tempat orang kaya di Jakarta, anda punya uang untuk menyewa kontraktor untuk memperbaiki lingkungan anda. Persoalan banjir di Belanda jauh lebih berat dibandingkan Jakarta. Kalau perlu datangkan kontraktor dari Belanda.

Uangnya dari mana? Pajak anda. Jumlah pajak yang dibayarkan penduduk Pluit untuk 2-4 tahun mungkin cukup untuk membuat hidup anda lebih nyaman. Kalian bisa bilang ke pemerintah, apakah pemerintah yang mau jadi kontraktornya dan membangun sistem mengendali banjir yang benar, seperti pemerintahan penjajah Belanda dulu, atau didatangkan kontraktor langsung dari Belanda.

Penjajah Belanda dulu sudah membangun kanal-kanal dan sistem pengendali banjir. Perkara sukses atau tidak, kita harus lihat kembali sejarah. Tetapi kalau kita lihat negara Belanda yang saat punya ancaman banjir yang lebih besar dari banjir Ciliwung dan berhasil mengendalikannya, maka dapat diasumsikan bahwa dulupun mereka berhasil melakukannya di Hindia Belanda. Masalahnya sekarang pemerintahan Republik ini tidak becus memelihara dan mempertahankan apa yang ada. Tidak usah dibilang membangun yang baru.

Kepala Negara Kanada Yang Warga Negara Inggris
Orang selalu berpikir bahwa putra daerah, bumi putra lebih baik dalam memperhatikan daerahnya dari pada orang luar. Apakah demikian? Nenek saya bilang, zaman Belanda dulu adalah ‘jaman normal’, dan jaman ‘republik’ jaman tidak normal. Artinya jaman Belanda lebih makmur dari jaman ‘republik’. Artinya Belanda lebih becus mengurus dari pada politikus republik.

Orang Timor-Timur mungkin juga bilang bahwa jaman penjajahan Indonesia lebih makmur dari pada jaman kemerdekaan. Ini masih ‘mungkin’, karena saya tidak pernah menanyakan langsung kepada orang Timor-Timur. Itu hanya dugaan saya saja.

Perkara putra daerah, pribumi, bumiputra, saya jadi ingat kepala negara Kanada. Tahukah anda siapa kepala negara Kanada? Saat ini adalah ratu Elizabeth II dari Inggris. Catatan: Ratu Elizabeth II bukan warga negara Kanada.

Dari situ mungkin kita bisa belajar, bahwa bisa saja Jakarta, Banten tidak perlu ada gubernur, atau gubernurnya orang Inggris atau orang Kanada. Juga presidennya. Yang penting becus. Mungkin itulah solusi dari kisruh di negara ini. Selama kita masih memilih orang yang tidak kompeten, karena pilihannya hanyalah sederet manusia yang tidak kompeten, jangan sebut anda orang waras. Hanya orang gila saja, yang dari tahun-ke-tahun memilih orang yang tidak kompeten dari stok yang tidak kompeten untuk mengurus kesejahteraannya, tetapi mengharap hasil yang berbeda. Maksudnya adalah tercapainya kemakmuran. Kesengsaraan dan ‘musibah’ yang dihadapi bangsa ini, sesungguhnya bukan ‘musibah’ tetapi ke-tidak-warasan diri sendiri.

Politik Kampus : Sebuah Gerakan Kotemporer

Kampus merupakan sebagai salah satu center of intellectuality memberikan ruang bagi berkembangnya berbagai ranah pemikiran, isu–isu nasional hingga internasional selalu saja menjadi garapan yang menarik di kampus–kampus seantero dunia. Mahasiswa selalu memainkan peran atau menjadi pemain sentral di negara manapun, yaitu sebagai the universal opposition anti terhadap pemerintahan rezim apapun yang berkuasa di negara tersebut. Mewaspadi ancaman yang akan ditimbulkan oleh masyarakat intelektual kota ini, para pemimpin negara kerap kali akan melakukan gerakan–gerakan restruktuisasi politiknya hingga jauh menjangkau kedalam kampus.

Di Indonesia praktik restruktuisasi politik di contohkan dan di pertontonkan oleh rezim orde baru pimpinan “bapak pembangunan” Soeharto tiga puluh lima tahun yang lampau tepatnya pada tahun 1974 lewat SK menteri P dan K No 028/U/1974 tentang NKK (normalisasi kehidupan kampus) dan BKK (badan koordinasi kemahasiswaan) sekarang senat / BEM, dimana isi keputusan ini sangat membelenggu langkah gerak mahasiswa yang sejatinya pergerakan mahasiswa harus senantiasa bergerak dan merambah, menjalar, mengembangkan nalar intelektualitas sejatinya, namun dalam konteks NKK-BKK semua kegiatan mahasiswa kala itu harus seluruhnya melalui persetujuan pihak pimpinan perguruan tinggi / rektorat yang pada dasarnya pada waktu itu mereka adalah antek–antek penguasa, dan pergerakan mahasiswa harus sesuai dengan cita–cita kepala negara yang tentunya ini sangat jelas bertentangan dengan idealnya mahasiswa yang selalu menempatkan dirinya menjadi oposisi kritis pada pemerintahan yang sedang berkuasa, dampak yang paling terlihat adalah mahasiswa kehilangan ruang politiknya yang bebas dan kreatif, melainkan hanya sebatas teori dan konsep diruang kelas.

Namun saat ini permasalahan kampus terus saja berkembang ditengah–tengah pasang surut kondisi sosial politik negeri ini, namun ironis justru permasalahan yang berkembang di kampus hanya permasalahan yang sama sekali tidak menunjukan kekuatan bersama sebuah kelompok mahasiswa yang besar, yang mengusung isu bersama dan ideologi menjadi oposisi penuh bagi pemerintah, sebagaimana warisan yang diberikan oleh pergerakan mahasiswa terdahulu yang seharusnya menjadi bahan kerjaan mahasiswa saat ini, sekarang yang berlangsung hanyalah pertarungan antar mahasiswa sendiri, tidak ada lagi teriakan “satu komando, satu perjuangan, rakyat (mahasiswa) bersatu tak bisa dikalahkan” justru diperalat oleh sekat–sekat dasar ideologi, atas dasar fanatisme sempit kelompok, kamu bukan kelompokku, maka kamu musuhku, kamu tidak sealiran denganku kamu salah, yang melahirkan tradisi politik kotor dan amoral, yang saat ini justru mahasiswa menjadi boneka atau malah robot kepentingan oknum tertentu yang haus akan kekuasaan, bahkan bisa jadi mahasiswa adalah pionir bagi pemerintahan yang sedang berkuasa, alamat kemunduran gerakan kampus. Indikas ini pun terlihat dari gaya hidup hedonisme anak muda yang dibawa oleh budaya barat, membuat mata dan hati tertutup untuk memikirkan masalah rakyat, dan lebih penting mengatur jadwal bersenang–senang pacaran, mumpung masih muda katanya??? ketimbang memikirkan kelanjutan atas kemajuan bangsa dan negaranya sendiri.

Geliat Politik Mahasiswa
Mencermati geliat gerakan mahasiswa di tataran politik nasional sembilan tahun pascareformasi bisa dikatakan minim partisipasi. Apalagi untuk urusan berkecimpung di dunia politik praktis, sangat kurang minat. Kenyataan ini diperlihatkan dari banyaknya “golongan tua” yang masih dominan di dunia politik. Tersebutlah nama-nama lawas seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Megawati, Amien Rais, Sutiyoso, Sultan HB X, atau Wiranto. Notabene kesemuanya telah berusia diatas 40 tahun. Tak ada satupun muncul nama baru dari golongan muda yang maju ke kancah perpolitikan nasional.

Fenomena ini tentu lahir bukan tanpa sebab. Ketertarikan mahasiswa kontemporer saat ini cenderung kearah market oriented yaitu orientasi yang lebih membawa dampak profit and benefit bagi si mahasiswa itu sendiri. Lain kata, mahasiswa saat ini lebih berpikir soal untung-ruginya ia mengikuti sebuah kegiatan. Tentu saja hal ini amat kontras dengan tipe gerakan politik mahasiswa pada angkatan pra-kemerdekaan, pasca-kemerdekaan, orde lama dan orde baru. Dimana arah pergerakan mahasiswa waktu itu lebih bersifat nation problem oriented dengan melibatkan massa rakyat.

Meski begitu, saat ini masih terdapat kelompok mahasiswa yang memiliki interest terhadap kajian politik. Mereka ini sebenarnya merupakan kelompok termarjinalisasi dari kaum mahasiswa itu sendiri. Mereka yang peduli ini “bertahan” dan membuktikan “eksistensi” didalam bentuk organisasi-organisasi kemahasiswaan seperti BEM, Senat, BPM, Dewan Kemahasiswaan atau kelompok studi yang berorientasi kepada kegiatan politik.

Isu-isu yang diusung biasanya merupakan isu lokal atau paling banter isu kedaerahan dimana organisasi kemahasiswaan itu berada. Contoh, BEM FISIP UI 2009 yang beberapa hari yang lalu mengadakan Simposium pendidikan. Sementara itu di wilayah lain, perkumpulan organisasi kemahasiswaan di Jawa Tengah mengangkat tema penolakan nuklir. Beda lagi di kawasan Ibukota, isu Pimilihan gubernur yang menjadi bahan omongan mahasiswa-mahasiswa Jakarta saat itu.

Memperbincangkan Kampus
Bila dilihat dari kacamata jurnalistik, isu lokal yang diusung organisasi kemahasiswaan diambil karena tingkat proximity-nya tinggi. Jarak memengaruhi minat individu atau kelompok untuk mengangkat sebuah isu. Isu yang diangkat biasanya mengenai kebijakan-kebijakan kampus. Seperti absensi 75%, naiknya SPP dari tahun ke tahun atau problem ketidakberesan birokrasi kampus.

Selain itu, Gerakan mahasiswa saat ini memiliki kecenderungan memperjuangkan vested interest-nya masing-masing. Misalnya, Senat di sebuah fakultas memperjuangkan kepentingan mahasiswanya. Atau BEM yang mengusahakan kepentingan-kepentingan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dibawahnya. Akhirnya malah kesan eksklusif yang justru didapat. Dampaknya tenaga dan pemikiran kritis mahasiswa kekinian hanya habis tersedot untuk mengurusi masalah-masalah lokal dan internal kampus (meski tidak di semua perguruan tinggi). Sementara isu-isu nasional dikesampingkan atau tidak disorot sama sekali. Akibatnya individu atau anggota organisasi kemahasiswaan tersebut terisolasi pengetahuannya tentang perkembangan politik dunia luar.

Disini gerakan mahasiswa perlu atur taktik dan strategi. Problem ini bisa diatasi dengan cara melakukan pembagian tugas antaranggota didalam organisasi tersebut. Pembagian berdasarkan urusan internal dan eksternal organisasi. Bagian internal mengurusi soal problem mahasiswa dan kampus (bahkan di beberapa lembaga pendidikan tinggi, fungsi ini diserahkan kepada organisasi lain seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan atau Himpunan Mahasiswa Program Studi). Sedangkan bagian eksternal bermain pada tataran menjalin relasi dengan organisasi kemahasiswaan ekstra-universiter. Juga membahas isu-isu yang bersifat nation problem oriented.

Perubahan Paradigma
Konon, akhir-akhir ini ada sebuah asumsi yang mengatakan bahwa pergeseran paradigma yang terjadi dalam tubuh para aktivis mahasiswa semakin hari semakin riskan. Dunia kampus, yang sejatinya harus tumbuh dan berkembang di dalamnya tradisi intelektualisme, ternyata hanyalah omong kosong belaka. Demi mendapatkan kekuasan sektarian, kebohongan demi kebohongan mereka lontarkan seirama dengan umbaran janji-janji palsu yang menjijikkan. Mereka tidak menyadari, atau pura-pura tidak tahu-manahu perihal implikasi logis yang diakibatkan dari keculasan mereka.

Lihatlah, begitu banyak para aktivis yang sering menyalahgunakan organisasi dan sering memanfaatkan kader yang masih bau kencur untuk memenuhi kepentingan “perut” mereka. Padahal dalam dataran idealitas, kader seharusnya tidak dijadikan tunggangan dan kemudian ditinggalkan ketika “kepuasan” telah digenggam, melainkan diberdayakan dan selalu diupayakan menuju kematangan-kematangan dan penyempurnaan-peneyempurnaan, baik secara intelektualitas maupun emosionalitas.

Barangkali karena mereka, para aktivis “kacangan” itu terlalu ahli dalam manajemen isu, sehingga mereka lupa dan terjerat ke dalam jurang oportunisme dan pragmatisme buta. Contoh yang sangat riil dapat kita temukan di kampus kita. Ketika pesta pemilu raya digelar, disadari atau tidak, muncul dan berkembang istilah yang disebut dengan bad campaign dan back campaign. Trem yang pertama adalah kampanye politik yang dimaksudkan untuk mengkritik lawan politik dan mengungkap segala kelemahan-kelemahannya. Term yang kedua diistilahkan sebagai kampanye politik dengan menjelek-jelekkan, bahkan memfitnah lawan politik demi membunuh karakter lawan politiknya.

Sesungguhnya, berpolitik adalah hal yang sangat manusiawi. Karenanya, dalam politik ada ”aturan main” dan etika yang harus didindahkan tanpa bertolak belakang dengan tujuan yang diharapkan. Dalam perspektif Mahatma Ghandi, seorang tokoh revolusioner dari India, setiap tujuan yang ingin dicapai harus selaras dan seimbang dengan metode dan tata cara yang dilakukan. Mustahil hasil dari tujuan dinilai baik jika metode yang digunakan adalah dengan jalan yang buruk. Begitulah kiranya yang dimaksud dengan politik yang ”bersih”, sebagaimana yang pernah dikatakan Plato bahwa politik adalah seni mempegaruhi orang lain dengan kecerdikan dan kecerdasan, bukan dengan keculasan dan kebohongan serta cara-cara keji yang menghalalkan segala macam aturan demi meraih keinginan.

Tetapi, antara idelitas dengan realitas memang cenderung berdiri secara diametris. Kerja-kerja politik yang idelanya selalu bersih dari ”kelicikan-kelicikan” dan ”keculasan-keculasan” ternyata banyak menuai kendala. Sehingga tidak heran jika kemudian ada ”justifikasi publik” bahwa politik itu memang kotor, tidak pernah bersih. Kalau jujur dan bersih itu bukan politik. Begitu mungkin kilah mereka. Hal ini terjadi, karena selama ini kerangka pikir mereka dalam ranah politik sudah terpola oleh asumsi umum bahwa politik memang harus oportunis, sporadis, pragmatis, bahkan anarkis. Sederhananya, politik sama dengan kebohongan dan kelicikan. Sehingga, apapun cara dan metode yang dilakukan dianggap sah-sah belaka selama dipandang akan memuluskan jalan menju ”tujuan”. Inilah yang dimaksud dengan pergeseran paradigma itu.

Mentalitas mahasiswa, khusunya para aktivis kacangan itu, pada kenyataanya memang belum siap untuk memegang kendali bangsa, karena nurani kejujuran dan integritas keilmuan belum tertanam dalam jiwa mereka. Dan parahnya, sebagian kita terjebak pada distorsi pemahaman, bahwa aktivis selalu dididentikkan dengan mahasiswa yang sering berkoar-koar ketika demonstrasi, ”molor” sampai menjadi ”mahasiswa abadi”, sering bolos (karena kesibukan organisasi), dekil dan lain sebagainya. Padahal, aktivis sejatinya adalah mereka yang berkutat dalam wacana keilmuan, aktif berorganisasi tapi tidak melalaikan kuliah, serta memiliki tekad kuat dalam memperjuangkan idealismenya.

Dari paparan singkat di atas, terdapat benang merah yang dapat dijadikan pijakan reflektif-otokritik bahwa ketika tradisi intelektualisme dalam aktivisme kampus mulai tergerus dan melemah, maka yang menguat kemudian adalah tardisi politik praktis. Dengan kondisi demikian, dunia kampus tidak lagi menjadi muara berkembangnya wacana keilmuan, melainkan menjadi pabrik penghasil poli(tikus)-poli(tikus) ulung yang terjerat dalam oportunisme buta. Aktivitas dan gerakan politik kampus tidak lagi diperjuangkan dengan mengusung idealitas yang sakral, tetapi cenderung pada perebutan kekuasaan semata.

NEGARA TEOKRASI INDONESIA : Tinjauan Terhadap Kondisi Demokrasi Kita

Kondisi umum, sistem pemerintahan Negara yang sangat popular kini adalah monarki konstitusional, teokrasi dan demokrasi. Negara-negara kerajaan seperti Malaysia, Jepang, dan Inggris merupakan contoh Negara monarki konstitusional. Beberapa kerajaan di daerah Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Iran termasuk Negara penganut sistem teokrasi. Yang terbanyak dianut sekarang ini adalah sistem demokrasi, walaupun masih sebatas dalam ungkapan resmi saja.

Lalu, Bagaimana dengan Indonesia? Sejak merdeka, Indonesia mengklaim dirinya bukan sebagai negara monarkhi, baik monarki absolut maupun monarkhi konstitusional, karena tidak mengenal raja sebagai pemimpin negara tertinggi di negeri ini. Kita juga menolak disebut sebagai negara teokrasi, karena tidak ada pengakuan secara tersurat bahwa kita mengakui kepemimpinan berdasarkan aturan agama apapun. Kita dengan tegas selalu menempatkan diri dalam kelompok negara dengan sistim pemerintahan demokrasi. Namun, benarkah demikian? Sudahkah negara ini menjalankan sistim pemerintahan demokrasi yang sesungguhnya? Berikut ini adalah analisa umum tentang sistim pemerintahan Indonesia dalam prakteknya.

Untuk menganalisa realitas sistim pemerintahan Indonesia, sebaiknya kita tinjau sekilas pengertian dan unsur-unsur penunjang dari sistim teokrasi dan demokrasi. Istilah teokrasi diserap dari bahasa Yunani, theos (tuhan) dan kratein (memerintah), yang terjemahan bebasnya: pemerintahan tuhan. Kata demokrasi juga dari bahasa Yunani, demos (rakyat) dan kratein, dan diartikan sebagai: pemerintahan rakyat.

Dalam sistim pemerintahan tuhan, negara teokrasi dipimpin oleh seseorang atau sekelompok orang dari golongan pemimpin agama (clergy) dan menjalankan ketentuan agama yang diakui negara dalam pemerintahannya. Pada beberapa negara tertentu, pemimpin negara ini malah dianggap sebagai wakil tuhan atau bahkan terkadang jelmaan tuhan. Konsekwensinya, pemimpin negara adalah dari kalangan agamawan. Ketentuan yang dijalankan adalah amanah tuhan yang tersurat dalam kitab suci dan diperuntukan untuk rakyat. Sehingga rakyat tidak lebih sebagai kelompok penderita dan menerima apa adanya segala ketentuan dan kebijakan dalam negara. Karena undang-undangnya dari tuhan, maka sudah sewajarnya bila peraturan-peraturannya ditujukan hanya untuk kalangan warga negara yang percaya pada kitab suci agama tersebut.

Sebaliknya, dalam negara demokrasi dengan slogan: dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, segalanya ditentukan oleh rakyat. Pimpinan dipilih dari antara rakyatnya, pemilihan dilakukan oleh rakyat, dan dia mengabdi untuk rakyat. Dalam menjalankan tugasnya, pemerintah mempedomani ketentuan-ketentuan yang dibuat oleh rakyatnya dan ia akan dinilai serta dimintai pertanggungjawaban oleh rakyat menggunakan ukuran yang dibuat oleh rakyat itu sendiri. Pemimpin bisa bergantian dengan anggota masyarakat yang lainnya sesuai mekanisme yang dibuat oleh rakyat tanpa diskriminasi agama, jenis kelamin, dan lain-lain. Setiap individu dalam masyarakat memiliki hak yang sama secara individual dan dihormati oleh negara tanpa kecuali. Tidak terdapat pembedaan dalam mengakomodasi kebutuhan rakyatnya, tidak perlu mayoritas-minoritas, besar-kecil, kelas atas – kelas bawah, dan sebagainya.

Dari penjelasan istilah teokrasi dan demokrasi di atas, secara singkat kita dapat menentukan beberapa unsur utama dalam penyelenggaraan pemerintahan negara dari dua sistim tersebut. Setidaknya ada tiga unsur yang dapat dikemukakan di sini, yaitu faktor penguasa, ketentuan perundangan, dan sasaran pemerintahan. Pada negara teokrasi, penguasa negara lebih dominan ditentukan oleh pengaruh keagamaan tertentu, sedangkan pada sistim demokrasi lebih ditentukan oleh kemampuan seseorang untuk memikul tanggung jawab memenuhi keinginan rakyatnya.

Peraturan perundangan dan kebijakan pemerintahan negara teokrasi berdasarkan kitab suci, sebaliknya pada negara demokrasi, undang-undang adalah cerminan aspirasi seluruh rakyatnya. Sasaran implementasi pemerintahan negara teokrasi dan demokrasi adalah sama yakni rakyat. Perbedaanya, di negara teokrasi yang dianggap rakyat adalah mereka yang secara sadar tunduk dan taat pada ketentuan hukum kitab suci agama yang dianut negara, sedangkan pada negara demokrasi hal itu tidak dikenal.

Kenyataanya di Indonesia, pemilihan kepemimpinan negara masih didominasi oleh pengaruh kelompok keagamaan. Bahkan secara sadar atau tidak, kita sering terjebak pada ketentuan agama tertentu untuk menentukan memenuhi syarat atau tidaknya seorang calon pemimpin, seperti yang dialami oleh mantan presiden Megawati dengan polemik wanita tidak boleh menjadi pemimpin dalam agama Islam. Secara tersirat, ketentuan bahwa calon presiden RI harus beragama Islam juga sangat kental, tapi tidak disuarakan. Ada keyakinan bahwa bila saja terdapat kandidat presiden non-muslim hal ini akan menjadi perbincangan hangat tentang sah tidaknya sang calon karena agamanya. Argumen yang mungkin mengemuka: wajarkah kaum muslimin dipimpin oleh non-muslim? Sama persis seperti, mungkinkah seorang non-muslim menduduki jabatan menteri agama Indonesia? Realitas ini menunjukkan bahwa Indonesia cenderung menganut sistim teokrasi.

Sebagian besar produk hukum dan kebijakan negara, baik ditingkat nasional maupun daerah, juga merupakan bukti implementasi sistim teokrasi. Sebut saja yang paling jelas terang benderang: syariat Islam dengan beragam bentuk dan wujudnya. Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan Undang-undang Nomor 17 tahun 1999 tentang urusan haji, yang justru merupakan pengejawantahan “keinginan tuhan” yang tertuang dalam kitab suci agama Islam.

Perda-perda juga tidak luput dari distorsi “menjalankan perintah tuhan”, seperti peraturan hukum cambuk di Aceh dan perda larangan keluar malam di Tangerang. Yang paling aktual dan santrer diperdebatkan saat ini, RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang jelas-jelas hanya mengakomodasi ketentuan tuhan dalam agama Islam merupakan calon UU penambah deretan ketentuan hukum negara teokrasi.

Dalam percakapan sehari-hari, baik resmi kenegaraan maupun tidak resmi, terdapat banyak sekali ikon dan ungkapan “hukum tuhan” yang digunakan pemerintah dan politisi. Sebut saja “Indonesia sebagai negara agamis”, atau yang lebih spesifik “daerah A identik dengan Islamnya”, “Kota B adalah kota Beriman” (kota lainnya tidak beriman?), dan lain-lain. Simbol-simbol keagamaan juga sangat kental dalam koridor pemerintahan kita. Juga, pada setiap UU, PP, Kepres, dan seterusnya pasti terdapat kalimat ini: “Dengan Rahmat Tuhan Yang maha Esa” pada awal konsiderannya.

Contoh-contoh tersebut sesungguhnya merupakan perlambangan Indonesia yang ingin mengatakan bahwa kita berdiri sebagai suatu negara dan menjalankan pemerintahan kenegaraan dengan fungsi utama untuk menjalankan pemerintahan tuhan di nusantara, sehingga semua ketentuan-ketentuan yang ada harus mengakomodasi keinginan tuhan. Celakanya, keinginan tuhan yang dituangkan dalam buku suci agama tertentu saja yang dijadikan pedoman, kitab suci agama lain dianggap tidak ada.

Keadaan ini dinilai banyak kalangan lebih diakibatkan oleh sistim perpolitikan kita yang amat kental dipengaruhi kaum elit agama tertentu. Kelompok ini dapat dianggap sebagai perwujudan “utusan tuhan” sehingga seakan memiliki legitimasi untuk mendiktekan “pesan tuhan” kepada pemerintah dan masyarakat, semisal melalui fatwa, doktrin, somasi, dan lain-lain. Tentu disertai bumbu penutup: bila pesan tuhan ini diabaikan, kesengsaraan dan kutuk dari langit akan menimpa bangsa ini.

Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa demokrasi kita sesungguhnya baru pada tahap demokrasi “kulit luar”, belum menerapkan „nurani demokrasi“ yang sesungguhnya, yang melihat esensi warga negara sebagai individu yang perlu diperhatikan, dilindungi dan diakomodasi kepentingan hidupnya sebagai individu oleh negara. Yang sudah kita lakukan masih sebatas pada pemaknaan demokrasi sebagai multi partai, suara mayoritas, dan kepentingan mayoritas.

Keadaan tersebut dapat saja berdampak positif dan baik. Namun dilemanya, struktur sosial dan politik masyarakat kita yang masih dominan dikungkung oleh ketentuan dogmatis keagamaan tertentu, mengalahkan akal sehat untuk menciptakan kemaslahatan dan kesejahteraan bersama dalam pluralitas. Akibatnya, pola pemerintahan negara yang tercipta mengikuti trend ketentuan dogma agama tertentu.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Indonesia adalah negara teokrasi berbungkus kulit demokrasi, negara pelaksana ketentuan tuhan yang cenderung mengingkari pluralisme rakyatnya. Kenyataan ini tentu saja merupakan pengingkaran sejarah pembentukan negara pada awalnya karena Indonesia hakekatnya dibentuk atas dasar kesepakatan bersama (kontrak sosial) rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke melalui wakil-wakilnya, para pejuang kemerdekaan waktu itu. Kontrak sosial tersebut, sebagai dasar kehidupan berdemokrasi suatu negara, telah kita ganti dengan “pesan-pesan tuhan” dari kelompok agama tertentu