Kondisi status sosial di kehidupan seperti saat ini sangatlah terbagi dalam berbagai spektrum. Kata sosial tidak hanya dimaknai sebagai hubungan yang terjadi diantara umat manusia, namun juga hubungan manusia yang dilihat dalam berbagai perspektif yakni ekonomi, budaya dan lainnya. Disini disebut bahwa bentuk budaya, politik,ekonomi dan yang lain merupakan perangkat yang membentuk sistem sosial yang ada di masyarakat.
Dalam wilayah ekonomi, mungkin prespektif Karl Mark yang menarik untuk dijadikan rujukan. Bahwa dalam struktur masyarakat produksi kelas masyarakat sosial dibagi menjadi dua yakni proletar dan borjuis. Proletar adalah kaum buruh yang dalam hal ini menjadi babu kaum borjuis atau kaum majikan. Dalam pandangan Karl Mark bahwa kaum borjuislah yang mengusai kaum praletar dalam bidang produksi. Kaum proletar sebagai yang terkuasai mengalami alienasi atau keterasingan dalam hidupnya. Jika masyarakat proletar bekerja dalam sistem produksi modern maka dalam pandangan Karl Mark mereka mengalami keterasingan dari lingkungan kerja, teman kerja, alat produksi, dan hasil produksi. Kaum proletar seakan an sich terhadap lingkungan kerjanya, tidak mau tau yang terjadi dilingkungan kerja.
Dalam Pandangan Karl Mark tersebut ada ketimpangan kelas ekonomi yang berdampak sistemik pada kelas sosial. Dalam artian sistem sosial terpecah menjadi dua muka disebabkan kelas ekonomi yang sengaja dipecah oleh sistem produksi modern yang kapitalistik. Oposisi biner dalam wilayah sosial disini tidak sendirinya ada namun bentukan ekonomilah yang mengakibatkan kelas sosial terjadi.
Hal tersebut kalau dilihat dalam spektrum ekonomi. Kalau dalam spektrum budaya ada “dunia yang terbelah” dalam kebudayaan kita. Keterbelahan tersebut minimal terjadi antara kutub ke budayaan barat dan timur. Eropa yang mereperentasikan budaya barat yang menjadi oposisi biner dari kebudayaan asia sebegai reprentasi budaya timur. Dalam dua budaya besar tersebut seringkali berbeda dan sengaja digesekkan.
Barat yang terlambangkan sebagai budaya pop yang terkesan glamour dan hedonistik. Sedangkan budaya timur sebagai representasi budaya sopan dan lemah lembut. Kedua kutub berbeda inilah yang sering menjadi pergolakan dalam fenomena sosial. Ada anggapan bahwa Indonesia itu budaya timur jadi tidak usah sok barat atau anggapan-anggapan lain. Hal inilah yang menjadi keterbelahan dalam budaya dalam ruang lingkup kewilayahan yang luas.
hal yang kemudian menjadi pertanyaan sekarang, apakah kebudayaan harus dipisah oleh geografis, atau harus dipecah-pecah dalam suatau kewilayahan. Budaya bukannya lebih baik digeneralkan dan tidak dikota-kotakkan yang cendrung dangkal. Orang Indonesia boleh berbudaya layaknya orang eropa, Malaysia boleh berbudaya layaknya orang Indonesia begitu juga sebaliknya. Budaya dalam pandangan penulis tidak harus dikotak-kotakkan dalam kewilayahan. Tidak harus ada oposisi biner yakni timur-barat, asia-eropa,indonesia-malaysia atau lain sebagainya. Biarkan budaya seperti air yang mengalir dan merembes kemana saja.
Dari papaparan penulis dari fenomena sosial yang ada selama ini, baik dalam sistem ekonomi dan kebudayaan atau mungkin dalam bidang lain ada semacam pembelahan yang terjadi. Ada “dunia yang terbelah” menjadi dua bagian besar atau dalam bahasa filsafatnya oposisi biner. Dalam asumsi penulis selayaknya dunia ini tidak dijadikan dua atau terpecah jadi bagian-bagian yang cendrung berbeda dan berakibat pada gesekan sosial. Kalau boleh berharap, bangunlah dunia yang utuh dalam satu kesatuan tidak dunia yang terbelah. Dunia yang utuh tidak oposisi biner dan sengaja membedakan antara proletar-borjuis dan antara barat dan timur.
Tulisan iseng-iseng ini hanya sebagai refleksi dan kegusaran penulis akan situasi sosial dan dunia yang terbelah. Entah menurut pembaca hal ini terlalu dangkal atau apalah yang mungkin beranggapan bahwa perbedaan itu rahmat. Namun dalam pandangan penulis perbedaan yang rahmat itu tidaklah memarginalkan kelompok yang lain dalam hal ini proletar dan budaya yang merasa termarginalkan baik itu barat maupun timur. Selanjutnya, terserah anda untuk ber-asumsi yang terpenting dalam pandangan penulis “dunia yang mulai terbelah” ini sudah saatnya diakhiri dan membuat dunia yang utuh dalam satu kesatuan. Tidak ada yang harus dimarginalkan dalam spektrum dan konteks apapun.
Dalam wilayah ekonomi, mungkin prespektif Karl Mark yang menarik untuk dijadikan rujukan. Bahwa dalam struktur masyarakat produksi kelas masyarakat sosial dibagi menjadi dua yakni proletar dan borjuis. Proletar adalah kaum buruh yang dalam hal ini menjadi babu kaum borjuis atau kaum majikan. Dalam pandangan Karl Mark bahwa kaum borjuislah yang mengusai kaum praletar dalam bidang produksi. Kaum proletar sebagai yang terkuasai mengalami alienasi atau keterasingan dalam hidupnya. Jika masyarakat proletar bekerja dalam sistem produksi modern maka dalam pandangan Karl Mark mereka mengalami keterasingan dari lingkungan kerja, teman kerja, alat produksi, dan hasil produksi. Kaum proletar seakan an sich terhadap lingkungan kerjanya, tidak mau tau yang terjadi dilingkungan kerja.
Dalam Pandangan Karl Mark tersebut ada ketimpangan kelas ekonomi yang berdampak sistemik pada kelas sosial. Dalam artian sistem sosial terpecah menjadi dua muka disebabkan kelas ekonomi yang sengaja dipecah oleh sistem produksi modern yang kapitalistik. Oposisi biner dalam wilayah sosial disini tidak sendirinya ada namun bentukan ekonomilah yang mengakibatkan kelas sosial terjadi.
Hal tersebut kalau dilihat dalam spektrum ekonomi. Kalau dalam spektrum budaya ada “dunia yang terbelah” dalam kebudayaan kita. Keterbelahan tersebut minimal terjadi antara kutub ke budayaan barat dan timur. Eropa yang mereperentasikan budaya barat yang menjadi oposisi biner dari kebudayaan asia sebegai reprentasi budaya timur. Dalam dua budaya besar tersebut seringkali berbeda dan sengaja digesekkan.
Barat yang terlambangkan sebagai budaya pop yang terkesan glamour dan hedonistik. Sedangkan budaya timur sebagai representasi budaya sopan dan lemah lembut. Kedua kutub berbeda inilah yang sering menjadi pergolakan dalam fenomena sosial. Ada anggapan bahwa Indonesia itu budaya timur jadi tidak usah sok barat atau anggapan-anggapan lain. Hal inilah yang menjadi keterbelahan dalam budaya dalam ruang lingkup kewilayahan yang luas.
hal yang kemudian menjadi pertanyaan sekarang, apakah kebudayaan harus dipisah oleh geografis, atau harus dipecah-pecah dalam suatau kewilayahan. Budaya bukannya lebih baik digeneralkan dan tidak dikota-kotakkan yang cendrung dangkal. Orang Indonesia boleh berbudaya layaknya orang eropa, Malaysia boleh berbudaya layaknya orang Indonesia begitu juga sebaliknya. Budaya dalam pandangan penulis tidak harus dikotak-kotakkan dalam kewilayahan. Tidak harus ada oposisi biner yakni timur-barat, asia-eropa,indonesia-malaysia atau lain sebagainya. Biarkan budaya seperti air yang mengalir dan merembes kemana saja.
Dari papaparan penulis dari fenomena sosial yang ada selama ini, baik dalam sistem ekonomi dan kebudayaan atau mungkin dalam bidang lain ada semacam pembelahan yang terjadi. Ada “dunia yang terbelah” menjadi dua bagian besar atau dalam bahasa filsafatnya oposisi biner. Dalam asumsi penulis selayaknya dunia ini tidak dijadikan dua atau terpecah jadi bagian-bagian yang cendrung berbeda dan berakibat pada gesekan sosial. Kalau boleh berharap, bangunlah dunia yang utuh dalam satu kesatuan tidak dunia yang terbelah. Dunia yang utuh tidak oposisi biner dan sengaja membedakan antara proletar-borjuis dan antara barat dan timur.
Tulisan iseng-iseng ini hanya sebagai refleksi dan kegusaran penulis akan situasi sosial dan dunia yang terbelah. Entah menurut pembaca hal ini terlalu dangkal atau apalah yang mungkin beranggapan bahwa perbedaan itu rahmat. Namun dalam pandangan penulis perbedaan yang rahmat itu tidaklah memarginalkan kelompok yang lain dalam hal ini proletar dan budaya yang merasa termarginalkan baik itu barat maupun timur. Selanjutnya, terserah anda untuk ber-asumsi yang terpenting dalam pandangan penulis “dunia yang mulai terbelah” ini sudah saatnya diakhiri dan membuat dunia yang utuh dalam satu kesatuan. Tidak ada yang harus dimarginalkan dalam spektrum dan konteks apapun.





