Suatu hari ketika ada seorang kawan yang baru saja lulus kuliah kemudian ia ingin melamar kerja, akan tetapi ia selalu tidak diterima. Setelah dievaluasi kesalahannya hanya satu hal yaitu ia terlalu bangga menggunakan bahasa Indonesia. Berbeda dengan pelamar-pelamar pekerjaan lainnya yang selalu menggunakan bahasa Inggris sebagai sebuah bahasa pokok, kawan tadi tersebut menggunakan Bahasa Indonesia dalam surat lamarannya. Alasan kawan itu memakai bahasa Indonesia pun sama dengan kesalahannya itu yakni, karena ia melamar pada perusahaan yang ada di Indonesia, yang masyarakat, rekan kerja, dan pimpinannya Berbahasa Indonesia. Perusahaan yang pekerjaanya bisa dikerjakan dalam bahasa Indonesia. Sialnya, kawan tadi lupa, kalau perusahaan di Indonesia merasa hebat ketika berhasil mengaudisi serta menyeleksi karyawannya dalam Bahasa Inggris. Ya mungkin supaya dibilang intelek …cuy…!!!
Memang banyak bagian-bagian perusahaan yang memiliki istilah-istilah asing, seperti meeting, outing, order, customer, owner, break event point, part time, office boy. Kita beralih ke bidang lain. Dalam pemerintahan, kebanggaan meminjam istilah berbahasa Inggris juga sangat mengenaskan – kalau tidak mau disebut mengesalkan atau memuakkan. Tampak sekali kalau para pejabat kewalahan untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia sepenuhnya, sehingga merasa perlu meminjam istilah asing. Lihatlah istilah seperti impeachment, smart card, voting, sampai yang paling tolol dan tidak masuk diakal yaitu, Busway. Entah, hal apa yang menelanjangi identitas kebangsaan kita seperti ini. Mengapa kata-kata asing sangat bertaburan bebas dalam percakapan masyarakat sehari-hari? Bahasa Indonesia sepertinya tidak mampu bersolek dengan anggun bila tidak menggandeng Bahasa Inggris. Orang paling bodoh sekali pun diatur gaya berbahasanya agar fasih mengucapkan kata tengkyu, sori, serprais, sekuriti, syoping, yang merupakan suatu syarat bagi penduduk berwawasan global, meskipun pengetahuan serta nalarnya tidak diajak mengglobal.
Seperti tidak mau ketinggalan zaman – dan ini yang paling menyakitkan – institusi publik yang seharusnya mendidik masyarakat, justru melayani kekeliruan berbahasa tersebut. Kita lihat bagaimana sekolah-sekolah berbangga dengan mengganti namanya dengan bahasa Inggris. Universitas mengiklankan dirinya di media dengan istilah Inggris seperti admission, free laptop, the leading university, faculty of management, dan seterusnya. Padahal target pemasarannya adalah orang-orang yang sehari-hari Berbahasa Indonesia, yang bahkan sebagian dari mereka justru tidak mengerti Bahasa Inggris. Media cetak maupun elektronik juga melayani semua kekenesan ini. Simak saja kata-kata yang silih berganti di setiap halaman Koran didepan mata kita. Ada Today Dialogues, Woman of the Year, Sport, Headline News, dan sebagainya. Pada Koran SINDO contohnya, sebuah media massa nasional, yang notabenya adalah sebuah media yang turut bertanggungjawab terhadap budaya berbahasa, justru melakukan hal tersebut. Coba periksa koran tersebut pada tiap edisinya. Di halaman depan, mata pembaca sudah dihadang dengan rubrik ‘news’ dan ‘quote of the day’. Usaha meng-inggriskan ini belum usai, karena disusul di lembar-lembar berikutnya: rubrik ‘financial revolution’-nya Tung Desem Waringin, rubrik ‘people’, rubrik ‘fashion’, rubrik ‘food’, rubrik ‘rundown’, atau cap ‘special report’ pada artikel tertentu. Jangan tersenyum dulu, karena bukan saja SINDO, koran-koran lainnya pun tak luput dari gaya-gayaan berbahasa ini. Mau contoh lain? Tidak usah pergi jauh-jauh, karena cukup sambil duduk sambil membaca halaman ini, bayangkanlah segala sesuatu di sekitar anda seperti, merek permen, keterangan dalam bungkus mie instan, nama restoran, keterangan dalam gedung (exit, toilet, emergency), dan seterusnya, dan sebagainya, yang kalau dituliskan semua, artikel kali ini hanya akan memuat daftar ‘dosa’ tersebut, yang justru tentunya akan memanjangkan rasa jengkel kita.
Kemudian, apakah akan menjadi sehebat Inggris atau Amerika-kah bangsa ini ketika berhasil mengadopsi bahasa-bahasa mereka? Apakah dengan serta merta ekonomi negara menjadi segemilang mereka? Apakah dengan begitu bangsa ini terlihat cerdas karena berhasil menyamakan diri dengan bangsa Barat? Sampai sebegitu malunyakah kita terhadap bahasa Indonesia sehingga pada kata ‘peralatan kantor’ perlu ditemani kata dalam kurung ‘stationery’, ‘nyata’ ditemani kata dalam kurung ‘real’, atau ‘kekuatan’ yang ditemani ‘power’? Seakan mata kita lebih karib dengan kata di dalam kurung ketimbang kata dalam Bahasa Indonesia-nya. Masih cukup sehatkah pemikiran kita ketika menertawakan seorang artis muda yang ber-Inggris ria sambil mengucapkan kata, “hujan..beychek..ojhek”, yang padahal adalah cermin dari ketidakberpribadian diri kita sendiri? Atau celakanya, latah pun kalau bisa dibuat-buat agar yang keluar secara spontan adalah kata, ‘oh my god’, ‘monkey’, ‘shit’, atau ‘fuck you’. Pada kasus lain kita temukan bagaimana sikap Inggris ini tidak diimbangi dengan pengetahuan yang memadai serta memupuni. Contoh paling mencegangkan, juga paling tolol, ada pada istilah ‘busway’ yang tidak mengindahkan aturan bahasa, terlebih logika. Mana ada frase, “ke Blok M naik ‘jalanan bis’ sangat nyaman”. Sungguh menyedihkan memang.
Coba perhatikan, bagaimana kita melafal ‘AC’ sebagai Air Conditioner dan’HP’ sebagai Hand Phone. Bukankah kita melogatkan a-se untuk ‘AC’ dan ha-pe untuk ‘HP’? – padahal kalau kita sok Inggris layaklah dieja dengan nama ei-si dan eitch-pi. Akan tetapi tidak pada ‘VCD’ (Video Compact Disc) dan ‘PC’ (Personal Computer), karena kita menyepel vi-si-di dan pi-si. Konyolnya, ‘Media Nusantara Citra’ (MNC), dibaca dengan mengejanya menjadi em-en-si, bukan em-en-ce. Kemudian yang paling menyedihkan, justru yang menghargai budaya serta Bahasa Indonesia adalah orang asing. Mungkin kita sudah bosan mendengar bagaimana bertaburnya kelompok musik gamelan Jawa di Amerika. Di daratan Eropa, beberapa konservatori musik malah menyediakan jurusan musik karawitan atau gamelan bali. Tengoklah yang terdekat, misalnya di Erasmus Huis, sebuah pusat budaya Belanda di Kuningan, Jakarta Selatan. Dalam program bulanan kegiatan yang dicetak di atas brosur, Bahasa Indonesia-lah yang didahulukan, kemudian baru disusul dengan bahasa Belanda kemudian Inggris. Bila ada pementasan pun, buku acara, bahkan kata sambutannya pun – walau terbata-bata – mendahulukan bahasa Indonesia. Gilanya, hal ini justru terbalik seratus delapan puluh derajat bila artis Indonesia yang tampil.
Memang, bahasa yang hidup merupakan bahasa yang dinamis dan terus dirusak. Tidak seperti bahasa yang sudah mati seperti Bahasa Latin serta bahasa-bahasa lainnya. Namun dalam konteks ini, sama sekali tidak menandakan bahwa masyarakat Indonesia sedang mengembangkan bahasanya secara sadar. Sebaliknya, masyarakat kita sekarang ini tidak mempunyai kemampuan untuk mengenali fenomena budaya yang mengrogoti identitas bangsa. Tidak mampu mengatasi ego sendiri terhadap budaya asing yang datang. Hal ini seperti orang kampung yang merias berlebihan dengan segala pernak-pernik kota sepulangnya ke kampung halaman, dan sesampainya dikampung halaman ia tidak tahu harus melakukan apa dengan riasannya tersebut. Bangsa yang persoalan budaya-nya dianggap sepele bukan Indonesia sendiri (yaa..setidaknya kita memiliki kawan seperjuangan). Bangsa tersebut adalah Bangsa Romawi. Secara militer Romawi memang menjajah Yunani, tapi dalam hal kultural, Yunani-lah yang menjajah. Kalau kita, militer dijajah, budaya dijajah, ekonomi juga dijajah. Lalu apa yang bisa membuat bangsa ini tidak terjajah? Suatu pertanyaan yang riskan sekali untuk dijawab secara rasional. Seharusnya kita tersinggung dengan pernyataan seperti ini.
Memang banyak bagian-bagian perusahaan yang memiliki istilah-istilah asing, seperti meeting, outing, order, customer, owner, break event point, part time, office boy. Kita beralih ke bidang lain. Dalam pemerintahan, kebanggaan meminjam istilah berbahasa Inggris juga sangat mengenaskan – kalau tidak mau disebut mengesalkan atau memuakkan. Tampak sekali kalau para pejabat kewalahan untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia sepenuhnya, sehingga merasa perlu meminjam istilah asing. Lihatlah istilah seperti impeachment, smart card, voting, sampai yang paling tolol dan tidak masuk diakal yaitu, Busway. Entah, hal apa yang menelanjangi identitas kebangsaan kita seperti ini. Mengapa kata-kata asing sangat bertaburan bebas dalam percakapan masyarakat sehari-hari? Bahasa Indonesia sepertinya tidak mampu bersolek dengan anggun bila tidak menggandeng Bahasa Inggris. Orang paling bodoh sekali pun diatur gaya berbahasanya agar fasih mengucapkan kata tengkyu, sori, serprais, sekuriti, syoping, yang merupakan suatu syarat bagi penduduk berwawasan global, meskipun pengetahuan serta nalarnya tidak diajak mengglobal.
Seperti tidak mau ketinggalan zaman – dan ini yang paling menyakitkan – institusi publik yang seharusnya mendidik masyarakat, justru melayani kekeliruan berbahasa tersebut. Kita lihat bagaimana sekolah-sekolah berbangga dengan mengganti namanya dengan bahasa Inggris. Universitas mengiklankan dirinya di media dengan istilah Inggris seperti admission, free laptop, the leading university, faculty of management, dan seterusnya. Padahal target pemasarannya adalah orang-orang yang sehari-hari Berbahasa Indonesia, yang bahkan sebagian dari mereka justru tidak mengerti Bahasa Inggris. Media cetak maupun elektronik juga melayani semua kekenesan ini. Simak saja kata-kata yang silih berganti di setiap halaman Koran didepan mata kita. Ada Today Dialogues, Woman of the Year, Sport, Headline News, dan sebagainya. Pada Koran SINDO contohnya, sebuah media massa nasional, yang notabenya adalah sebuah media yang turut bertanggungjawab terhadap budaya berbahasa, justru melakukan hal tersebut. Coba periksa koran tersebut pada tiap edisinya. Di halaman depan, mata pembaca sudah dihadang dengan rubrik ‘news’ dan ‘quote of the day’. Usaha meng-inggriskan ini belum usai, karena disusul di lembar-lembar berikutnya: rubrik ‘financial revolution’-nya Tung Desem Waringin, rubrik ‘people’, rubrik ‘fashion’, rubrik ‘food’, rubrik ‘rundown’, atau cap ‘special report’ pada artikel tertentu. Jangan tersenyum dulu, karena bukan saja SINDO, koran-koran lainnya pun tak luput dari gaya-gayaan berbahasa ini. Mau contoh lain? Tidak usah pergi jauh-jauh, karena cukup sambil duduk sambil membaca halaman ini, bayangkanlah segala sesuatu di sekitar anda seperti, merek permen, keterangan dalam bungkus mie instan, nama restoran, keterangan dalam gedung (exit, toilet, emergency), dan seterusnya, dan sebagainya, yang kalau dituliskan semua, artikel kali ini hanya akan memuat daftar ‘dosa’ tersebut, yang justru tentunya akan memanjangkan rasa jengkel kita.
Kemudian, apakah akan menjadi sehebat Inggris atau Amerika-kah bangsa ini ketika berhasil mengadopsi bahasa-bahasa mereka? Apakah dengan serta merta ekonomi negara menjadi segemilang mereka? Apakah dengan begitu bangsa ini terlihat cerdas karena berhasil menyamakan diri dengan bangsa Barat? Sampai sebegitu malunyakah kita terhadap bahasa Indonesia sehingga pada kata ‘peralatan kantor’ perlu ditemani kata dalam kurung ‘stationery’, ‘nyata’ ditemani kata dalam kurung ‘real’, atau ‘kekuatan’ yang ditemani ‘power’? Seakan mata kita lebih karib dengan kata di dalam kurung ketimbang kata dalam Bahasa Indonesia-nya. Masih cukup sehatkah pemikiran kita ketika menertawakan seorang artis muda yang ber-Inggris ria sambil mengucapkan kata, “hujan..beychek..ojhek”, yang padahal adalah cermin dari ketidakberpribadian diri kita sendiri? Atau celakanya, latah pun kalau bisa dibuat-buat agar yang keluar secara spontan adalah kata, ‘oh my god’, ‘monkey’, ‘shit’, atau ‘fuck you’. Pada kasus lain kita temukan bagaimana sikap Inggris ini tidak diimbangi dengan pengetahuan yang memadai serta memupuni. Contoh paling mencegangkan, juga paling tolol, ada pada istilah ‘busway’ yang tidak mengindahkan aturan bahasa, terlebih logika. Mana ada frase, “ke Blok M naik ‘jalanan bis’ sangat nyaman”. Sungguh menyedihkan memang.
Coba perhatikan, bagaimana kita melafal ‘AC’ sebagai Air Conditioner dan’HP’ sebagai Hand Phone. Bukankah kita melogatkan a-se untuk ‘AC’ dan ha-pe untuk ‘HP’? – padahal kalau kita sok Inggris layaklah dieja dengan nama ei-si dan eitch-pi. Akan tetapi tidak pada ‘VCD’ (Video Compact Disc) dan ‘PC’ (Personal Computer), karena kita menyepel vi-si-di dan pi-si. Konyolnya, ‘Media Nusantara Citra’ (MNC), dibaca dengan mengejanya menjadi em-en-si, bukan em-en-ce. Kemudian yang paling menyedihkan, justru yang menghargai budaya serta Bahasa Indonesia adalah orang asing. Mungkin kita sudah bosan mendengar bagaimana bertaburnya kelompok musik gamelan Jawa di Amerika. Di daratan Eropa, beberapa konservatori musik malah menyediakan jurusan musik karawitan atau gamelan bali. Tengoklah yang terdekat, misalnya di Erasmus Huis, sebuah pusat budaya Belanda di Kuningan, Jakarta Selatan. Dalam program bulanan kegiatan yang dicetak di atas brosur, Bahasa Indonesia-lah yang didahulukan, kemudian baru disusul dengan bahasa Belanda kemudian Inggris. Bila ada pementasan pun, buku acara, bahkan kata sambutannya pun – walau terbata-bata – mendahulukan bahasa Indonesia. Gilanya, hal ini justru terbalik seratus delapan puluh derajat bila artis Indonesia yang tampil.
Memang, bahasa yang hidup merupakan bahasa yang dinamis dan terus dirusak. Tidak seperti bahasa yang sudah mati seperti Bahasa Latin serta bahasa-bahasa lainnya. Namun dalam konteks ini, sama sekali tidak menandakan bahwa masyarakat Indonesia sedang mengembangkan bahasanya secara sadar. Sebaliknya, masyarakat kita sekarang ini tidak mempunyai kemampuan untuk mengenali fenomena budaya yang mengrogoti identitas bangsa. Tidak mampu mengatasi ego sendiri terhadap budaya asing yang datang. Hal ini seperti orang kampung yang merias berlebihan dengan segala pernak-pernik kota sepulangnya ke kampung halaman, dan sesampainya dikampung halaman ia tidak tahu harus melakukan apa dengan riasannya tersebut. Bangsa yang persoalan budaya-nya dianggap sepele bukan Indonesia sendiri (yaa..setidaknya kita memiliki kawan seperjuangan). Bangsa tersebut adalah Bangsa Romawi. Secara militer Romawi memang menjajah Yunani, tapi dalam hal kultural, Yunani-lah yang menjajah. Kalau kita, militer dijajah, budaya dijajah, ekonomi juga dijajah. Lalu apa yang bisa membuat bangsa ini tidak terjajah? Suatu pertanyaan yang riskan sekali untuk dijawab secara rasional. Seharusnya kita tersinggung dengan pernyataan seperti ini.






0 komentar:
Posting Komentar