![]() |
| Sumber: tribunnews.com |
Namun faktanya, dalam banyak kasus, cita ideal Pemilu tereduksi sedemikian rupa sehingga hanya menjadi ajang para konsultan politik untuk memoles citra para kandidat yang membayarnya. Para konsultan politik itu ibarat staff marketing perusahaan pasta gigi dalam menjual produknya. Hal inilah yang menjadi sorotan tajam Noam Chomsky dalam sebuah artikel pendeknya berjudul Elections Run by Same Guys Who Sell Toothpaste. Dalam artikel itu, Chomsky (2005) menulis :
“The
elections are run by the same guys who sell toothpaste. They show you an image
of a sports hero, or a sexy model, or a car going up a sheer cliff or
something, which has nothing to do with the commodity, but it is intended to
delude you into picking this one rather than another one. Same when they run
elections. But they’re assigned that task in order to marginalize the public
and furthermore, people are pretty well aware of it”
(Pemilu dijalankan layaknya orang yang
sedang menjajakan pasta gigi. Mereka menunjukkan gambar seorang olahragawan
terkemuka, atau model seksi, atau mobil yang sedang naik tebing terjal atau
hal-hallain, yang tidak ada hubungannya dengan komoditas yang sedang dijajakannya,
semua itu dimaksudkan untuk menipu Anda
agar memilih produk yang
ditawarkan bukan memilih yang lain. Sama ketika mereka menjalankan pemilu. Tapi (dalam Pemilu – pen) mereka ditugaskan untuk meminggirkan
masyarakat, dan lebih dari itu, rakyat cukup menyadari akan hal itu).
Hal ini dalam pandangan Noam Chomsky, Pemilu tak lebih dari sekedar etalase pencitraan,
atau dalam bahasa lain, Pemilu sebangun dengan proyek industri pencitraan yang
tak jauh beda dengan seorang penjaja pasta gigi, yang merayu dengan segala
macam iklan agar pasta giginya terbeli. Uniknya, iklan-iklan yang dijadikan
media untuk merayu pembeli itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan produk
pasta gigi yang dijual.
Demikianlah,
dalam Pemilu – terutama saat kampanye – terjadi kesenjangan yang cukup jauh
antara otensitas seorang kandidat dengan citra yang ditampilkannya. Seorang
yang dalam kehidupan sehari-harinya korup, misalnya, tiba-tiba saat kampanye
dia mencitrakan diri sebagai orang yang jujur dan pembela keadilan.
Sebaliknya akibat praktik negative
campaign, black campaign, dan smear campaign; orang yang secara otentik baik
dan mempunyai kapasitas dapat dicitrakan sebagai orang berkepribadian buruk. Di
sini, Chomsky mencandra bahwa kampanye dalam Pemilu tak lebih dari usaha untuk
merusak demokrasi. Tidak ada yang otentik dalam setiap kampanye, semua hanya
berisi manipulasi untuk merebut suara konstituen. Pun, Pemilu hanya menjadi ajang
segelintir elit untuk merebut kekuasaan. Kritik tajam Chomsky (2005) terhadap
praktik kampanye dalam Pemilu itu tertuang dalam pernyataan berikut :
“For
many years, election campaigns here have been run by the public relations
industry and each time it’s with increasing sophistication. Quite naturally,
the industry uses the same technique to sell candidates that it uses to sell
toothpaste or lifestyle drugs. The point is to undermine markets by projecting
imagery to delude and suppressing information – and similarly, to undermine
democracy by the same method”
(Selama
bertahun-tahun, kampanye pemilu
dijalankan oleh industri Public Relation (PR)yang seiringberjalannya
waktu semakin meningkat kecanggihannya. Secara
alami, industri PR menggunakan
teknik yang sama dalam mempromosikan seorang
kandidatsepertiyang digunakanpenjual pasta gigi atau obat-obatan gaya
hidup. Intinya, hal ini dilakukan untuk merusak pasar dengan memproyeksikan
citra yang menipu dan membatasi
informasi, dan di saat bersamaan, merusak demokrasi dengan metode yang sama)
Praktik
industri public relation dalam
kampanye itu secara signifikan menggerus nilai-nilai dan prinsip demokrasi.
Pemilu – dengan kampanye didalamnya – penuh dengan ilusi pencitraan yang tidak
otentik. Oleh karena itu, adalah wajar jika pasca Pemilu, suara-suara
kekecewaan kerap muncul atas perilaku buruk pemimpin yang telah dipilih melalui
mekanisme Pemilu. Figur yang selama kampanye tampil sangat memukau dan memikat,
tetapi saat berkuasa dia ternyata justru jauh dari harapan.
Memperkuat Posisi Tawar Masyarakat Sipil
Dari uraian di atas menunjukkan bahwa betapaun pemilu telah dijalankan secara langsung, bebas dan berkala; bukan berarti nilai-nilai dan prinsip demokrasi akan berjalan dengan sendirinya. Justru sebaliknya, Pemilu sanggup menjadi ajang untuk merusak nilai-nilai dan prinsip demokrasi. Tidak ada jaminan bahwa Pemilu bisa menghasilkan pemimpin yang kredibel dan bekerja penuh untuk kepentingan rakyat. Banyak kasus menunjukkan bahwa figur-figur yang terpilih melalui mekanisme pemilu seringkali justru lebih menghamba pada kepentingan korporasi ketimbang kepentingan rakyat.
Memperkuat Posisi Tawar Masyarakat Sipil
Dari uraian di atas menunjukkan bahwa betapaun pemilu telah dijalankan secara langsung, bebas dan berkala; bukan berarti nilai-nilai dan prinsip demokrasi akan berjalan dengan sendirinya. Justru sebaliknya, Pemilu sanggup menjadi ajang untuk merusak nilai-nilai dan prinsip demokrasi. Tidak ada jaminan bahwa Pemilu bisa menghasilkan pemimpin yang kredibel dan bekerja penuh untuk kepentingan rakyat. Banyak kasus menunjukkan bahwa figur-figur yang terpilih melalui mekanisme pemilu seringkali justru lebih menghamba pada kepentingan korporasi ketimbang kepentingan rakyat.
Kita
harus belajar untuk tidak menaruh harapan berlebihan terhadap hasil Pemilu.
Figur yang tampak baik atau dianggap baik pada masa kampanye belum tentu sesuai
dengan harapan. Oleh karena itu, kerja konkret pasca Pemilu adalah memperkuat
posisi tawar masyarakat sipil untuk terus mengawal dan mengontrol kinerja sang
figur terpilih. Esensi dari demokrasi bukan terletak pada gegap-gempita
kampanye, tetapi pada kapasitas masyarakat sipil dalam menjalankan fungsinya
sebagai mitra strategis pemerintah atau Negara.
Vaclav
Havel menguraikan bahwa demokrasi sejati tegak di atas pondasi masyarakat sipil
yang kuat. Tanpa itu, rumah demokrasi menjadi sangat rapuh, digerogoti banyak
rayap. Cita ideal demokrasi untuk menciptakan masyarakat yang berkeadilan
sosial menjauh dari harapan. Penguatan kapasitas masyarakat sipil inilah yang
seharus dilakukan secara lebih gegap-gempita daripada kampanye dalam Pemilu.
Posisi masyarakat sipil harus setara dengan masyarakat politik (Negara) dan
juga masyarakat bisnis (korporasi).
Posisi
masyarakat sipil tidak boleh berada di bawah kuasa Negara dan korporasi. Jika
hal ini terjadi maka pemilu dan kampanye sama sekal tak berguna. Hanya menjadi
ritual yang merusak demokrasi. Posisi
masyarakat sipil tidak boleh berada di bawah kuasa Negara dan korporasi.
Singkatnya, pasca gegap-gempita Pemilu, kerja berat yang menunggu di depan mata
adalah memperkuat posisi masyarakat sipil agar tidak tertindas oleh kuasa
negara dan korporasi.






