Hari ini tanggal 28 Oktober, 83 tahun yang lalu
Keanekaragaman suku nampak indah bagaikan pelangi
Beda agama tak jadi penghadang tuk ikhlas mengabdi
Warna-warni bahasa tak jadi penghalang tuk saling memahami
Ceritanya masih jelas kudengar sampai hari ini
Hari ini 28 Oktober, 83 tahun yang lalu
Dada mereka penuh bangga bisa satukan hati
Jiwa mereka penuh bangga mampu mendarma bhakti
Kudengar banyak raga penuh bangga turut membela negeri
Lecut semangat bersatu menggelora tak pernah henti
Ceritanya masih jelas kudengar sampai hari ini
Hari ini 28 Oktober, setelah 83 tahun berlalu
Kulihat dada-dada penuh iri
Kulihat jiwa-jiwa berhiasan pamrih dan rasa dengki
Kulihat raga-raga bergelimang materi
Kulihat lecut semangat mengejar nafsu duniawi
Tak peduli walau harus makan saudara sendiri
Hari ini 28 Oktober, setelah 83 tahun berlalu
Kulihat bumi compang-camping tak terperi
Alam kempot peot, tercabik-cabik oleh eksploitasi
Lumpur menyembur, tanah longsor, banjir bandang, gempa dan tsunami
Masih saja kudengar sudut bibir mencibir, "Ah, itukan karena bencana alam"
Di saat persembunyian si bijak tak lagi kutemukan
Kulihat di tengah padang ilalang yang mengelupas
Seonggok akar menyeruak ke permukaan melintas
Berbalut butir embun membaris kata 'Suara Komunitas'
Kepadanya lantas bergegas kusematkan pesan seutas
"Jagalah negeri ini, wahai kawan"






0 komentar:
Posting Komentar