Antara Rasa dan Filosofi Kopi, Aku dan Kehidupan

Mungkin tidak semua orang menyukai kopi dan bertanya apa sih nikmatnya meminum kopi? Toh ini hanyalah sekedar minuman biasa. Paling- paling rasanya pahit dan kalau kebanyakan akan membuat kita sulit tidur, bikin jantung berdebar, itu saja. Tetapi jangan salah sangka dulu. Memang benar jika kopi hanyalah sejenis minuman. Namun itulah uniknya kopi. Dibalik rasanya yang pahit dan warnanya yang hitam kelam, segelas kopi mampu memberikan arti dan juga menciptakan suasana yang berbeda saat mengobrol dengan orang lain.

Secangkir kopi dapat berfungsi sebagai penyatu sosial masyarakat. Di warung kecil pinggir jalan atau di kafe mewah, orang-orang dari berbagai lapisan berkumpul jadi satu sambil menikmati secangkir kopi. Setiap orang menikmati kopi dengan cara yang berbeda. Ada yang menyukai kopi susu, kopi tubruk, kopi hitam murni, pahit, manis, panas ataupun dingin. Semua tergantung pada selera masing- masing. Pandangan tentang nilai-nilai dalam secangkir kopi bisa dibaca disini (http://www.radhitisme.com/2016/06/nilai-sosiologis-secangkir-kopi.html?m=1)

Dari warnanya yang hitam dan rasanya yang pait, kopi seperti diibaratkan hidup yang secara kasat mata mengerikan dan suram ‘paitnya hidup. Pandangan itu akan dibayar dengan kenikmatan kopi saat kopi diseduh pakai air hangat dan dicampur dengan gula. Di sini kopi di perbandingkan dengan kenikmatan hidup yang selau bersembunyi di sisi lain paitnya hidup. Seperti musibah yang selalu diberengi dengan hikmah yang melekatinya, seperti masalah yang selalu datang beserta solusinya.

Hidup yang bagaikan kopi adalah sebuah kewajaran. Sebanyak apapun gula yang kita berikan, tidak akan pernah menghilangkan rasa pahit yang melekat dalam kopi. Begitupun kehidupan, sejauh-jauhnya kita menghindar masalah, maka masalah akan selalu membayangi dalam pelarian. Hidup adalah masalah, oleh karenanya, masalah adalah tantangan hidup untuk dihadapi. Menghadapi masalah itu sebuah penghargaan atas hidup dalam sebuah pilihan dan kehendak besar yang melekatkan tanggung jawab sebagai insan. Itulah syukur atas nikmat dan karunia dalam bentuknya yang tidak kita tawar-tawar. Hadapi semuanya dengan senyuman dan kerja keras. Berdoa, ikhtiar, ikhlas, syukur dan istiqomah, nasehat pak kyai saat kecil di madrasah & pengajian.

Seteguk kopi yang melukiskan tersaji dalam adukan babak kehidupan. Air dan minyak tak pernah menyatu, tetapi menyeduh kopi ditambah gula dibarengi sebiji pisang goreng hangat adalah kenikmatan santap pagi,sore atau malam.Mungkin itulah hidup, di balik ke-tidak menyatunya beberapa orang dan golongan akan dapat menyatu karena ada mediasi dengan kejernihan kepala dan akal fikir yang sehat. Sembari menekan egosentris dengan qolbu dan akal atas potensi diri sebagai makluk teristimewa yang menjadi puncak ciptaan atas sang Khaliq.

Hidup ini indah, seindah Tuhan menciptakan keharmonisan alam. Semuanya berjalan dengan keteraturan. Semuanya saling memberikan kebermanfaatan. Dan sebaik-baiknya kita sebagai makhluk pun demikian adanya. Menjadi orang baik adalah ketika bermanfaat untuk sesama. Maka memberi kerugian kepada sesama adalah memberi kerugian dalam keutuhan hidup. Maka sudah sepantasnya pula kita memilih pada sesuatu kebenaran yang member kebermanfaatan.

Ah secangkir kopi tak terasa telah habis dalam tegukan kenikmatan. Rasanya mencair dibarengi lembaran kertas putih yang terukir dalam nada- nada kata oleh goresan tinta proses. Semoga akan menjadi album menyambut hari meraih mimpi.