Bapak/Ibu Presiden yang sangat saya hormati,
Sebagai seorang mahasiswa, saya saat ini seperti layaknya sedang menonton seorang petinju yang sedang tepojok di sudut ring tinju. Ia dipukul ‘straight’ oleh kenaikan-kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), menghindar ke kiri terkena ‘hook’ kanan karena nilai rupiah yang terus melemah, mencoba mundur akan tetapi terkena ‘uppercut’ karena kondisi politik dan budaya yang terkadang justru mengurangi kekuatan bertahan, bahkan kehilangan nafas pada saat pergantian ronde yang disebabkan oleh rangkaian bencana alam yang terus datang menghampiri. Si petinju tersebut tidak akan mungkin keluar dari ring tempat pertandingan, bukan hanya karena ia seseorang yang penuh tanggung jawab serta dibatasi oleh ring konstitusi, akan tetapi ia juga didukung oleh mayoritas penonton yang mengharapkan dia bangkit, menghadapi secara tegar semua pukulan serangan yang pada akhirnya nanti diharapkan dapat meng’knock out’ lawannya.
Bapak/Ibu Presiden yang diharapkan kebijaksanaannya,
Keadaan republik yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA)-nya ini memang seperti layaknya seorang petinju yang sedang terpojok di atas ring, untungnya Allah masih sayang dengan negara yang mayoritas beragama islam ini. Tidak terbayangkan apa yang dapat terjadi jika Pemerintah tidak mampu untuk menyediakan dana subsidi BBM yang ‘meledak’ karena harga minyak mentah yang sangat melonjak tinggi. Suatu hal yang mengagumkan memang di saat terjadi resesi perekonomian dunia, ekonomi kita tetap tumbuh diatas 6 %. Hal ini tentu patut diberi acungan jempol.
Bapak/Ibu Presiden yang sedang berjuang menyelamatkan Ibu Pertiwi,
Sang Petinju, apabila ingin tetap bertahan dan menang, bukan hanya perlu stamina serta kemampuan yang kuat, tetapi ia juga perlu di dukung oleh para pembantunya yang handal, pembantu yang mampu menganalisa serta memprediksi langkah-langkah lawannya, lalu memberikan masukan serangan balik dan pastinya membuat si petinju dapat bertanding dengan baik untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Presiden membutuhkan pembantu yang professional juga yang berkualitas, yang mengerti apa yang harus dia kerjakan, yang objektif, serta mempunyai pengalaman yang cukup dibidang yang dia tempati dan yang pasti yang mau berbakti untuk Republik ini.
Bapak/Ibu Presiden yang diharapkan ketegarannya,
Selama ini, masyarakat serta para elit politik terlanjur memiliki opini bahwa jabatan menteri merupakan jabatan politis atau ‘pembantu’ Presiden. Jika sebagai pembantu, yang penting ‘dekat’ dengan Presiden serta mengerti apa yang diinginkan Presiden. Pada era Orde Lama dan Orde Baru, posisi menteri ini memiliki peran sebagai ‘pelestari’ kekuasaan politik presiden. Menteri sebagai seorang ‘hulu balang’ yang merupakan perpanjangan tangan presiden.
Karena persepsi bahwa menteri adalah jabatan politis tersebut, pada era Presiden Soeharto dikenal menteri-menteri ABS (Asal Bapak Senang). Walaupun kemudian mereka ‘berkhianat’ dengan berteriak “ABS = Asal Bukan Soeharto”. Di era Presiden Abdurrahman Wahid terkenal menteri-menteri yang nasibnya “terlunta-lunta” bahkan di lepas jabatannya oleh presidennya sendiri, sehingga untuk pertama kali – kesan menteri itu bukan “siapa-siapa”, karena dapat terancam setiap hari, sekehendak presiden.
Era Presiden Megawati, nasib menteri sepertinya lebih “powerfull” dibandingkan presiden. Selain karena kabinetnya terbentuk karena gotong-royong, juga merupakan kabinet pelangi hasil kompromi, para menteri kabinet ini berjalan sendiri-sendiri, hampir tanpa komunikasi.
Bapak Presiden yang akan bekerja keras,
Mahasiswa sebagai rakyat biasa tidak bisa menuduh bahwa penurunan nilai tukar rupiah, apalagi kenaikan harga minyak mentah adalah karena para menteri pembantu presiden tidak bekerja dengan baik. Tetapi mahasiswa hanya merasakan bahwa republik ini seperti seorang petinju yang sedang terpojok, yang mungkin terjadi karena para pembantu diluar ring tidak menganalisa kemampuan petinju lawan dengan baik dan tidak mampu memberikan masukkan kapan menyerang serta bertahan dengan double cover atau bahkan kapan bertahan dan berlindung menyender ke tali ring.
Banyak yang berpendapat bahwa apabila mendasarkan pilihan menteri atas popularitas, vokalitas, dan asal partai, maka sepertinya pendekatan aspek kelanggengan kekuasaan menjadi terlihat lebih dominan, dibandingkan mendahulukan kinerja para calon menteri berdasarkan asas professionalitas serta kualitas sebagai figure atau tokoh yang selama ini handal dalam bidangnya masing-masing.
Bapak/Ibu Presiden yang telah dipilih oleh rakyat,
Sebenarnya banyak rakyat yang pantas menjadi menteri, saat Bapak/Ibu akan memilih menteri maka sudah saatnya untuk mempertimbangkan calon-calon menteri yang berasal dari orang-orang yang professional, yang berprestasi dan berdedikasi selama ini, serta telah puluhan tahun bekerja, tentunya dengan kualifikasi yang teruji. Bayangkan saja, biasanya mereka adalah lulusan terbaik dari universitasnya, masuk menjadi pegawai negeri dengan test berjenjang.
Suatu hal yang tidak dapat dibayangkan bila Presiden dan Wakil Presiden dipilih sebagai seorang generalis yang populer karena rakyat, lalu menteri hanyalah jabatan politis, siapa yang menjadi ‘direktur’ negara ini, yang membuat garis besar kebijaksanaan secara terpadu, yang memonitor hasil kerja sehari ari seperti layaknya seorang manager.
Bapak/Ibu Presiden yang akan bekerja menyelamatkan Negara,
Rakyat saat ini mendambakan, menteri kabinet adalah orang-orang yang bekerja keras dengan cerdas, jujur, dan professional, serta mampu mengangkat bangsa ini keluar dari krisis, sadar dan tahu diri akan beratnya amanat yang dipegang, sambil member teladan, tidak mementingkan diri sendiri atau organisasinya, tetapi bekerja untuk rakyat dan negara tercinta.
Semoga Bapak/Ibu yang telah terpilih sebagai presiden dapat melakukan tugas-tugasnya dengan maksimal untuk menghajar balik lawan, duduk memilih pembantu yang tepat untuk memenagkan pertandingan.
Selamat bertugas rakyat menantikan realisasi janji-janji-Mu !!!
Sebagai seorang mahasiswa, saya saat ini seperti layaknya sedang menonton seorang petinju yang sedang tepojok di sudut ring tinju. Ia dipukul ‘straight’ oleh kenaikan-kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), menghindar ke kiri terkena ‘hook’ kanan karena nilai rupiah yang terus melemah, mencoba mundur akan tetapi terkena ‘uppercut’ karena kondisi politik dan budaya yang terkadang justru mengurangi kekuatan bertahan, bahkan kehilangan nafas pada saat pergantian ronde yang disebabkan oleh rangkaian bencana alam yang terus datang menghampiri. Si petinju tersebut tidak akan mungkin keluar dari ring tempat pertandingan, bukan hanya karena ia seseorang yang penuh tanggung jawab serta dibatasi oleh ring konstitusi, akan tetapi ia juga didukung oleh mayoritas penonton yang mengharapkan dia bangkit, menghadapi secara tegar semua pukulan serangan yang pada akhirnya nanti diharapkan dapat meng’knock out’ lawannya.
Bapak/Ibu Presiden yang diharapkan kebijaksanaannya,
Keadaan republik yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA)-nya ini memang seperti layaknya seorang petinju yang sedang terpojok di atas ring, untungnya Allah masih sayang dengan negara yang mayoritas beragama islam ini. Tidak terbayangkan apa yang dapat terjadi jika Pemerintah tidak mampu untuk menyediakan dana subsidi BBM yang ‘meledak’ karena harga minyak mentah yang sangat melonjak tinggi. Suatu hal yang mengagumkan memang di saat terjadi resesi perekonomian dunia, ekonomi kita tetap tumbuh diatas 6 %. Hal ini tentu patut diberi acungan jempol.
Bapak/Ibu Presiden yang sedang berjuang menyelamatkan Ibu Pertiwi,
Sang Petinju, apabila ingin tetap bertahan dan menang, bukan hanya perlu stamina serta kemampuan yang kuat, tetapi ia juga perlu di dukung oleh para pembantunya yang handal, pembantu yang mampu menganalisa serta memprediksi langkah-langkah lawannya, lalu memberikan masukan serangan balik dan pastinya membuat si petinju dapat bertanding dengan baik untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Presiden membutuhkan pembantu yang professional juga yang berkualitas, yang mengerti apa yang harus dia kerjakan, yang objektif, serta mempunyai pengalaman yang cukup dibidang yang dia tempati dan yang pasti yang mau berbakti untuk Republik ini.
Bapak/Ibu Presiden yang diharapkan ketegarannya,
Selama ini, masyarakat serta para elit politik terlanjur memiliki opini bahwa jabatan menteri merupakan jabatan politis atau ‘pembantu’ Presiden. Jika sebagai pembantu, yang penting ‘dekat’ dengan Presiden serta mengerti apa yang diinginkan Presiden. Pada era Orde Lama dan Orde Baru, posisi menteri ini memiliki peran sebagai ‘pelestari’ kekuasaan politik presiden. Menteri sebagai seorang ‘hulu balang’ yang merupakan perpanjangan tangan presiden.
Karena persepsi bahwa menteri adalah jabatan politis tersebut, pada era Presiden Soeharto dikenal menteri-menteri ABS (Asal Bapak Senang). Walaupun kemudian mereka ‘berkhianat’ dengan berteriak “ABS = Asal Bukan Soeharto”. Di era Presiden Abdurrahman Wahid terkenal menteri-menteri yang nasibnya “terlunta-lunta” bahkan di lepas jabatannya oleh presidennya sendiri, sehingga untuk pertama kali – kesan menteri itu bukan “siapa-siapa”, karena dapat terancam setiap hari, sekehendak presiden.
Era Presiden Megawati, nasib menteri sepertinya lebih “powerfull” dibandingkan presiden. Selain karena kabinetnya terbentuk karena gotong-royong, juga merupakan kabinet pelangi hasil kompromi, para menteri kabinet ini berjalan sendiri-sendiri, hampir tanpa komunikasi.
Bapak Presiden yang akan bekerja keras,
Mahasiswa sebagai rakyat biasa tidak bisa menuduh bahwa penurunan nilai tukar rupiah, apalagi kenaikan harga minyak mentah adalah karena para menteri pembantu presiden tidak bekerja dengan baik. Tetapi mahasiswa hanya merasakan bahwa republik ini seperti seorang petinju yang sedang terpojok, yang mungkin terjadi karena para pembantu diluar ring tidak menganalisa kemampuan petinju lawan dengan baik dan tidak mampu memberikan masukkan kapan menyerang serta bertahan dengan double cover atau bahkan kapan bertahan dan berlindung menyender ke tali ring.
Banyak yang berpendapat bahwa apabila mendasarkan pilihan menteri atas popularitas, vokalitas, dan asal partai, maka sepertinya pendekatan aspek kelanggengan kekuasaan menjadi terlihat lebih dominan, dibandingkan mendahulukan kinerja para calon menteri berdasarkan asas professionalitas serta kualitas sebagai figure atau tokoh yang selama ini handal dalam bidangnya masing-masing.
Bapak/Ibu Presiden yang telah dipilih oleh rakyat,
Sebenarnya banyak rakyat yang pantas menjadi menteri, saat Bapak/Ibu akan memilih menteri maka sudah saatnya untuk mempertimbangkan calon-calon menteri yang berasal dari orang-orang yang professional, yang berprestasi dan berdedikasi selama ini, serta telah puluhan tahun bekerja, tentunya dengan kualifikasi yang teruji. Bayangkan saja, biasanya mereka adalah lulusan terbaik dari universitasnya, masuk menjadi pegawai negeri dengan test berjenjang.
Suatu hal yang tidak dapat dibayangkan bila Presiden dan Wakil Presiden dipilih sebagai seorang generalis yang populer karena rakyat, lalu menteri hanyalah jabatan politis, siapa yang menjadi ‘direktur’ negara ini, yang membuat garis besar kebijaksanaan secara terpadu, yang memonitor hasil kerja sehari ari seperti layaknya seorang manager.
Bapak/Ibu Presiden yang akan bekerja menyelamatkan Negara,
Rakyat saat ini mendambakan, menteri kabinet adalah orang-orang yang bekerja keras dengan cerdas, jujur, dan professional, serta mampu mengangkat bangsa ini keluar dari krisis, sadar dan tahu diri akan beratnya amanat yang dipegang, sambil member teladan, tidak mementingkan diri sendiri atau organisasinya, tetapi bekerja untuk rakyat dan negara tercinta.
Semoga Bapak/Ibu yang telah terpilih sebagai presiden dapat melakukan tugas-tugasnya dengan maksimal untuk menghajar balik lawan, duduk memilih pembantu yang tepat untuk memenagkan pertandingan.
Selamat bertugas rakyat menantikan realisasi janji-janji-Mu !!!






0 komentar:
Posting Komentar