
Dalam menangapi “Facebook: Say No to Megawati”, sebenarnya merupakan suatu hal yang sah-sah saja bagi seseorang yang tidak menyukai seorang Capres lalu menyatakan opini ketidaksukaannya tersebut dalam masa kampanya Pemilu di dunia maya, dengan catatan orang tersebut bukan seorang kader dari partai manapun. Apabila mereka seorang kader partai, maka mereka telah melanggar UU no. 10 tahun 2008 dan dapat dikenai sanksi penjara. Ehm…baiklah kita ambil segi positifnya aja deh ya..hehehe…yaitu Semua Supporter “Say No to Megawati” yang ada di Facebook itu adalah masyarakat biasa alisa (eh bukan-bukan salah…) alias ‘maksudnya’ bukan kader partai, yang dalam berbagai komentar menyebut diri sebagai orang-orang yang ‘cerdas’.
Namun, saya tidak setuju dengan gambar yang ditampilkan pada halaman depan facebook tersebur yakni gambar “Megawati yang diberi tanduk” layaknya seorang banteng. Dan saya tidak akan menampilkan gambar tersebut, karena merupakan bentuk pelecehan yang tidak etis bahkan jauh dari intelektualitas yang didengung-dengungkan oleh mereka yang berkomentar di Facebook tersebut. Meskipun saya tidak mendukung Megawati, bukan berarti saya bisa melecehkan seseorang dengan gambar yang berafiliasi dengan hewan terlebih lagi Ibu Mega pernah menjadi Presiden di Negeri kita tercinta ini.
Sebelumnya, kasus-kasus pelecehan seprti itu pernah saya temui. Contohnya seperti, ebagian orang menghina Gus Dur karena matanya. Kemudian menghina Megawati dengan mengatakan pantatnya besar. Mereka yang mengakui bermoral dan beragama serta mendengung-dengungkan bahwa manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna diantara makhluk-makhluk lain, serta berkeyakinan bahwa tidak ada manusia sempurna di dunia ini. Namun, dalam faktanya mereka saling mengejek serta menjelekkan kondisi makhluk ciptaan Tuhan. Mereka dengan mudah menghina seseorang karena mengalami kekurangan dalam hal fisiknya. Mereka yang berpendidikan S1, S2, ataupun S3 bahkan menghina seseorang yang berpendidikan SD karena perbedaan status pendidikannya.
Coba kita berfikir sejenak……
Tanya kepada diri kita……
Sempurnakah kondisi fisik kita ?
Bagaimana perasaan anda jika orang tua anda tuli, bisu, atu bahkan buta, lalu orang tua anda dihina karena hal tersebut ? Tidak cukupkah penderitaan yang dialami oleh mereka yang cacat ? Mereka yang cacat telah berusaha untuk menghadapi kenyataan di dalam dunia ini, lalu dengan mudah kita menambah beban penderitaan mereka dengan hinaan serta perkataan yang mengandung cercaan fisik?
Atas hal tersebut layakkah kita disebut dengan kata intelektual, jika di dalam diri kita masih penuh kesombongan dan menghina orang lain? Saya tentunya akan jauh lebih menghargai seorang tukang sampah yang membersihkan lingkungan daripada kita yang bangga dengan tingkat ‘intelektualitas’nya, namun merasa fisik kita adalah sempurna dan orang lain yang memiliki kekurangan dalam hal fisik kita jelek-jelekkan.
Menjadi Seorang Intelektual yang Membangun dan Berhati
Ehhhmmm……setelah selama satu dekade pasca runtuhnya zaman Orde Baru dan muncul zaman Reformasi, tampaknya kebebasan telah di salah artikan serta telah salah digunakan. Saya berfikir sejak SD kita mendapatkan pendidikan moral serta tata cara sopan santun (kalau waktu zaman saya si namanya PPKN, sebelumnya ada yang bilang PMP atau PKN juga…) ditambah dengan pendidikan Agama yang mengajarkan nilai-nilai luhur di dalam kehidupan pribadi maupun di dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk menyampaikan aspirasi, ada banyak cara dan tahapan. Mulai dari tahap musyawarah, diskusi , pernyataan pendapat, orasi, hingga demonstrasi. Untuk di dunia maya sendiri, tulisan penyampaian data dan fakta, himbauan, kritikan, hingga petisi merupakan langkah-langkah untuk menyampaikan aspirasi.
Ajakan untuk menolak Megawati sebagai Capres seperti yang dilakukan pada situs jejaring facebook intinya tidak ada masalah. Yang menjadi masalah disini adalah “bumbunya”, bukan pada “masakannya”. Saya yakin bahwa sebagian besar FB’ers (panggilan bagi pencinta facebook…hehe) tersebut tulus melakukan dukungan. Namun, sayangnya tidak sedikit yang berkomentar mengenai pelecehan harkat dan martabat seorang Megawati. Dan hal yang paling menonjol adalah foto Megawati bertanduk. Ini merupakan suatu hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan.
Kritiklah seseorang karena kebijakannya yang salah, sikap yang diambilnya keliru, koruptif dan sejenisnya. Kritiklah dan tunjukkan rasa kekecewaan Anda karena Pemerintahan Megawati pada waktu itu menjual BUMN, KPK di masa pemerintahan Megawati tidak bekerja sebagai mana mestinya, dan sebagainya. Lalu berikan solusi bagaimana prinsip berdikari, bagaimana mengembalikan asset-aset nasional kita? Dan jika terjadi kesalahan masa lalu maka jangan sampai BUMN kita dijual kembali. Itulah yang harusnya dilakukan. Jangan kita menunjukkan ketidakcerdasan kita dengan menghujat “OMDOL” (omong doang looo…) padahal kita tidak memberikan solusi sama sekali.
Terakhir sebelum kita berkomentar, sudahkah kita “berdoa” dan mendekatkan diri dengan Sang Pencipta? Marilah kita sama-sama belajar dan saling mengingatkan untuk berbuat hal-hal baik. Disini saya juga sedang belajar dan dengan harapan bersama rekan-rekan kia bentuk pribadi kita yang lebih baik. Mohon maaf, jika ada kata-kata yang tidak berkenan dengan teman-teman sekalian yang telah membaca tulisan ini.
Jadilah masyarakat Indonesia yang lebih baik, santun dan beretika dengan selalu menggarisbawahi “Bagaimana perasaanku apabila aku dihina karena fisikku?”, “Bagaimana jika foto orangtua kita diberi tanduk atau ekor?”. Marilah kita belajar bersama-sama mengkritik seseorang dengan bahasa dan cara santun serta memiliki solusi…Jadikan setiap komentar kita menjadi faktor “surga” bukan faktor ”neraka” .
*catatan sejak 8 April 2009
Forum tersebut telah diganti, dan foto ‘Megawati bertanduk’ sudah tidak terpasang lagi di forum yang baru.
Namun, saya tidak setuju dengan gambar yang ditampilkan pada halaman depan facebook tersebur yakni gambar “Megawati yang diberi tanduk” layaknya seorang banteng. Dan saya tidak akan menampilkan gambar tersebut, karena merupakan bentuk pelecehan yang tidak etis bahkan jauh dari intelektualitas yang didengung-dengungkan oleh mereka yang berkomentar di Facebook tersebut. Meskipun saya tidak mendukung Megawati, bukan berarti saya bisa melecehkan seseorang dengan gambar yang berafiliasi dengan hewan terlebih lagi Ibu Mega pernah menjadi Presiden di Negeri kita tercinta ini.
Sebelumnya, kasus-kasus pelecehan seprti itu pernah saya temui. Contohnya seperti, ebagian orang menghina Gus Dur karena matanya. Kemudian menghina Megawati dengan mengatakan pantatnya besar. Mereka yang mengakui bermoral dan beragama serta mendengung-dengungkan bahwa manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna diantara makhluk-makhluk lain, serta berkeyakinan bahwa tidak ada manusia sempurna di dunia ini. Namun, dalam faktanya mereka saling mengejek serta menjelekkan kondisi makhluk ciptaan Tuhan. Mereka dengan mudah menghina seseorang karena mengalami kekurangan dalam hal fisiknya. Mereka yang berpendidikan S1, S2, ataupun S3 bahkan menghina seseorang yang berpendidikan SD karena perbedaan status pendidikannya.
Coba kita berfikir sejenak……
Tanya kepada diri kita……
Sempurnakah kondisi fisik kita ?
Bagaimana perasaan anda jika orang tua anda tuli, bisu, atu bahkan buta, lalu orang tua anda dihina karena hal tersebut ? Tidak cukupkah penderitaan yang dialami oleh mereka yang cacat ? Mereka yang cacat telah berusaha untuk menghadapi kenyataan di dalam dunia ini, lalu dengan mudah kita menambah beban penderitaan mereka dengan hinaan serta perkataan yang mengandung cercaan fisik?
Atas hal tersebut layakkah kita disebut dengan kata intelektual, jika di dalam diri kita masih penuh kesombongan dan menghina orang lain? Saya tentunya akan jauh lebih menghargai seorang tukang sampah yang membersihkan lingkungan daripada kita yang bangga dengan tingkat ‘intelektualitas’nya, namun merasa fisik kita adalah sempurna dan orang lain yang memiliki kekurangan dalam hal fisik kita jelek-jelekkan.
Menjadi Seorang Intelektual yang Membangun dan Berhati
Ehhhmmm……setelah selama satu dekade pasca runtuhnya zaman Orde Baru dan muncul zaman Reformasi, tampaknya kebebasan telah di salah artikan serta telah salah digunakan. Saya berfikir sejak SD kita mendapatkan pendidikan moral serta tata cara sopan santun (kalau waktu zaman saya si namanya PPKN, sebelumnya ada yang bilang PMP atau PKN juga…) ditambah dengan pendidikan Agama yang mengajarkan nilai-nilai luhur di dalam kehidupan pribadi maupun di dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk menyampaikan aspirasi, ada banyak cara dan tahapan. Mulai dari tahap musyawarah, diskusi , pernyataan pendapat, orasi, hingga demonstrasi. Untuk di dunia maya sendiri, tulisan penyampaian data dan fakta, himbauan, kritikan, hingga petisi merupakan langkah-langkah untuk menyampaikan aspirasi.
Ajakan untuk menolak Megawati sebagai Capres seperti yang dilakukan pada situs jejaring facebook intinya tidak ada masalah. Yang menjadi masalah disini adalah “bumbunya”, bukan pada “masakannya”. Saya yakin bahwa sebagian besar FB’ers (panggilan bagi pencinta facebook…hehe) tersebut tulus melakukan dukungan. Namun, sayangnya tidak sedikit yang berkomentar mengenai pelecehan harkat dan martabat seorang Megawati. Dan hal yang paling menonjol adalah foto Megawati bertanduk. Ini merupakan suatu hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan.
Kritiklah seseorang karena kebijakannya yang salah, sikap yang diambilnya keliru, koruptif dan sejenisnya. Kritiklah dan tunjukkan rasa kekecewaan Anda karena Pemerintahan Megawati pada waktu itu menjual BUMN, KPK di masa pemerintahan Megawati tidak bekerja sebagai mana mestinya, dan sebagainya. Lalu berikan solusi bagaimana prinsip berdikari, bagaimana mengembalikan asset-aset nasional kita? Dan jika terjadi kesalahan masa lalu maka jangan sampai BUMN kita dijual kembali. Itulah yang harusnya dilakukan. Jangan kita menunjukkan ketidakcerdasan kita dengan menghujat “OMDOL” (omong doang looo…) padahal kita tidak memberikan solusi sama sekali.
Terakhir sebelum kita berkomentar, sudahkah kita “berdoa” dan mendekatkan diri dengan Sang Pencipta? Marilah kita sama-sama belajar dan saling mengingatkan untuk berbuat hal-hal baik. Disini saya juga sedang belajar dan dengan harapan bersama rekan-rekan kia bentuk pribadi kita yang lebih baik. Mohon maaf, jika ada kata-kata yang tidak berkenan dengan teman-teman sekalian yang telah membaca tulisan ini.
Jadilah masyarakat Indonesia yang lebih baik, santun dan beretika dengan selalu menggarisbawahi “Bagaimana perasaanku apabila aku dihina karena fisikku?”, “Bagaimana jika foto orangtua kita diberi tanduk atau ekor?”. Marilah kita belajar bersama-sama mengkritik seseorang dengan bahasa dan cara santun serta memiliki solusi…Jadikan setiap komentar kita menjadi faktor “surga” bukan faktor ”neraka” .
*catatan sejak 8 April 2009
Forum tersebut telah diganti, dan foto ‘Megawati bertanduk’ sudah tidak terpasang lagi di forum yang baru.






0 komentar:
Posting Komentar