Era Demokrasi Para Pecundang

Dalam proses demokrasi, pemilihan umum (pemilu) merupakan proses pergantian kekuasaan yang sah. Melalui pemilu-lah, pimpinan eksekutif diangkat sesuai dengan kehendak dari rakyat. Seorang pasangan kandidat yang mempunyai suara terbanyak secara otomatis akan memperoleh legitimasi kuat untuk menjadi pemimpin di daerah tersebut. Sementara itu bagi kandidat yang gagal meraih suara terbanyak tidak akan mendapatkan mandat dari mayoritas rakyat menjadi pemimpin mereka. Pemilu secara langsung memang menghendaki suara mayoritas untuk meraih legitimasi kepemimpinan baik secara nasional maupun ditingkat lokal. 

Menjadi suatu hal yang lumrah apabila dalam kompetisi ada kalah dan menang. Selalu hanya ada satu orang pemenang di dalam setiap kompetisi. Suatu hal yang mustahil, sebuah wilayah dipimpin oleh dua, tiga, atau empat pimpinan daerah seperti Presiden, Gubernur, Bupati, maupun Walikota. Tidak mungkin ada lebih dari satu komandan dalam satu pleton pasukan. Pemimpin selalu hanya ada satu yang dibantu oleh beberapa orang untuk menjalankan tugas. 

Permasalahan yang muncul adalah ketika masing-masing kandidat yang saling berkompetisi gagal merespon dengan bijak hasil akhir pertarungan, baik yang kalah maupun yang menang. Pemenang yang memiliki mental buruk adalah yang merespon kemenangan dengan pesta berlebihan, melakukan show force yang mempunyai potensi merendahkan martabat lawan yang berhasil dikalahkan. Hal sebaliknya dilakukan oleh pihak yang kalah dengan berbagai kekisruhan, tuduhan kecurangan serta tindakan anarkis merupakan watak buruk yang gagal melihat kontestasi pemilu sebagai bagian dari pendewasaan demokrasi. 

Kualitas kenegarawanan seorang tokoh politik dapat diukur dengan cara dia merespon kemenangan  maupun kekalahan dalam sebuah persaingan. Donald Trumph –yang saat ini menjadi sebuah sensasi di Indonesia- memberikan nasihat:
“What separates the winners from the losers is how a person reacts to each new twist of fate”
(Hal yang membedakan para pemenang dari para pecundang adalah bagaimana seseorang bereaksi atas putaran nasibnya yang baru).
Seorang pecundang akan selalu memberikan respon negatif apapun hasil yang ia terima. Negatif dalam pengertian tidak memberikan sedikitpun respek terhadap lawan, bahkan kecenderungannya melakukan penginaan. Namun, apabila menjadi pemenang seorang pecundang meresponnya dengan euphoria dan merendahkan lawan yang menjadi pesaingnya; sebaliknya saat dirundung kekalahan dia sama sekali tidak mau menerima, dan akan selalu senantiasa berusaha dengan segala cara –termasuk dengan cara yang curang- agar memperoleh kemenangan. 

Hal ini berbeda dengan seseorang bermental juara yang selalu berfikir positif dalam merespon apapun hasil yang diperolehnya. Kekalahan dianggap sebagai cambuk untuk dapat selalu terus belajar serta memperbaiki diri, sebaliknya kemenangan dia respon dengan cara memberikan respek/perhatian dan rasa hormat pada lawan yang menjadi pesaingnya. Kemenangan –baginya- adalah tanggung jawab serta amanah untuk memenuhi janji politik. 

Seorang juara atau pemenang sejati akan selalu memposisikan lawan yang dihadapinya sebagai cermin. Dia tidak akan menghadapi lawan sevagai musuh yang harus dibenci, namun untuk bercermin agar dapat belajar dari lawannya tersebut. Seorang pemenang sejati akan memposisikan lawan sebagai guru bukan musuh. David Michell seorang Sastrawan AS mengungkapkan bahwa:
“If losers can exploit what their adversaries teach them; yes, losers can become winners in the long term”
(Andai saja para pecundang mau belajar dari lawan-lawan yang dihadapinya, niscaya para pecundang itu dapat menjadi pemenang dalam jangka waktu yang panjang)
Artinya, seorang pecundang adalah manusia yang tidak mau belajar dari situasi yang dia hadapai. Di dalam hatinya tumbuh begitu banyak kebencian. Kontestasi untuk merebut kekuasaan dipandangya sebagai ajang permusuhan. Karya-karya yang dihasilkan oleh lawan yang dia benci selalu diserang dan dikritik. Seseorang yang bermental pecundang, gesture tubuh dan mulutnya selalu diarahkan untuk merendahkan pesaingnya dan/atau lawannya. Dia adalah manusia yang gagal member respek dan rasa hormat.

Paulo Coelho, sastrawan terkemuka Brasil, menilai seorang pecundang adalah seorang idiot sekaligus pembenci sejati. Dia berkomentar -mengenai apapun- untuk menyerang lawan bukan untuk berdialog atau memberi saran secara konstruktif.  Coelho mengungkapkan:
“When you write an article about anything, trolls use the comments to attack. They feel frustrated - but haters are losers. It's not good to feed this aspect. It's more intelligent to be constructive”
(Saat Anda menulis sebuah artikel tentang apapun, orang-orang idiot mengomentarinya untuk menyerang. Mereka merasa frustrasi-para pembenci sejatinya adalah pecundang. Adalah tidak baik memberi asupan seperti ini. Adalah lebih cerdas berprilaku konstruktif)
Jelas, bagi Coelho, menghadapi seorang bermental pecundang merupakan pengalaman yang tidak mengenakkan, tidak bermanfaat dalam mengkualitaskan karya. Melihat kondisi seperti saat ini sepertinya mentalitas pecundang sudah mendarah-daging bagi para tokoh politik di negeri ini. Jargon “siang menang dan siap kalah” hanya menjadi pemanis saat pemilu akan dimulai. Karena pada faktanya kita tidak siap untuk menang dan tidak pula siap untuk kalah.