Kekuatan Sebuah Tulisan…

Beberapa waktu yang lalu sempat membuatku gelisah akan diri ini. Kesulitan dalam mengapresiasikan pemikiran melalui tulisan hampir membuatku putus asa dalam hidup. Setelah kupaksakan untuk menulis, seolah-olah jemari ini tak mau lagi bercinta dengan keyboard komputer. Kemungkinan juga buku-buku yang berdiskusi denganku saat itu tak memberi kesempatan padaku untuk mengaktualisasikan idea yang bertarung di benakku. Barulah kusadari, menulis merupakan ibarat sebuah seni, apabila tepat pada “mod” nya, tentu bisa saja menulis puluhan lembar dalam sehari.


Kini saatnya mendiskursuskan kembali apa-apa yang sudah terjadi, dan apa-apa yang akan terjadi nanti. Menulis adalah sebuah kesadaran akan tugas alam yang melekat pada diri seorang inteletual, ibarat organ tubuh, mata bertugas melihat, kaki bertugas berjalan, mulut bertugas berbicara, maka intelektual adalah manusia yang diciptakan bertugas menulis dan memberikan pencerahan. Suatu hari akan tiba saatnya di mana dunia kering, gersang, dan monoton, kehadiran intelektual memberikan aliran air yang menyegarkan dahaga umat manusia. Saatnya akan tiba antara kiri dan kanan, antara kapitalis dengan sosialis bersatu menjadi intelektualitas yang humanis, mereka berbeda tidak semata-mata untuk sentimen ataupun kepentingan pragmatis, namun hanya hendak menciptakan suasana ilmu pengetahuan manusia yang semakin tangguh dan kokoh. Ini pun larinya kembali lagi kemanfaatannya bagi umat manusia. Tiba saatnya orang saling menolong bukan dengan tangan melainkan dengan pikiran dan idealisme tinggi.


Untuk detik-detik ini, saya ingin sekali mengatakan bahwa seorang intelektual hanya, memiliki lahan pertarungan berupa “tulisan”. Di tempat inilah intelektualisme diakui keberadaannya, seperti yang tegaskan oleh Rene Descartes mengenai cogito ergo sum, aku berfikir maka aku ada, disini saya ingin memperbaharuimya menjadi “ketika aku menulis maka aku ada”. Tulisan ini menunjujjan kekuatan pikiran seorang intelektualis yang menunjukkan eksistensinya di dunia ini.


Perlu kita ketahui manakala kekuatan intelektual telah menempatkan seseorang pada sebidang pandangan atau image, tulisan banyak membantu seseorang berkomunikasi dengan khalayak. Tak usah jauh-jauh memandang Augut Comte ataupun Horkheimer, penulis positifitik dan kritis. Tulisan menawarkan popularitas dan saluran komunikatif seseorang dapat mengenalkan sosok penulis berikut ajaran-ajarannya. Saya tidak ingin terlalu jauh bagaimana popularitas Fitjop Capra, Michael Foucult ataupun Jurgen Hubermas yang sering di perbincangkan di wilayah diskursus intelektual, mereka yang terkenal melalui tulisannya. Bahkan hanya Socrateslah seorang filsof yang terkenal tanpa tulisan, Immanuel Kant mempertegas aturan bahwa karya filsafati harus melebihi 1000 halaman yang dipatuhi oleh GWF Hegel.


Tetapi saya juga tidak ingin menekankan diri untuk terlalu lama membicarakan popularitas berkat tulisan. Namun kita bisa melihat bahwa dengan ukuran popularitas ini seseungguhnya, karya-karya kita dapat diterima dan memiliki kemanfaatan lebih bagi umat manusia. Dengan menulis kita sudah banyak menolong orang melalui pikiran yang kita miliki. Berbahagialah orang-orang yang produktif menulis, karena dia akan menghuni Surga Tuhan, sementara rasakanlah kekeringan dan kegersangan bagi orang yang tak mau dan mampu menulis !!! yang terakhir ini, mereka adalah orang-orang yang tak berguna, orang-orang yang selalu tertinggal, mungkin seperti penulis tulisan ini.

Mengatur Profile Facebook Agar Bisa Dilihat Semua Orang

Profil facebook Anda ingin bisa dilihat semua orang? tapi bagaimana caranya? kan facebook tidak mengizinkan user melakukan hal tersebut. Ups kata siapa? hari ini facebook membuat satu artikel yang saya sudah siapkan sia-sia dengan judul "cara setting facebook agar bisa dilihat banyak orang" (belum diposting). Padahal beberapa hari mendatang saya ingin meemposting aritkel itu, namun apa boleh buat nasi telah jadi bubur? (ternyata enak juga buburnya....tp tetep aja masih laper..huhu....)

Dahulu kala sejak lahirnya firaun, eh maksudnya facebook kita tidak diizinkan untuk membuka (dilihat) profil kita untuk semua orang (everyone), facebook hanya mengizinkan profil kita dilihat dengan pilihan teman(friend), temannya teman(friends of friends), atau jaringan dan teman saya (my networks and friends). Dan hari ini ada berita baik bagi setiap orang yang ingin eksis (apa narsis ya?) atau ingin dapat profil facebooknya dilihat semua orang seperti friendster mainan kita "zaman dulu" karena mulai hari ini facebook memfasilitasi profil kita untuk dapat dilihat semua orang (everyone) seperti yang sudah dibahas di blog facebook.

Berikut cara profil facebook agar dapat dilihat semua orang:

Klik settings (di sebelah atas) > privacy settings > profile > bagian profile ganti jadi everyone

atau klik dini dan bagian profile ganti jadi everyone




Artikel dari blog facebook



Selamat bereksis di facebook, awas jangan terlalu narsis karena "facebook dapat menyebabkan kanker, jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin" ! kalau maen facebook sambil ngerokok


Siap-siap berangkat kuliah ahhh....

Sumber: http://www.tips-fb.com

Kode Smiley Facebook Untuk Chating

Sering chating dengan teman di facebook? pasti ada yang terasa kurang dibandingkan bila kita chating menggunakan yahoo messenger yang mempunyai banyak smiley (emoticon). Sebenarnya facebook juga mempunyai smiley yang cukup banyak hanya saja pengguna facebook banyak yang tidak tahu kode untuk menampilkan smiley tersebut. Mau tambah asyik ngobrol dengan teman di facebook silakan tambahkan kode-kode smiley facebook berikut :

Facebook Happy Smiley Face
:) :( :P :D :O ;) 8) 8| >:( :\ :'( 3:)
O:) :-* <3 ^_^ -_- O.o >:o :v :3 :|] :putnam:
Nih bukti screen shootnya
smiley facebook (emoticon)

Selamat chating yap, tapi jangan sampe lupa waktu lowh....hehehe

Cara Merubah Tampilan Layout Facebook

Bosan dengan tampilan facebook yang begitu-gitu saja tanpa variasi, tidak seperti friendster atau myspace yang bisa kita kostumisasi sesuai dengan kemauan kita. Kalau begitu coba yang satu ini, dengan cara ini kita dapat mengganti tampilan halaman facebook menjadi lebih bagus dan yang paling penting bisa dikostumisasi sendiri.

Aritkel ini saya buat untuk Anda yang suka dengan kostumisasi tampilan dan sekaligus memenuhi kebutuhan beberapa pengunjung yang menuju keblog ini melalui google dengan keyword tentang :
-cara mengganti layout facebook
-tutorial mengganti layout facebook
-merubah tampilan facebook
-mengubah tampilan facebook

Dan ternyata banyak sekali yang mencari artikrl tentang tampilan facebook. Setelah beberapa penelusuran website, blog dan group-group yang berisi tentang tutorial
mengganti layout facebook, saya menemukan 2 cara berbeda:

1. Merubah tampilan layout facebook dengan cara userstyles.org (untuk penguna mozila firefox)


-download add-ons mozzila
-klik "add to firefox", installasi and restart mozilla firefox
-pilih tampilan yang diinginkan disini
-klik tombol "Load into Stylish"
-save dan refresh halaman facebook Anda

2. Merubah tampilan layout facebook dengan cara yontoo.com (untuk penguna mozila firefox dan internet explorer)


-kunjungi website Yontoo
-pilih "Start Installation"
-install Add-ons dan restart mozila
-pasang aplikasi PageRage di facebook
-pilih tampilan yang diinginkan
-lihat profile anda
Kedua cara tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, silakan pilih saja salah satunya. Saya sendiri lebih suka cara no.1 karena lebih mudah kostumisasi dan bisa menghilangkan iklan facebook. Untuk pembahasan lebih lanjut tentang kelebihan dan keurangan cara diatas akan dibahas lain waktu dalam artikel berbeda.

Teruss....buat balikinnya gmn..???

Merubah tampilan facebook, mungkin pernah Anda lakukan, tetapi malah kesal dengan loadingnya yang lambat. Dari pada jengkel dan bikin hati kesal menunggu lambatnya loading silakan saja kembalikan kondisi tampilan facebook seperti semula. Jika Anda melakukan cara yang ada di blog ini yaitu cara merubah tampilan facebook dengan yontoo atau userstyle silakan kembalikan tampilan facebook seperti semula dengan cara berikut:

1. Masuk tools

2. Pilih Add-ons

3. Pilih Extentions

mengembalikan tampilan facebook

4. Pilih Yontoo Layers/Stylish

5. Uninstall

mengembalikan tampilan facebook

6. Restart Mozila Firefox

*tambahan untuk yang cara Yontoo
agar lebih bersih untuk mengembalikan tampilan facebook seperti semula lakukan remove aplikasi PageRage (pilih remove this aplication)

Silakan lihat kembali halaman facebook Anda :)


Sumber : http://www.tips-fb.com

Indonesia : Sebuah Dogeng Tentang Negeri di Atas Awan

Pengertian negara secara harfiah adalah organisasi, yang dipersyarati oleh adanya wilayah, rakyat, pemerintah yang berdaulat, dan pengakuan dari negara lain. Kemunculan nama Indonesia untuk pertama kalinya dalam daftar nama negara tentu merupakan kesanggupan pemenuhan syarat tersebut. Tetapi hal yang dilupakan, bahwa pada dasarnya negara adalah sebuah konsep abstrak yang ”dipaksakan” untuk membahasakan dirinya dalam realita. Bisa jadi pada mulanya persyaratan adanya negara seperti yang diungkapkan di atas, tidaklah muncul sebelum negara itu ada, melainkan melalui analisa dari negara yang telah ada dan juga kesepakatan bersama tentang syarat yang pada akhirnya diajukan.

Hal ini tak harus didekonstruksi, karena pengaruhnya yang telah meluas dan terinternalisasikan dalam mindset masyarakat, lagipula salah kaprah bukan hal istimewa terjadi dalam sejarah.


Indonesia : Hanya ½ Negara

Merujuk dari persyaratan sebuah negara, mungkin saja Indonesia pernah memilikinya pada masa lalu. Setelah mengalami perjalanan waktu demikian panjang, Indonesia tentu telah mengalami berbagai perubahan. Sekarang ini, semua syarat negara yang (tadinya) dimiliki oleh Indonesia mengalami ”konslet” yang sangat berpotensi menghilangkan Indonesia dalam peta dunia.

Pertama, dengan batas wilayah yang membentang luas dari Sabang sampai Merauke, Indonesia seperti tak mampu lagi menghargai batas yang telah diklaimnya sendiri. Kemerdekaan Timor Timur mengisyaratkan adanya kekecewaan mendalam yang dirasakan. Pengkhianatan batas teritori oleh negara lain seperti klaim terhadap pulau Ambalat tak ayal mengukuhkan ketidakmampuan Indonesia mengurus tubuhnya sendiri. Dalam hal ini ada dua hal yang telah terlampaui, pengingkaran batas secara fisik, dan juga pengingkaran atas ikatan emosional antar wilayah. Hal ini bisa jadi merupakan suatu bentuk pelampiasan atas kejenuhan praktik sentralisasi, sehingga mengembangkan perasaan centraphobia (ketakutan terhadap pusat) yang tersusun rapi sepanjang rentang orde baru. Euforia otonomi daerah sebagai perubahan habitus, meminjam bahasa Bordieu, dilakukan karena sentralisasi yang dianggap telah keterlaluan dalam mengintervensi kebebasan banyak pihak.

Kedua, ratusan juta manusia pemegang KTP Indonesia adalah bukti pemenuhan syarat yang menjadikan Indonesia sebagai sebuah negara. Namun hal ini tidak berarti ratusan juta manusia itu adalah milik Indonesia, (kebanyakan) mereka hanya secara kebetulan terlahir di dalam garis batas wilayah Indonesia dan ”dipaksa” menyatakan diri sebagai orang Indonesia. Tentu menjadi berbeda jika semua manusia mempunyai kebebasan untuk memilih negaranya, negara-negara di seluruh dunia ditempatkan dalam sebuah daftar yang bisa dipilih, salah satunya Indonesia. Permasalahan dalam syarat kedua yang dimiliki oleh Indonesia telah berbuah konflik dengan berbagai macam latar belakang dan pemicunya. Indonesia telah terdepak dari pentas konflik masyarakat. Pola pikir oposisi biner, ”aku adalah A, dan karena kamu tidak sama denganku, maka kamu adalah B”, sebagai pelaku pendepakan atas Indonesia dalam setiap konflik yang terjadi. Kehadiran Indonesia hanya sebatas tedheng aling-aling dan pembenaran tindakan, agar tak dipeyorasikan sebagai tindak separatis.

Ketiga, kedaulatan pemerintah tak lagi dianggap sakral. Secara logika sederhana, pemerintah ada karena ada yang diperintah. Pemerintah dibuat untuk ”menetapkan perintah-perintah” demi kepentingan orang yang diperintah. Jika ”perintah-perimtah” yang ditetapkan oleh pemerintah kini menjadi bulan-bulanan aksi demonstrasi, memperlihatkan adanya penolakan atas ”perintah” tersebut. Pemerintah tak lagi mempunyai daulat jika melihat berbagai penolakan yang meluncur tajam dari pihak yang merasa termarjinalkan.

Keempat, pengakuan luar negeri. Pindah-tangan pulau Ambalat, pembakaran kapal nelayan, pengusiran Sutiyoso, tak kurang bukti pengingkaran luar negeri terhadap Indonesia. Indonesia seolah tak ada, hanya cerita negeri dongeng tentang negara yang penuh bahaya tetapi terlalu indah untuk tidak dikunjungi.

Dengan kecacatan syarat tersebut, ternyata Indonesia masih saja menghabiskan energi untuk perpecahan, provokasi, adu domba, narsisisme kekuasaan, eksklusivisme kelompok, egoisme daerah, diertai buaian romantisme masa lalu. Indonesia seakan telah kehilangan dreamland tempat berlabuh, menurut Yasraf Amir Piliang.

Pola chaos yang terbentuk mengisyaratkan kesunyian visi, sehingga harus memaklumkan munculnya opsi penghapusan Indonesia, ke-tak harus adaan-Indonesia. Mengembalikannya pada prinsip-prinsip dasar manusia, yang tak membutuhkan negara. Tetapi bukankah itu juga sebuah romantisme masa lalu, pengingkaran terhadap kenyataan bahwa ini adalah permasalahan yang ditimbulkan oleh Indonesia? Sampai di sini Indonesia harus berani menyelesaikan masalah sebagai Indonesia, sebuah penyelesaian yang Indonesiawi dengan meneguhkan eksistensi ”wilayahnya” terhadap rakyat dan pihak asing melalui kedaulatan pemerintah.

Terus bertahan dalam kungkungan pola semacam itu tak berpengaruh apa-apa selain melebarkan tawa ”si monyet”, sekaligus merintis penulisan novel berjudul ”Indonesia: Sebuah Dongeng Tentang Negeri di Atas Awan

Meneguhkan Gerakan Intelektual Mahasiswa

Semua manusia adalah intelektual, namun tidak semua manusia menjalankan fungsi intelektualnya dalam masyarakat.

Antonio Gramsci (1891-1937).

Mahasiswa baru memasuki dunia kampus dengan motivasi dan orientasi awal yang berbeda, ada yang menganggap kuliah sekadar prestise, ajang cari jodoh, mengasah intelektual, dan –sebagian besar- sekadar sebagai tempat mendapatkan ijazah agar mudah dapat kerja. Salah satu orientasi mahasiswa adalah intelektualisme yang biasanya baru disadari dan terbentuk ketika mahasiswa bersangkutan berinteraksi dengan segenap literatur ilmiah yang diramu dengan nalar kritis dan dibenturkan pada realitas sosial masyarakat.

Namun sayang orientasi yang relatif strategis dalam menjalankan posisi sebagai pioner perubahan di masyarakat ini mulai redup, tergadaikan, dan ditinggalkan. Aktivis mahasiswa banyak yang sekadar jago manajemen organisasi tapi minim kapasitas intelektual, dan sebaliknya banyak “intelektual” yang menghabiskan diri sebagai “intelektual bebas” lalu merasa lebih nyaman bertengger dalam puncak-puncak intelektual yang tak membumi dan elitis.

Bukankah mestinya mahasiswa sebagai aktivis dalam arti luas dapat membumi dan memancarkan sisi intelektualitasnya untuk semua, tak hanya berguna untuk komunitasnya saja. Aktivis yang bergerak pada ranah ini sebenarnya lebih mendekati apa yang disebut Antonio Gramsci (1891-1937) sebagai intelektual organik yang mampu mempertautkan teori dan praksis sebagaimana dituju oleh Mazhab Frakfurt agar lebih berguna bagi kehidupan dan memecahkan problem sosial.

George A. Theodorson & Achilles G. Theodorson (1979) mengatakan bahwa kaum intelektual adalah anggota masyarakat yang mengabdikan dirinya pada pengembangan ide-ide orisinal dan terikat dalam pencarian pemikiran-pemikiran kreatif. Dengan demikian terdapat karakteristik kaum intelektual, yaitu pada penggunaan intelek dan akal pikiran, bukan untuk hal-hal yang bersifat praktis, tapi lebih berorientasi pada pengembangan ide-ide.

Hal itu memperkuat tesis bahwa kaum intelektual pada dasarnya bersifat progresif revolusioner, meskipun lebih diwujudkan dalam revolusi pemikiran bukan revolusi fisik. Hal inilah yang menjadikan intelektual sebagai berperilaku, bersikap, dan berkarakter kritis. Dan sebagai kritikus, kaum intelektual menyatakan pikiran dan kritiknya secara jelas dan bijak.

Sejatinya insan intelektual dengan beberapa kualifikasi seperti di atas bukanlah monopoli pendidikan formal, terutama perguruan tinggi. Bahkan banyak kaum intelektual lahir dari luar benteng menara gading kampus. Mereka mampu mengembangkan pemikiran sendiri hingga mencapai kemampuan pemikiran dan perilaku intelektual.

Sebaliknya banyak jebolan perguruan tinggi yang lebih tepat digolongkan sebagai intelegensia daripada intelektual. Intelegensia menurut Gouldner (1979) adalah mereka yang minat intelektualnya secara fundamental bersifat teknis. Hal ini karena sebagai produk perguruan tinggi mereka telah menerima pendidikan yang membuat mereka mampu memegang pekerjaan sesuai dengan bidang dan profesi ilmunya.

Donald Wilhelm (1979) menambahkan, bahwa banyak tamatan perguruan tinggi mengalami kemandegan atau kehilangan kapasitas intelektualnya ketika mereka masuk ke dalam birokrasi dan rutinitas akademis di perguruan tinggi atau di manapun mereka bekerja. Perguruan tinggi yang diharapkan dapat berperan sebagai avant garde, inovator dan pembaharu masyarakat kemudian terjebak dalam mekanisme birokrasi dan spesialisasi atau profesinya di mana mereka terus menerus mengolah dan menghasilkan informasi serta pikiran dalam bidang mereka masing-masing yang relatif sempit.

Hal itu tentu bertentangan dengan kenyataan bahwa masalah yang dihadapi masyarakat sekarang tak dapat dipecahkan dengan pendekatan sempit semacam itu; pemecahan masalah sekarang membutuhkan pendekatan menyeluruh, interdisipliner dan berwawasan luas.

Berkaitan dengan atmosfer intelektual akademik di kampus kita sekarang, di mana kualitas mahasiswanya tergolong biasa-biasa saja, baik-baik saja, padahal –sebagaimana kata Tanadi Santoso (motivator marketing terkemuka)- biasa dan baik saja sekarang tak cukup. Yang dibutuhkan sekarang adalah sangat baik, atau buuuaik sekali! (mengikuti kebiasaan orang Jawa ketika mengatakan sesuatu dengan nada ‘sangat’, biasanya ditambah dengan vokal “u”, misal dari kata baik menjadi buuaik, dari enak menjadi uuuenak). Maka momen orientasi mahasiswa baru sekarang layak kita dengungkan kembali, bahwa mahasiswa mesti kembali pada khittah-nya di jalur intelektual dengan meneguhkan gerakan intelektual mahasiswa.

Pertanyaan menggelitik yang layak diajukan adalah, apakah kita termasuk intelektual atau sekadar intelegensia? Kita mahasiswa biasa atau luar biasa? Atau dalam perenungan yang lebih dalam lagi, “Selama hidup kita di kampus ini, kita akan menghargai waktu yang diberikan oleh Tuhan tersebut dengan karya apa?” Kita ingin menjadi mahasiswa yang seperti apa? Dan semuanya kembali pada diri kita sendiri untuk menjawab itu semua. Wallahu a’lam bishsawab.

Lagi Asyik Baca...

Bertahun-tahun, saya heran kenapa sih Indonesia "Tidak pernah maju-maju" meski negara ini sudah merdeka lebih dari 60 tahun. Tapi sekarang...akhirnya saya sudah tahu alasannya. Berdasarkan data statistik : hmmm…okey-okey…

Jumlah penduduk Indonesia sekarang ada 225 juta orang. 100 juta di antaranya adalah para pensiunan dan anak-anak. Jadi yang kerja cuma 125 juta penduduk.

Jumlah pelajar dan mahasiswa adalah 78 juta. Jadi tinggal 47 orang yang kerja. Yang kerja buat pemerintah pusat jadi pegawai negeri ada 31 juta, jadi tinggal 16 juta yang kerja (karena PNS paling cuma main catur dan baca koran)….hehehe ^_^v

Ada 4,5 juta yang jadi TNI dan Polisi. Jadi tinggal 11,5 juta yang kerja (karena TNI dan Polisi tidak ada kerjaan juga).

Ada lagi yang kerja di pemerintahan daerah dan departemen-departemen lain jumlahnya 10.500.000. Jadi sisanya tinggal 1.000.000. Yang sakit dan dirawat di Rumah Sakit di seluruh Indonesia ada 888.000. Jadi sisa 112.000 orang saja yang kerja.

Ada 111.998 orang yang di penjara karena banyak kasus seperti korupsi bahkan karena ga kerja justru jadi maling…..Jadi tinggal sisa dua orang saja yang masih bisa kerja. Siapa mereka??? Yaaa...tentu saja SAYA dan ANDA!
!

Tapi kan sekarang ANDA lagi asyik baca blog ini sambil cekikak-cekikik sendiri. Jadi tinggal saya sendiri dong yang kerja!!!! Pantes aja kalau begini Indonesia tidak maju-maju........!!! hahaha… ^_^d

Kemerdekaan Untuk Kita..???

Kemarin seorang teman mengirim SMS. Dia bertanya, Apa beda kemerdekaan dan kebebasan? Kenapa tanggal 17-08-1945 bukan hari kebebasan Indonesia?

Tepat saat pesan SMS masuk, saya sedang membaca sebuah artikel di National Geographic Magazine. Artikel tersebut ditulis sekitar 50 tahun yang lalu, kemudian diterbitkan ulang oleh National Geographic Magazine Indonesia edisi bulan Agustus 2008. Sang wartawan, Beverly M. Bowie, menulis:

Masyarakat Indonesia sangat ramah, sangat sopan, sangat bersih---dan tidak terburu-buru. Di setiap daerah, siapapun bisa merasakan energi anak muda yang berlebih. Bertubuh lentur dengan proporsi yang baik dan berotot, mereka berjalan dengan kepala tegak, bangga, dan melangkah selincah penari---kenyataannya, sebagian besar diantara mereka dapat menari. Jarang sekali mereka meninggikan nada bicara kecuali ketika tertawa dan tampak tidak pernah marah.

Apa artinya keterkaitan kedua situasi yang secara kebetulan sedang saya alami itu? Mengapa situasinya begitu kontras dengan fakta sekarang? Kemudian, mengapa tidak ada istilah hari kebebasan?

Seketika saya membalas SMS tersebut. Begini: kemerdekaan itu berbentuk plural. Kemerdekaan identik dengan “kita”, sedangkan kebebasan identik dengan “saya”. Bentuk plural adalah sebuah klaim. Dia akan berevolusi menjadi sebuah pluralis imperialis. Yang akhirnya akan berkontras dengan dirinya sendiri.

Semisal, ketika saya mengatakan bahwa saya adalah cowok jomblo terhebat di dunia. Barangkali orang tidak akan merasa tertipu dengan pernyataan saya. Orang yang mendengar hal tersebut barangkali akan menganggap saya sebagai pembual gila. Dan tidak akan pernah menganggap saya memiliki keterkaitan dengan PJI (alias, Persatuan Jomblo Internasional) hahaha….Tapi hal tersebut lain jika dikatakan dalam konteks politik.

Kemerdekaan! Adalah sebuah klaim bagi pembenaran kekuasaan. Dia adalah klaim politik bagi sebagian orang yang sekarang disebut sebagai Founding Father. Segelintir orang dipercaya sebagai perwakilan sebuah bangsa. Sebuah kebetulan yang dirayakan sebagai peringatan kemerdekaan.

Bagi orang yang sering menggunakan akal sehatnya---dan sedikit jeli. Lenyapnya kolonialisme “bangsa lian” secara laten akan berevolusi menjadi “imperialisme” dalam bentuk yang baru. Perampokan gaya baru ini semakin mendapat legalitas serta jalannya nyaris mulus. Karena hampir belum pernah ditentang sekalipun.

Zaman sekarang, imperialisme dapat dilakukan dengan tiga cara. Yang pertama melalui kekerasan/perang, yang kedua melalui penguasaan penuh terhadap sistem moneter, Ketiga melalui strategi budaya.

Dalam sistem moneter, uang logam dirubah menjadi uang kertas. Surat hutang digunakan untuk biaya operasional politik/pemilu, pajak dikorupsi secara terang-terangan. Media massa memberi penjelasan panjang lebar tentang manfaat bonds—sekarang punya varian dengan nama sukuk! Pertanyaannya, dengan apa pemerintah membayar itu semua di masa depan? Yang jelas dengan uang dari individu-invidu yang bekerja keras!

Dalam bidang kebudayaan, Sejarah digunakan sebagai pembenaran bagi rezim penguasa. Dan kebenaran diplintir sedemikian rupa melalui ruang-ruang kelas yang disebut sebagai sistem pendidikan nasional.

Jalan imperialisme baru tersebut nyaris mulus. Karena sang imperium (pemerintah) telah berhasil menciptakan sebuah artificial enemy. Mereka sering menyebutnya "Barat", "Kapitalis" "Kafir Bejat" uppss..keceplosan…, "Kontra revolusioner", "Anti pembangunan", "Anti Reformasi", "Fundamentalis Pasar", "Pengacau Keamanan", "Pemberontak", "Pengganggu Stabilisator", "Pembangkang", "Anti Pancasila", dan "Anarkis"

Cinta Pereda Konflik

“Cinta kepada hidup memberikan senyuman abadi, walau hidup kadang tak adil, tapi cinta lekat di kita….yoo..menari lah dan….”eh eh ko malah nyanyi..hehe…masih ingetkan itu lagunya siapa..??!!
Yapz, bener itu theme song film Laskar Pelangi, yang judulnya Laskar Pelangi juga…
Okey, lagu itu jelasin tentang cinta tentunya..to the point aja…

Cinta adalah kunci kedamaian, keindahan, kenikmatan, serta yang memberi manusia akan kebahagiaan yang sesungguhnya dan sebenarnya. Cinta menyiram kehidupan manusia yang kering dan gersang. Membuat seseorang masih memiliki harapan dalam hidup. Minimal harapan untuk dapat memiliki cinta sejati. Melampaui zaman pencerahan, cinta memberikan cahaya yang luar bisa di dalam hati dan pikiran. Sehingga cinta sejati bukan sekadar keinginan untuk memiliki, bukan pula keinginan untuk mengurung sang kekasih dalam kekuasaan otoriternya, melainkan kesadaran untuk saling memberi, berkorban, dan berbuat apa saja hanya untuk kebahagiaan kekasih.

Ketika cinta itu bersemai, pertanyaan dasarnya, bagaimana dengan petengkaran dan perceraian yang terjadi dalam rumah tangga atau hubungan dua sejoli. Ternyata, pada kasus ini, cinta itu telah hilang. Pertengkaran yang terjadi telah membuktikan rasa cinta diantara mereka telah pupus, hancur, dan hilang. Cinta bisa meredam pertikaian sedahsyat apapun. Karena bila cinta itu masih ada, seseorang tak akan sanggung melukai, berusaha menekan ketegaan, sehingga melakukan apa pun untuk mempertahankan cinta itu.

Kekuatan cinta melebihi batas-batas ruang dan waktu. Jika cinta itu lekat di hati, maka sampai kakek-nenek pun dua sejoli tetap akan membawa suasana romantisme. Bahkan kematian terkadang tak menyurutkan cinta, orang bersedia menduda atau menjanda seumur hidup demi cintanya pada kekasih yang telah meninggal.

Tak akan mungkin ada konflik, jika cinta itu tumbuh subur di dalam kehidupan manusia. Cinta melahirkan inspirasi kehidupan bagi manusia, menciptakan malaikat jelita penjaga jiwa dan hati manusia. Suatu cinta yang tegak laksana cahaya mercusuar biru menunjukkan jalan yang membimbing manusia tanpa sinar yang tampak. Tak kan ada pertikaian, tak kan ada permusuhan, tak kan ada perkelahiran, tak kan ada pertarungan, semuanya jika cinta masih dimiliki oleh manusia. Ternyata cinta sejati tak hanya kepunyaan dua sejoli yang berpadu kasih saja, melainkan ia dimiliki oleh sebuah keluarga. Kecintaan bunda pada anak, tak akan bisa diuraikan dengan bahasa apapun. Tak ada bahasa yang mewakili untuk menggambarkan betapa kasih sayang dan rasa cinta bunda pada anak begitu besarnya.

Beliau memberikan cintanya setulus ia mencintai dirinya, bahkan lebih. Mulai dari kita dilahirkan di dunia, kita disusui, dibesarkan dengan kasih. Beliau dengan alasan yang tak jelas menyekolahkan kita, mendidik kita, berusaha membimbing kita. Bunda, terkadang engkau otoriter, jauh di hati, tetapi kasihmu tetap terasa bagi orang-orang yang mampu melihat betapa besarnya jasa seorang bunda pada kita. Sahabat, pacar, guru, dan orang-orang yang berlalu-lalang di kehidupan kita, mereka adalah orang-orang yang sementara membantu kita. Temen SD lulus berpisah, teman SMP lulus berpisah juga, temen SMU lulus berpisah. Hanya faktor kebetulan dan ketidak-sengajaan saja, mereka satu sekolah lagi dengan kita. Tetapi orang-tua, bunda selalu ada dan orang yang paling sedih ketika kita sakit. Orang yang menanggis ketika kita kesusahan. Dan orang yang merasa paling bertanggung-jawab atas kehidupan kita.

Orang yang selalu menginginkan kita jadi yang terbaik tanpa menaruh rasa iri. Itulah, bunda. Cintanya sedalam samudra dan setinggi langit, bahkan melewati perbatasan semesta alam ini. Cinta ita pada saudara juga cukup mendasar. Orang tak merasakan betapa berharganya saudara, tetapi jika ia jauh, ia kesusahan, kita adalah orang yang paling peduli akan kondisinya. Adik dan kakak, kita sangat mencintaimu. Inilah kisah-kasih singkat tentang cinta. Pendeknya, konflik tak akan mungkin terjadi, jika kita mencintai orang yang lebih tua sebagaimana cinta kita pada orang tua dan mencintai orang yang sebaya atau lebih muda sebagaimana kita mencintai saudara kita.

Konflik Psikologis
Tenyata setelah saya baca beberapa buku tentang psikologi, terdapat berbagai macam konflik di dalam diri. Yaahh..mungkin aja udah ada dari lama tapi saya baru tahu…hehe…Okey gapapa dilanjutin lagi yap analisisnya…

Umpamanya jika pendapat Freud tentang psikoanalisis, ternyata manusia memiliki ”konflik di dalam dirinya sendiri”. Freud menyebutkan, perception about human behaviour. Freud states that human behaviour is determined by the irrational power which is not aware of biological motivation and motivation of certain psychological sexual. Freud menyatakan perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan tidak logis yang mana tidak peduli akan motivasi biologi dan motivasi dengan seksual psikologis, the structure of human personality consists of idea, ego and superego; Struktur dari kepribadian manusia terdiri dari ide, ego dan superego; Consciousness and unconsciousness kesadaran dan keadaan tidak sadar; worries kekuatiran; mechanism how to defend ego, mekanisme bagaimana caranya mempertahankan ego; dan terakhir, the development of individuality pembangunan dari ciri khas.

Berdasarkan ajaran kunci Freud di atas, maka pertautan antara alam sadar (conscience mind) yang selalu menekan alam bawah sadar (unconscience mind) adalah konflik tersendiri di dalam diri manusia. Alam bawah sadar (unconscience mind) yang terdiri dari impuls-impuls, insting yang letaknya terdalam selalu di halang-halangi oleh alam sadar manusia (conscience mind). Proses penghalangan ini tak hanya dipengaruhi oleh watak logis-rasionalistik manusia, melainkan juga determinasi lingkungan sosial manusia. Masyarakat beserta hukum sosialnya selalu menghalang-halangi kemunculan alam bawah sadar manusia (unconscience mind).

Itulah konflik di dalam diri, yang memperlihatkan dua kubu alam bawah sadar (unconscienc mind) dan alam sadar (conscience mind). Biasanya orang menyebutnya secara sederhana dengan bahasa perang antara rasio dengan batin, keinginan dengan kewajiban, nalar dengan intuisi, dst. Bahkan di Filsafat ada hukum pertentangan: dialektika Hegel, diskursus Foucault, logika Aristotelian, dst. Dengan kata lain, konflik ternyata bukan berada di mana-mana, melainkan juga ada di dalam diri, pikiran.

Beranjak dari gagasan Freud menuju ke konsepsi psikologi sosial. Dean G. Pruilt dan Jefrey Z Rubin berangkat dari pemikiran Darwin, Freud, dan Marx mengungkapkan bahwa terdapat tiga kabar gembira dari kemunculan konflik. Pertama, konflik sebuah persemaian yang subur bagi terjadinya perubahan sosial. Kedua, konflik memfasilitasi tercapainya rekonsiliasi atas berbagai kepentingan. Dan ketiga, konflik dapat mempererat tali persatuan kelompok.

Perubahan seperti apa yang di kemukakan oleh Dean G. Pruilt dan Jefrey Z Rubin memang harus berjalan. Namun bukan konflik konfrontasi dalam skala tertinggi dan meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan. Gagasan revolusi etis bisa dimaknai sebagai perubahan radikal tanpa anarkhisme dan pengebirian kelompok ideologi tertentu dengan kelompok lain, melainkan sebuah usaha menolak kemapanan dengan sikap intelektualis dan reformis. Ada dua efek yang secara bersamaan timbul dalam aksi perubahan, yakni pengbongkaran dan penciptaan. Dengan dibingkarnya rezim yang telah mapan dalam rangka mencari kebenaran, di saat yang bersamaan secara alamiah penciptaan (rekontruksi) berlangsung. Bukan tidak mungkin perubahan bisa terjadi mengalami kemunduran ketimbang hasil yang lebih baik. Namun perubahan dengan tanpa eskalasi konflik yang di mungkinkan bisa di jadikan pedoman guna menyusun perubahan yang signifikan tanpa aksi kekerasan dan pemaksaan.

Masih dalam kerangka Dean G. Pruilt dan Jefrey Z Rubin kita menyaksikan pernyataan keduanya, memang cukup rasional jika konflik otomatis akan menggambarkan peta politik dan tatanan sosial. Peta politik dan tatanan sosial yang dikonstruksi berdasarkan kesamaan kepentingan dan kebutuhan kelompok yang bersangkutan. Namun tidak ada jaminan bahwa konflik tanpa penyelesaian bisa merekonsiliasikan kelompok-kelompok yang bersengketa. Yang ada hanyalah kemungkinan konflik yang kian meluas, bertahan dalam waktu yang lebih lama, dan menguras energi tanpa kemanfaatan utilitarianis. Ini juga menyangkut pernyataan Dean G. Pruilt dan Jefrey Z Rubin dalam item ketiganya yang tak dapat dimungkinkan apabila kelompok bersatu erat lantaran adanya sebuah konlik yang mendahuluinya, justru malah konflik-konflik baru yang muncul dari konflik awal, memisah dan memecahkan persatuan dan solidaritas sosial masyarakat.

Dalam termnologi psikologi sosial, dipahami bahwa konflik dalam masyarakat berangkat dari sistem kesadaran kolektif sebagai faktor pemicu spiral kekerasan dan konfrontasi.

Sedikit Teoritik-lah
Menurut Teori Konflik dalam sosiologi, tindakan manusia yang terlibat dalam peristiwa sosial dan politik, sosial ekonomi dan bidang-bidang lainnya selalu ada konflik. Seorang Sosiolog bernama, Matindale mengatakan bahwa Teori konflik adalah ciptaan manusia yang mengalaminya. Teori konflik sebenarnya merupakan teori yang berusaha untuk mengkritisi Teori Struktural Fungsional Talcott Parsons yang memandang masyarakat sebagai suatu kesatuan yang seimbang (equiliribium) yang cenderung statis dan tertutup. Para pengamat politik dan sosial menekankan pentingnya konflik dalam kehidupan manusia. Pada abad 18-an para pemikir ekonomi menjadikan konflik sebagai pusat teori mereka. Konflik antara kepentingan individu dan kepentingan sosial dijadikan dasar penciptaan Teori Ekonomi oleh Adam Smith.

Ralf Dahrendorf membangun teori hubungan antara konflik masyarakat dan perubahan. Dahrendorf mengatakan bahwa seluruh kreativitas, inovasi dan perkembangan dalam kehidupan individu, kelomoknya dan masyarakatnya, disebabkan terjadinya konflik antara kelompok dan kelompok, antara individu dan individu serta antara emosi dan emosi di dalam diri individu. Menurut Dahrendorf, konflik sosial mempunyai sumber struktural, yakni hubungan kekuasaan yang berlaku dalam struktur organisasi sosial. Inti pemikiran Dahrendorf adalah sebagai berikut:
Pertama, Setiap masyarakat dalam segala hal tunduk pada proses perubahan; perubahan terjadi di mana saja. Kedua, Setiap masyarakat dalam segala hal memperlihatkan ketidaksesuaian dan konflik; konflik sosial terdapat di mana-mana. Ketiga, Setiap unsur dalam masyarakat memberikan kontribusi terhadap perpecahan dan perubahannya. Keempat, Setiap masyarakat berdasarkan atas penggunaan kekerasan oleh sebagian anggotanya terhadap anggota yang lain. Secara ringkas Dahrendorf mengatakan bahwa konflik kelas menyebabkan perubahan struktural dan merembes sehingga terjadi di mana-mana.

Teori resolusi konflik antara lain sebagai berikut : teori identitas, teori hubungan masyarakat, teori negosiasi prinsip, teori kesalah-pahaman, teori tranformasi, teori kebutuhan manusia. Teori identitas menekankan bahwa penyebab konflik bermula dari sekelompok orang yang merasa identitasnya terancam oleh kelompok lain. Sehingga untuk menyelesaikannya harus melalui fasilitasi lokakarya dan dialog antar wakil-wakil kelompok yang mengidentifikasi ancaman-ancaman hingga pada pencapaian kesepakatan bersama yang mengakui identitas pokok semua pihak. Dengan demikian, jika teori ini di aplikasikan ke dalam duduk persoalan yang kita geluti maka pelaksanaannya haruslah menuntut para aktor konflik bersedia menanggalkan identitas sementara yang sebenarnya telah ditunggangi kepentingan politik untuk mencapai sebuah kesepakatan damai. Janganlah sampai identitas yang berasal dari heteroginitas yang harmonis dijadikan kedok tersembunyi bagi kepentingan-kepetingan yang hendak merusak ketentraman masyarakat adat. Padahal konflik yang berkepanjangan justru malah banyak merugikan masyarakat, pemerintahan lumpuh, energi terbuang sia-sia, pembangunan terhambat dst.

Selanjutnya, teori hubungan masyarakat melihat konflik yang disebabkan oleh polarisasi yang terus terjadi, adanya ketidakpercayaan dan revitalitas kelompok dengan masyarakat. Inilah yang kita saksikan dalam konteks pertikaian pilkada Maluku Utara, semula masyarakat yang terfragmentasi dalam lingkup etnis, ras, sistem kepercayaan yang sangat berbeda, setelah fragmen itu mapan, eksistensinya diperkuat oleh fragmen yang ditambahkan lagi melalui perpecahan akibat proses politik, yakni pilgub, masyarakat adat terbagi ke dalam kubu-kubu pendukung pasangan calon yang saling berhadap-hadapan. Maka dengan demikian, konflik tersulut dengan sangat mudah apabila sentimen-sentimen antarkelompok ditumbuhkan di balik kedok politik busuk para elitnya. Pengembangan toleransi agar masyarakat mau menerima keberagaman adalah suatu hal yang sebelumnya dikuatkan terlebih dahulu.

Sementara, teori negosiasi prinsip disebabkan posisi yang tidak seimbang antarkelompok masyarakat yang menciptakan struktur hirarkhis tertentu. Teori kesalah pahaman menjelaskan adanya ketidak cocokan dalam berkomunikasi di antara orang-orang yang memiliki latar-belakang yang berbeda-beda. Sedangkan teori tranformasi disebabkan oleh ketidak-adilan sosial oleh faktor-faktor ekonomi, politik, dan sosial. Terakhir adalah teori kebutuhan manusia yang menerangkan penyebab konflik berasal dari kebutuhan manusia yang tidak terpenuhi. Kesemua teori resolusi konflik ini sebenarnya dapat diselesaikan dengan ”komunikasi”, entah itu dengan mediasi, negosiasi, loby, dst.

Sedangkan, bagaimana menyikapi konflik yang terjadi antarnegara dengan masyarakat. Mengingat betapa banyaknya lembaga negara yang saling menunjukkan eksistensi mereka, sementara masyarakat berada di antara perhelatan kepentingan dan tak jarang mereka melontarkan protes dan kekecewaan antara satu sama lain. Kebiasaan negara menjalankan sistem kebijakan top down sangatlah berimplikasi buruk pada hubungan negara dengan masyarakatnya. Sehingga bukannya bottom up, melainkan dengan kekuatan memaksa (coercive power) menjadi modus operandi yang selama ini keliru besar. Untuk menjaga keharmonisan relasi antara negara dengan masyarakat, negara perlu mengindentifikasi kebutuhan, keinginan, dan harapan masyarakat, sehingga bahan-bahan identifikasi dapat dipergunakan untuk merumuskan keputusan yang tidak bermuatan konflik dengan masyarakat lokal.

Hukum Hanya Peredam Konflik Sementara
Maka teori yang tepat untuk menjelaskan fenomena ini adalah Teori Bekerjanya Hukum yang dikemukakan oleh William J. Chambliss dan Robert B. Seidman. Bekerjanya hukum dalam masyarakat melibatkan beberapa unsur atau aspek yang saling memiliki keterkaitan sebagai suatu sistem. Beberapa aspek tersebut yaitu: Lembaga Pembuat Hukum (Law Making Institutions), Lembaga Penerap Sanksi (Sanction Activity Institutions), Pemegang Peran (Role Occupant) serta Kekuatan Sosietal Personal (Societal Personal Force), Budaya Hukum (Legal Culture) serta unsur-unsur Umpan Balik (Feed Back) dari proses bekerjanya hukum yang sedang berjalan. Sehingga dengan demikian, elemen-elemen yang menjadi komponen penting dalam hukum akan mengejawantahkan ketertiban dan keteraturan.Bentuk lain dari produksi ketertiban dan keteraturan itu adalah peraturan perundang-undangan.

Peraturan perundang-undangan (legislation) merupakan bagian dari hukum yang dibuat secara sengaja oleh institusi negara. Dalam konteks demikian peraturan perundang-undangan tidak mungkin muncul secara tiba-tiba pula. Peraturan perundang-undangan dibuat dengan tujuan dan alasan tertentu. Saat ini sudah berkembang suatu cara pandang kritis terhadap hukum atau Critical Legal Study (CLS). Cara pandang ini didorong oleh suatu Gerakan Studi Hukum Kritis (GSHK) sekitar tahun 1970-an yang salah satu tokohnya adalah Roberto M. Unger. Kalangan CLS berangkat dari titik tolak yang berbeda dengan teori hukum liberal. Gerakan CLS berpandangan bahwa “law is as negotiable, subyejective dan policy-dependent as politics.” Hal ini adalah realitas bahwa hukum dalam praktik pendayagunaannya tidak selalu bertolak dalam premis normatif yang telah selesai disepakati bersama, baik dalam pembentukan undang-undang positif (in abstracto) maupun dalam penerapannya (in conreto). Menurut CLS tidak mungkin memisahkan politik dan pilihan-pilihan etik dengan hukum berdasarkan argumen obyektifitas dan netralitas hukum, sebagaimana dikembangkan oleh teoritisi hukum liberal. Melalui pendirian ini, kalangan CLS ingin mengedapankan analisis hukum yang tidak hanya bertumpu pada segi-segi doktrinal semata—yang mengandalkan metode deduktif (lewat silogisme logika formal), tetapi juga dengan mempertimbangkan berbagai faktor luar doktrin hukum seperti pengaruh faktor sosial, politik dan ekonomi dalam proses pembuatan dan penegkan hukum. Dengan titik tolak seperti ini tampak sangat sulit untuk mengatakan bahwa hukum itu bersifat netral dan obyektif, baik dalam proses pembuatannya maupun proses aplikasi (interpretasinya). Jauh lebih dapat diterima memandang hukum sebagai suatu produk yang tidak netral karena senantiasa ada konflik kepentingan-kepentingan---bahkan perebutan kepentingan---tersembunyi yang difasilitasi hukum.

Ya, pada akhirnya, tetap saja hukum berfungsi sebagai alat untuk pengendalian sosial (as a tool of social control) hukum kata Roscou Pound.

Haduh..ko repot-repot ya, apalah arti dari semua teori, kesalahan pada tulisan ini yang menampilkannya, hehehe…tetapi hal itu hanya untuk pra-syarat kalau di dalam paradigma sains positivistik model itu sangat diagung-agungkan, dikultuskan, dan di dewa-dewakan. Tetapi sesungguhnya hanyalah “cinta” yang mampu menangulangi konflik…..Bener ga..???

Aktivis Asli Tapi Palsu

"Apakah selamanya politik itu kejam, apakah selamanya ia datang untuk menghantam atau memang itu yang sudah digariskan, menjillat, menghasut, menindas memperkosa hak-hak sewajarnya"

( Iwan Fals)

Kata aktivis sangat popular dikalangan mahasiswa pasca reformasi. Karena bargain aktivis menjadi tinggi saat mereka bersatu menumbangkan rezim orde baru di tahun 1998. Sampai sekarang aktivis dianggap layaknya seorang pahlawan yang telah mengusir penjajah di Negeri ini. Mereka selau dikenal dan disambut dengan hormat jika berjalan disepanjang jalan.

Di mulai dengan sejarah itu, sekarang banyak orang yang ingin menjadi aktivis, terlepas dengan perasaan ketulusan hati mereka untuk memperjuangkan hak-hak kaum tertindas. Melaikan dengan dasar agar mempermudahkan mereka untuk mendapatkan jaringan, demi kepentingan dirinya sendiri atau yang lebih parahnya mereka yang ingin jadi aktivis agar mereka terkenal dimana-mana, Ini tidak ubahnya seperti artis.

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) merupakan lembaga yang dikenal sebagai lembaga yang didalamnya bercokol sekumpulan aktivis. dan banyak mahasiswa yang ingin masuk ke organisasi tersebut. Penulis tidak tahu alasan mengapa mereka ingin masuk BEM. Apakah mereka ingin mendapatkan beasiswa? Atau mereka ingin namanya dikenal dimana-mana? penulis tidak tahu alasan mereka sebenarnya, penulis hanya cuma berwacana saja (Sok Tahu Loe…hahaha…ya mungkin aja ada yang bener, iya ga???).

Kebanyakan mahasiswa yang duduk di jabatan BEM mempunyai wibawa yang dahsyat untuk mempengaruhi teman-temannya untuk ikut bergerak dalam perjuangannya. Karena BEM identik dengan organisasi Intlektual -itu dulu-. Sekarang BEM hanyalah sekumpulan orang-orang yang oportunis, kebanyakan mahasiswa yang menduduki jabatan BEM hanya untuk mendapatkan sebuah beasiswa, ingin dirinya dianggap jago berpolitik atau bahkan ingin dirinya dikenal bagai artis, jika dia sedang berjalan orang akan menyapanya dengan rasa hormat, bagai Pejabat pemerintahan yang mengobral senyum dengan dihiasi wibawa palsu.

Parahnya lagi, aktivis mahasiswa yang ingin masuk BEM dengan niaatan untuk memburu posisi structural, misalnya hanya memburu jabatan ketua BEM, ini hanya akan menjadi sia-sia belaka. Mereka sudah mengorbankan waktu, harta dan pikirannya hanya untuk sebuah jabatan. Jika seandainya kalah maka akan tercipta ilklim kebencian pada salah satu lawannya. Dan akhirnya akan tercipta permusuhan, bisa jadi mereka akan selalu mempunyai perasaan saling curiga dan ini akan menimbulkan perasaan tidak tenang dalam kehidupan mereka.

Penulis selalu berharap semoga BEM selalu di duduki kaum intlektual yang disana selau terjadi iklim diskusi yang bisa mengasah intlektual mereka, bukan hanya sekedar sekumpulan mahasiswa yang rapat dan menggosip untuk membuat setrategi-setrategi agar bisa mengalahkan musuh dan akhirnya muncullah black compaine (Kampanye hitam). Tapi penulis mengharabkan yang duduk di posisi BEM adalah orang yang selau berdialektika, membaca, diskusi dan kemudian menulis, tentunya dengan ketulusan hati yang paling dalam tanpa ada unsur kepentingan untuk menjatuhkan. Richardo Mathopat mengatakan bahwa“ aktivis adalah orang yang bisa mengukur kekuatannya dan saling percaya terhadap sesama”.

Cara Mendaftarkan Blog di Search Engine

Banyak cara yang bisa kita lakukan agar blog kita bisa dikenal dan di kunjungi, antara lain adalah dengan rajinnya kita blogwalking atau berkunjung ke blog milik orang lain, mendaftarkan ke berbagai agregator, dan yang paling efektif adalah melalui search engine atau mesin pencari.

Bagi blogger pemula mungkin berangggapan bahwa apabila kita membuat website atau blog akan secara otomatis terindeks atau berada pada list berbagai search engine, dan kenyataannya tidaklah demikian. Seperti halnya sebuah sekolah, agar nama kita terdaftar pada buku daftar siswa, tentunya kita harus melakukan pendaftaran terlebih dahulu ke sekolah tersebut. Sama halnya dengan mesin pencari, agar blog kita terindeks pada mesin pencari, maka kita harus terlebih dahulu mendaftarkan blog milik kita pada situs pemilik mesin pencari.

Mesin pencari tentu jumlahnya sangat banyak sekali, dan pada saat ini yang paling terkenal di dunia adalah Google, Yahoo, serta Msn. Apabila blog kita ingin terindeks pada mesin pencari mereka, maka kewajiban kita adalah mendaftarkan URL blog kita pada mesin pencari mereka. Bila ada yang belum tahu ke manakah harus mendaftarkan blognya, maka silahkan simak tulisan berikut :

  • Daftar GoogleUntuk mendaftar ke google, silahkan sobat kunjungi http://www.google.com/addurl/, nah apabila sudah berada pada halaman pendaftaran ada beberapa langkah yang harus di lakukan, yaitu mengisi form yang di sediakan :
  • URL –> Isi dengan URL blog sobat.
  • Comments –> Isi dengan keyword atau kata kunci yang berhubungan dengan blog sobat
  • Isi kotak kosong dengan huruf Verifikasi yang tersedia
  • Klik tombol Add URL
  • Selesai.Setelah sobat melakukan pendaftaran ke Google, maka tidak serta merta blog sobat terindeks pada mesin pencari nya, akan tetapi memerlukan 3 sampai 4 minggu baru blog sobat bisa terindeks. Jika sudah 3 sampai 4 minggu, maka cobalah ketik alamat blog sobat pada mesin pencari google, apakah sudah terindeks atau belum? jika belum, coba tunggu beberapa minggu lagi, dan tuliskan kembali alamat blog sobat, Jika ternyata masih belum juga, coba deh daftarin lagi blog nya ke google seperti langkah di atas. Atau mungkin sobat tidak sabar ingin cepat terindeks, sebenarnya bisa saja ini terjadi, hanya dalam 3 atau 4 hari saja blog sobat sudah bisa terindeks di google. Ingin tahu caranya? simak saja postingan berikutnya ya, mungkin satu dua hari ke depan artikelnya selesai saya buat.
  • Daftar Yahoo!Untuk mendaftar ke yahoo! silahkan sobat kunjungi https://siteexplorer.search.yahoo.com/submit. Akan tetapi untuk mendaftar ke yahoo, sobat harus terlebih dahulu mempunyai account yahoo, karena di perlukan log in terlebih dahulu ke account yahoo. Bagi yang belum punya account yahoo (email di yahoo) silahkan bikin dulu, bagi yang sudah punya, sobat tinggal login dengan username serta password sobat. Apabila sudah login, nanti sudah tersedia kolom untuk di isi, silahkan isi kolom tersebut dengan URL sobat, kemudian klik tombol Add URL, selesai. Jika ingin memasukan alamat feed sekalian, sobat bisa memasukannya. Ingat, alamat feed di blogger hanya tinggal menambahkan atom.xml di belakang uRL blog sobat, contoh : untuk blog saya ini mempunyai alamat feed sebagai berikut :

    http://radhitisme.blogspot.com/atom.xml

    atau memakai www pun sama saja :

    http://www.radhitisme.blogspot.com/atom.xml

  • Daftar ke MsnUntuk daftar ke Msn, silahkan sobat kunjungi http://search.msn.com/docs/submit.aspx?FORM=WSDD2 silahkan sobat isi huruf verifikasi dan URL sobat pada kotak yang tersedia, kemudian klik tombol Submit URL, selesai.

    Apabila sobat mempunyai keinginan lebih, yaitu URL blog sobat terindeks pada puluhan mesin pencari, sobat bisa menggunakan bantuan situs submitter. Coba klik saja banner dibawah ini :

    Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free!

    Tugas sobat hanya mengisi alamat URL blog miliknya, serta menuliskan alamat email saja, kemudian klik tombol Submit Your Site.

    Jika ingin lebih cepat terkenal coba lakukan ping ke bebagai agregator, silahkan klik banner di bawah :

    pingoat_9.gif

    Anda tinggal mengisi form yang di sediakan.

    Selamat Mencoba...

    (Sumber : merito.wordpress.com)
  • Ide, Ponari Sweet..!!!

    Wah kok kontradiksi ya.. Ponari bisa nyembuhin orang pake batu ajaib, eh lha kok malah si dukun cilik itu sakit… Harusnya pake batu ajaib dia juga bisa sembuh… Hehehe…apa ada mantra-mantra yang ga bisa nyembuhin dia..???hahaha...

    Inilah kalau rakyat kecil menginginkan adanya jaminan kesehatan dengan harga murah sama yang terjangkau buat masyarakat kelas bawah. Ketika ada fenomena si dukun cilik seperti ini mereka akan berbondong-bondong dan rela antri, bahkan ada yang sampe meninggal saat berdesakan antri mendapatkan celupan batu ajaib Ponari tersebut. Sangat menyedihkan ya memang....

    Apa yang dikatakan bisa menyembuhkan tak lain tak bukan hanyalah sebuah sugesti yang terlanjur mengembang di pikiran para pasien dukun cilik Ponari. Sugesti bahwa benda ajaib itu bisa menyembuhkan menyebabkan secara alam bawah sadar penyakit mereka tersembuhkan. Hmm…..

    Permasalahan bisa melebar ke musyrik kalau kita membahasnya dari sisi Agama, karena mereka lebih mempercayai kekuatan batu ajaib daripada kekuatan Sang Maha Penyembuh Penyakit……

    Entahlah, semua tergantung bagaimana kita menyikapi fenomena unik ini. Mungkin fenomena ini diturunkan agar kita semakin mawas diri terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan kepercayaan.

    Ratusan bahkan ribuan orang datang tiap hari ke rumah dukun cilik yang sedang menjadi sorotan banyak media. Ponari setelah menemukan batu ajaib konon titisan dewa petir.. halah halah….

    Konon ia mendapatkan kekuatan super untuk menyembuhkan penyakit. Kekuatan penyembuh datangnya kan dari Yang Maha Menyembuh.. Mungkin ponari hanya sebagai perantaranya.

    Lantaran banyak orang terlanjur salah kaprah, maka banyak yang menganggap bahkan mengkultuskan seorang Ponari dan batu ajaibnya. Hmm.. Ini yang perlu diluruskan…

    Menyangkut judul di atas mirip iklan sebuah minuman di televisi ya.. Hehe.. Yup bener banget bos….Ponari sweat adalah minuman yang telah dicelupkan batu ajaib milik si dukun cilik.

    Ya bukankah lebih baik seperti itu. Satu kaleng air dicelupin batu ajaib ponari sekali kan lebih efektif ketimbang nyelupin satu-satu ke setiap pasiennya.. Heheh. Ide brilian untuk membuat air minum dalam kemasan berlabel Ponari Sweat.. Hahahaha…..Gimana..???