Yap...Akhirnya kali ini sempat menulis lagi di blog ini.
Kalimat pertama buat membuka tulisan saat ini,
"Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban Ya Syahr ash-Shiam"
Itulah senandung Ramahdan yang dinyanyikan oleh Hadad Alwi bersama para penyanyi ciliknya dengan riang gembira. Rasa gembira ini tentunya bukan hanya milik mereka seorang, namun juga seluruh umat Islam di seluruh dunia yang juga merasa gembira dengan kehadiran bulan Ramadhan; bulan puasa; bulan yang meletupkan sebuah euforia bagi umat Islam meskipun hanya sementara.
Masjid juga kembali terisi penuh dengan ritual tarawih di malam hari, sms ucapan selamat datang Ramadhan mulai di kirimkan. Para Ustadz juga sudah mulai sibuk dengan padatnya acara ceramah. Mulai dari kuliah subuh, kultum berbuka puasa, hingga menjadi imam tarawih dan mempimpin i'tikaf. Mereka menyambut umat yang selama Ramadhan menjadi luar biasa dahaga dengan tawjih serta taushiyah para ustadz.
Ya kesenangan itu bukan hanya milik ustadz semata, tapi juga para pedagang, pemilik pusat-pusat perbelanjaan, dan hampir semua pengusaha juga bergairah dengan kehadiran Ramadhan. Seolah menyambut janji Nabi Muhammad SAW, bahwa bulan Ramadhan adalah 'bulan yang ditambahkan rezeki' oleh Allah. Para pengusaha sudah hafal betul, pada bulan Ramadhan pengeluaran rumah tangga masyarakat juga meningkat. Berapapun harga barang ditawarkan , akan dibeli. Hal itu berarti tambahan keuntungan bagi mereka.
Pemerintah juga ikut-ikutan sigap menyambut Ramadhan, menyerukan supaya tempat-tempat hiburan di tutup, merazia dan memusnahkan miras, narkoba dan juga petasan.Tidak lupa juga mereka menyerukan kepada para alim ulama untuk melakukan tarawih keliling atau buka bersama masyarakat. Ya seolah menunjukkan sikap bahwa mereka juga gemar beribadah dan bisa dekat dengan masyarakat kecil.
Pada penghujung Ramadhan, menjelang Idul Fitri, umat pun bersemangat untuk pulang kampung. Ya istilahnya kalau biasa di bilang itu MUDIK. Itu salah satu ritual tahunan umat Islam, khususnya di Indonesia, bertemu orang tua, sanak saudara, bermaaf-maafan. Kadang pula tetesan air mata menyertai meskipun lebih sering tertutup dengan berlimpah ruahnya hidangan makanan (dari snack biasa sampai makanan 'berat') dan gemerlapnya pakaian baru. Ramadhan sepertinya merupakan sebuah keajaiban, bulan ini mampu merubah suasana sekular yang tidak tertata menjadi sebuah atmosfer keimanan. Namun, sayangnya keindahan ini serba sesaat
YANG SAKRAL DAN PROFAN
Sakral dan profan tidak bisa terlepas dari diri manusia. Karena manusia adalah makhluk sosial yang serba berubah dan suka mencoba sesuatu hal yang belum diketahuinya yang biasa juga disebut dengan trial and error atau mencoba-coba sesuatu. Rasa ingin tahu manusia sampai kepada sesuatu hal yang sakral atau yang dia anggap sakral. Ketika sesuatu itu di luar kemampuannya dan mereka tidak sanggup menembusnya, lalu mereka anggap suci, maka mereka anggaplah itu sesuatu yang sakral, namun apabila masih dapat dijangkaunya, dia menganggap sesuatu itu biasa-biasa saja. Sikap sakral dan profan ini terus menjalar dalam kehidupan manusia, sehingga pemahaman tentang sesuatu yang disakralkan itu menyimpang dari ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw. Hal ini terjadi disebabkan mereka yang beragama ardhi (bumi) masuk ke dalam agama Islam, namun ajaran-ajaran atai ritual-ritual yang ada di dalam agama mereka terikut dalam praktek ibadah mereka sehari-hari, ditambah lagi dengan pengetahuan umat Islam yang kurang tentang pemahaman akidah sehingga praktek-praketk adat yang salah yang berlaku dikalangan mereka, mereka masukkan dalam praktek ibadah mereka.
Saat ini sepertinya umat Islam memang masih berkubang di dasar jurang sekularisme. Di dalamnya agama tidak di'bunuh', namun hanya menjadi asesoris kehidupan. Sebagai sebuah asesoris agama dapat disandingkan dengan apa saja, siapa saja dan kapan saja. Berislam nyaris penuh dengan kepura-puraan dan kepalsuan. Bahkan agama-pun dapat dikomersialisasikan dalam aneka tayangan televisi di bulan Ramadhan.
Selama bulan Ramadhan ini, pemilik stasiun televisi merasa sah saja menyandingkan keilmuan ustadz dengan para selebritis dalam aneka acara selama Ramadhan. Para Ustadznya pun tidak merasa luntur kada 'iffah dan muru'ahnya. Sebagian Ustadz mengungkapkan bahwa berdakwah adalah untuk siapa saja dan dimana saja. Namun, yang terjadi, para Ustadz ini justru sudah menjadi tontonan ketimbang tuntunan bagi umat,menjadi bagian dari entertainment komersial dalam sebuah industri pertelevisian yang besifat kapitalistik.
Demi keuntungan pula, para pemilik stasiun televisi memunculkan para seleb bahkan band kesehariannya jauh dari kesalihan sebagai ikon dari acara Ramadhan. Inikah bentuk memuliakan bulan agung dan penuh barakah ? Semua sepertinya hanya semata mereguk keuntungan sebesar-besarnya di bulan Ramadhan.
Banyak orang yang menempatkan Ramadhan hanya sebagai kegiatan ibadah yang terpisah dari kehidupan. Nafsu makan dan minum mungkin dikekang. Namun berbagai larangan Allah SWT mungkin pula tetap dilaksanakan. Ada sebagian orang yang tetap merasa malu makan ataupun minum di siang hari selama Ramadhan. Mereka berusaha istiqamah menahan lapar dan dahaga hingga waktu berbuka. Namun, kaum prianya tidak menahan diri dari memandang aurat wanita, serta wanitanya juga tidak menahan diri dengan menutup aurat mereka menggunakan busana Muslimah.
Di mimbar-mimbar taklim pada bulan Ramadhan sering disampaikan bahwa rasa lapar dan haus yang dirasakan mereka yang berpuasa adalah sebagai bentuk kesetiakawanan sosial. Seruan ini tidak lagi sanggup menghentikan mental konsumtif dan hedonis umat pada hari ini. Si lemah tetap kelaparan dan 'telanjang' pada bulan Ramadhan. Si kaya yang telah terasuki hedonisme tetap bergaya hidup boros. Makanan berlimpah-ruah di rumah-rumah mereka dan tempat makan di berbagai mall tetap ramai, meski menawarkan menu dengan tarif yang aduhai, yang mungkin cukup untuk makan si fakir selama 2-3 hari.
Saat hari-hari menjelang lebaran tiba kembali mall dan pasar-pasar dibanjiri para pengunjung. Alih-alih mengencangkan ikat pinggang, menjauhi keluarga dan beritikaf, umat lebih berkonsentrasi memburu tiket mudik, pakaian untuk berlebaran dan asesoris rumah tangga. Hal justru cukup membingungkan saat lebaran tiba, justru kawasan wisata juga ramai diserbu warga. Pantai, tempat hiburan hingga kebun binatang didatangi warga. Duhai, tidak ada lagikah saudara-saudara ataupun tetangga yang layak untuk dikunjungi serta dimintai maafnya sehingga merasa lebih baik mengunjungi aneka satwa di kebun binatang ?!.
Puasa Bagi Para Elite Penguasa
Yap, bagi para elit penguasa,, Ramadhan sepertinya menjadi sebuah wahana mempertahankan eksistensi dan menaikkan popularitas dengan mendekatkan diri kepada Rakyat (Mungkin mereka berfikir karena 'Tuhan' mereka rakyat. Soalnya yang memilih mereka buat duduk di kursi legislatif itu kan rakyat..hehe). Aneka kegiatan pun mereka gelar, buka puasa bersama, tarawih keliling, shalat subuh keliling sampai pembagian zakat dan Shalat Idul Fitri bersama para konstituen mereka.
Namun semua yang terjadi itu nyaris bersifat profan (duniawi). Para penguasa dari pusat sampai daerah lupa bahwa membahagiakan masyarakat bukanlah dengan sekedar shalat berjamaah atau buka puasa bersama dengan mereka, namun melakukan pengaturan urusan rakyat sepenuh hati dan sekuat tenaga. Apalah arti buka puasa bila pada hari berikutnya rakyat dibiarkan kelaparan ??!
Pemerintah boleh sesumbar bahwa stok beras nasional cukup untuk beberapa bulan ke depan. Namun, pernahkah terpikir semua rakyat dapat makan nasi setiap hari? Bukankah realitanya mereka harus membelinya dengan harga yang terus-menerus naik setiap harinya, apalagi menjelang lebaran?!
Begitu pula stok sembako yang berlimpah tidak ada artinya apabila hanya segelintir orang yang sanggup membelinya. Di sisi lain, para penguasanya sudah merasa puas dengan membagi zakat kepada warga. Itu pun warga harus berebut dan terinjak-injak hanya untuk mendapatkan zakat yang jumlahnya tidak seberapa. Pola pikir inilah yang justru mengajarkan pentingnya produksi dan bukan distribusi. Yang terpenting adalah stok tersedia, persoalan kemampuan membeli diserahkan kepada hukum pasar tanpa perlu campur tangan penguasa.
Setiap lebaran tiba rakyat juga dibiarkan berdesakan dalam transportasi massal yang harga tiketnya jadi berlipat tetapi pelayanannya tidak manusiawi, jauh dari rasa aman dan nyaman. Di kereta ekonomi orang duduk dan berdiri berdesakan hingga di lorong gerbong, bahkan di dalam toilet kereta.
Setelah lebaran, kembali kota-kota besar khususnya Ibukota negara ini akan dibanjiri para pendatang baru. Mereka adalah warga pedesaan yang ingin mengadu nasib setelah hidup mereka menjadi kian susah di daerah asalnya. Hal ini berarti tambahan persoalan di berbagai kota seperti kepadatan penduduk, kemacetan lalu lintas, pengangguran dan kriminalitas.
Terjadinya urbanisasi rutin setiap tahun pasca lebaran adalah gambaran kegagalan dan ketidakseriusan penguasa meningkatkan taraf hidup masyarakat di perkampungan. Banyak daerah yang tetap terbelakang bak sarana maupun prasarananya. Di beberapa daerah dekat perkotaan seperti di sekitar Kabupaten Bogor saja masih banyak warga yang buta huruf. Mengutip data Kemendiknas tahun 2010, masih terdapat 11,7 juta anak usia sekolah yang belum tersentuh pendidikan, dan diperkirakan 4,7 juta jiwa siswa SD dan SMP yang tergolong miskin terancam putus sekolah (Republika, 26/7).
Pada Ramadhan ini kita juga masih melihat sejumlah penguasa kaum Muslim yang terus membantai rakyatnya sendiri. Rezim Suriah, Libya, Mesir, Pakistan dan Afghanistan masih menjalankan operasi militer untuk menankapi dan membunuh rakyat mereka sendiri.
Puasa adalah bagian dai serangkaian ketundukkan total kepada Allah SWT, bukan sesuatu yang terpisah dari rangkaian ketaatan yang lain. Memisahkan puasa dari hukum-hukum Allah SWT yang lain adalah sebuah perbuatan tercela. Mereka yang berpuasa dengan sepenuh hati dan berusaha menaati Allah secara harfiah pasti akan merintih menyaksikan umat hari ini masih terbelenggu dengan hawa nafsu, di dekap oleh sekularisme dan demokrasi, tetapi mereka merasa sudah menunaikan kewajiban Allah dengan sebaik-baiknya.
SEKIAN
YANG SAKRAL DAN PROFAN
Sakral dan profan tidak bisa terlepas dari diri manusia. Karena manusia adalah makhluk sosial yang serba berubah dan suka mencoba sesuatu hal yang belum diketahuinya yang biasa juga disebut dengan trial and error atau mencoba-coba sesuatu. Rasa ingin tahu manusia sampai kepada sesuatu hal yang sakral atau yang dia anggap sakral. Ketika sesuatu itu di luar kemampuannya dan mereka tidak sanggup menembusnya, lalu mereka anggap suci, maka mereka anggaplah itu sesuatu yang sakral, namun apabila masih dapat dijangkaunya, dia menganggap sesuatu itu biasa-biasa saja. Sikap sakral dan profan ini terus menjalar dalam kehidupan manusia, sehingga pemahaman tentang sesuatu yang disakralkan itu menyimpang dari ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw. Hal ini terjadi disebabkan mereka yang beragama ardhi (bumi) masuk ke dalam agama Islam, namun ajaran-ajaran atai ritual-ritual yang ada di dalam agama mereka terikut dalam praktek ibadah mereka sehari-hari, ditambah lagi dengan pengetahuan umat Islam yang kurang tentang pemahaman akidah sehingga praktek-praketk adat yang salah yang berlaku dikalangan mereka, mereka masukkan dalam praktek ibadah mereka.
Saat ini sepertinya umat Islam memang masih berkubang di dasar jurang sekularisme. Di dalamnya agama tidak di'bunuh', namun hanya menjadi asesoris kehidupan. Sebagai sebuah asesoris agama dapat disandingkan dengan apa saja, siapa saja dan kapan saja. Berislam nyaris penuh dengan kepura-puraan dan kepalsuan. Bahkan agama-pun dapat dikomersialisasikan dalam aneka tayangan televisi di bulan Ramadhan.
Selama bulan Ramadhan ini, pemilik stasiun televisi merasa sah saja menyandingkan keilmuan ustadz dengan para selebritis dalam aneka acara selama Ramadhan. Para Ustadznya pun tidak merasa luntur kada 'iffah dan muru'ahnya. Sebagian Ustadz mengungkapkan bahwa berdakwah adalah untuk siapa saja dan dimana saja. Namun, yang terjadi, para Ustadz ini justru sudah menjadi tontonan ketimbang tuntunan bagi umat,menjadi bagian dari entertainment komersial dalam sebuah industri pertelevisian yang besifat kapitalistik.
Demi keuntungan pula, para pemilik stasiun televisi memunculkan para seleb bahkan band kesehariannya jauh dari kesalihan sebagai ikon dari acara Ramadhan. Inikah bentuk memuliakan bulan agung dan penuh barakah ? Semua sepertinya hanya semata mereguk keuntungan sebesar-besarnya di bulan Ramadhan.
Banyak orang yang menempatkan Ramadhan hanya sebagai kegiatan ibadah yang terpisah dari kehidupan. Nafsu makan dan minum mungkin dikekang. Namun berbagai larangan Allah SWT mungkin pula tetap dilaksanakan. Ada sebagian orang yang tetap merasa malu makan ataupun minum di siang hari selama Ramadhan. Mereka berusaha istiqamah menahan lapar dan dahaga hingga waktu berbuka. Namun, kaum prianya tidak menahan diri dari memandang aurat wanita, serta wanitanya juga tidak menahan diri dengan menutup aurat mereka menggunakan busana Muslimah.
Di mimbar-mimbar taklim pada bulan Ramadhan sering disampaikan bahwa rasa lapar dan haus yang dirasakan mereka yang berpuasa adalah sebagai bentuk kesetiakawanan sosial. Seruan ini tidak lagi sanggup menghentikan mental konsumtif dan hedonis umat pada hari ini. Si lemah tetap kelaparan dan 'telanjang' pada bulan Ramadhan. Si kaya yang telah terasuki hedonisme tetap bergaya hidup boros. Makanan berlimpah-ruah di rumah-rumah mereka dan tempat makan di berbagai mall tetap ramai, meski menawarkan menu dengan tarif yang aduhai, yang mungkin cukup untuk makan si fakir selama 2-3 hari.
Saat hari-hari menjelang lebaran tiba kembali mall dan pasar-pasar dibanjiri para pengunjung. Alih-alih mengencangkan ikat pinggang, menjauhi keluarga dan beritikaf, umat lebih berkonsentrasi memburu tiket mudik, pakaian untuk berlebaran dan asesoris rumah tangga. Hal justru cukup membingungkan saat lebaran tiba, justru kawasan wisata juga ramai diserbu warga. Pantai, tempat hiburan hingga kebun binatang didatangi warga. Duhai, tidak ada lagikah saudara-saudara ataupun tetangga yang layak untuk dikunjungi serta dimintai maafnya sehingga merasa lebih baik mengunjungi aneka satwa di kebun binatang ?!.
Puasa Bagi Para Elite Penguasa
Yap, bagi para elit penguasa,, Ramadhan sepertinya menjadi sebuah wahana mempertahankan eksistensi dan menaikkan popularitas dengan mendekatkan diri kepada Rakyat (Mungkin mereka berfikir karena 'Tuhan' mereka rakyat. Soalnya yang memilih mereka buat duduk di kursi legislatif itu kan rakyat..hehe). Aneka kegiatan pun mereka gelar, buka puasa bersama, tarawih keliling, shalat subuh keliling sampai pembagian zakat dan Shalat Idul Fitri bersama para konstituen mereka.
Namun semua yang terjadi itu nyaris bersifat profan (duniawi). Para penguasa dari pusat sampai daerah lupa bahwa membahagiakan masyarakat bukanlah dengan sekedar shalat berjamaah atau buka puasa bersama dengan mereka, namun melakukan pengaturan urusan rakyat sepenuh hati dan sekuat tenaga. Apalah arti buka puasa bila pada hari berikutnya rakyat dibiarkan kelaparan ??!
Pemerintah boleh sesumbar bahwa stok beras nasional cukup untuk beberapa bulan ke depan. Namun, pernahkah terpikir semua rakyat dapat makan nasi setiap hari? Bukankah realitanya mereka harus membelinya dengan harga yang terus-menerus naik setiap harinya, apalagi menjelang lebaran?!
Begitu pula stok sembako yang berlimpah tidak ada artinya apabila hanya segelintir orang yang sanggup membelinya. Di sisi lain, para penguasanya sudah merasa puas dengan membagi zakat kepada warga. Itu pun warga harus berebut dan terinjak-injak hanya untuk mendapatkan zakat yang jumlahnya tidak seberapa. Pola pikir inilah yang justru mengajarkan pentingnya produksi dan bukan distribusi. Yang terpenting adalah stok tersedia, persoalan kemampuan membeli diserahkan kepada hukum pasar tanpa perlu campur tangan penguasa.
Setiap lebaran tiba rakyat juga dibiarkan berdesakan dalam transportasi massal yang harga tiketnya jadi berlipat tetapi pelayanannya tidak manusiawi, jauh dari rasa aman dan nyaman. Di kereta ekonomi orang duduk dan berdiri berdesakan hingga di lorong gerbong, bahkan di dalam toilet kereta.
Setelah lebaran, kembali kota-kota besar khususnya Ibukota negara ini akan dibanjiri para pendatang baru. Mereka adalah warga pedesaan yang ingin mengadu nasib setelah hidup mereka menjadi kian susah di daerah asalnya. Hal ini berarti tambahan persoalan di berbagai kota seperti kepadatan penduduk, kemacetan lalu lintas, pengangguran dan kriminalitas.
Terjadinya urbanisasi rutin setiap tahun pasca lebaran adalah gambaran kegagalan dan ketidakseriusan penguasa meningkatkan taraf hidup masyarakat di perkampungan. Banyak daerah yang tetap terbelakang bak sarana maupun prasarananya. Di beberapa daerah dekat perkotaan seperti di sekitar Kabupaten Bogor saja masih banyak warga yang buta huruf. Mengutip data Kemendiknas tahun 2010, masih terdapat 11,7 juta anak usia sekolah yang belum tersentuh pendidikan, dan diperkirakan 4,7 juta jiwa siswa SD dan SMP yang tergolong miskin terancam putus sekolah (Republika, 26/7).
Pada Ramadhan ini kita juga masih melihat sejumlah penguasa kaum Muslim yang terus membantai rakyatnya sendiri. Rezim Suriah, Libya, Mesir, Pakistan dan Afghanistan masih menjalankan operasi militer untuk menankapi dan membunuh rakyat mereka sendiri.
Puasa adalah bagian dai serangkaian ketundukkan total kepada Allah SWT, bukan sesuatu yang terpisah dari rangkaian ketaatan yang lain. Memisahkan puasa dari hukum-hukum Allah SWT yang lain adalah sebuah perbuatan tercela. Mereka yang berpuasa dengan sepenuh hati dan berusaha menaati Allah secara harfiah pasti akan merintih menyaksikan umat hari ini masih terbelenggu dengan hawa nafsu, di dekap oleh sekularisme dan demokrasi, tetapi mereka merasa sudah menunaikan kewajiban Allah dengan sebaik-baiknya.
SEKIAN





